Dari Bandung untuk Dunia, Sugianto Nanggolah Tekankan Peran Budaya dalam Diplomasi Perdamaian
Bandung 20 April 2026 — Peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika tidak sekadar menjadi ajang mengenang sejarah, tetapi juga momentum memperkuat peran budaya dalam menjawab tantangan global. Bertempat di Hotel Savoy Homann, perayaan bertajuk “Bandung Spirit: Budaya sebagai Jembatan Perdamaian Dunia” menghadirkan berbagai elemen masyarakat dan pemangku kepentingan.
Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Provinsi Jawa Barat, Sugianto Nanggolah, hadir dalam kegiatan tersebut dan menyoroti pentingnya mengaktualisasikan kembali nilai-nilai Bandung Spirit dalam konteks kekinian.
Menurutnya, dunia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari konflik geopolitik hingga krisis sosial budaya. Dalam situasi tersebut, pendekatan budaya dinilai menjadi salah satu instrumen efektif untuk membangun dialog dan saling pengertian antarbangsa.
“Bandung Spirit mengajarkan kita bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dirajut menjadi kekuatan bersama. Budaya memiliki peran strategis dalam menjembatani itu semua,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagai daerah yang memiliki sejarah besar dalam peristiwa internasional, Jawa Barat—khususnya Bandung—memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjaga dan menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Selain menjadi ruang refleksi, kegiatan ini juga menjadi ajang kolaborasi lintas sektor, di mana seni dan budaya ditampilkan sebagai bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai latar belakang.
Sugianto juga menekankan bahwa nilai-nilai yang lahir dari Konferensi Asia Afrika dapat menjadi inspirasi dalam pembangunan daerah, terutama dalam menciptakan masyarakat yang inklusif, toleran, dan berorientasi pada perdamaian.
“Semangat ini harus terus kita jaga, tidak hanya sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai panduan dalam membangun masa depan yang lebih baik,” katanya.
Melalui kehadirannya dalam peringatan ini, Sugianto menunjukkan dukungan terhadap penguatan peran budaya sebagai bagian dari diplomasi lunak (soft diplomacy) yang mampu membawa pesan damai dari Bandung ke dunia.
Peringatan ini pun menjadi pengingat bahwa Bandung bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga simbol harapan bagi terciptanya perdamaian global yang berkelanjutan.





Leave a Reply