Tasawuf Ki Bagoes Hadikoesoemo dan HAMKA: Tasawuf dalam Dzikir, Dzikir dalam Bertasawuf

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik/Pusat Studi Sunda)

Terasjabar.co – Tak banyak yang tahu, bahwa HAMKA pertama kali mengenal tasawuf dari Ki Bagoes Hadikoesoemo. Pada tahun 1925, Hamka bergabung dengan Muhammadiyah di Sumatera Barat. Tahun berikutnya, saat di Jawa, melalui sang paman Ja’far Amarulloh yang mengenalkan HAMKA kepada Ki Bagoes untuk belajar tafsir al Quran. Ia juga berguru kepada H. O. S. Tjokroaminoto dan Haji Fachruddin.

Sementara publik lebih mengenal Tasawuf HAMKA sebagai ‘branding’ pemikir tasawuf Muhammadiyah daripada Ki Bagoes Hadikusumo. Hal ini wajar, karena karya Tasawuf Modern-nya (1938) HAMKA ditulis lebih dahulu dari ada karya tasawuf Ki Bagoes, yang berjudul Tasauf Haqiqi: Hikmah Achlaqiyah (1941), dalam bahasa Jawa selang beberapa tahun. Ki Bagoes Hadikusumo sebagai Ketua Umum Muhammadiyah lebih diposisikan dalam peran pemikiran politik bernegaranya, sebagaimana publik mengenalnya dalam peristiwa penghapusan 7 Kata dalam Mukadimah UUD 1945, hasil Sidang BPUPKI pada 22 Juni 1945.

Buya Hamka dan Tasawuf Moderen

Problema manusia modern menurut Hamka adalah problem hilangnya nilai-nilai spiritual manusia. Pelaksanaan beragama manusia modern yang cenderung legalistik menimbulkan kekeringan nilai spiritual. Disinilah tasawuf berperan menjadi long lasting spiritual values tidak saja bernilai spiritual tetapi juga memenuhi kehidupan duniawi manusia modern (Amir dan Maksum, 2021).

Tasawuf dalam perspektif Hamka merupakan studi kritik atas pemahaman tasawuf yang selama ini difahami oleh banyak orang. Bagi Hamka dengan mengutip pendapat al-Junayd, tasawuf dimaknai sebagai keluar dari budi pekerti yang tercela dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji. Tasawuf harus dimaknai pada arti yang sesungguhnya yang sejati (Hamka, 2003:17).

Hamka merekonstruksi gagasan tasawuf dengan mengembalikan tasawuf pada makna yang sejati. Tasawuf yang berasal dari jantung keilmuan Islam meletakkan harta pada posisinya sebagai milik Allah, dan menjadikan manusia tidak bergantung pada harta. Tasawuf bagi Hamka bertujuan menghasilkan akhlaq yang mulia, menjadikan manusia secara aktif tetap bersosialisi dengan sesamanya tanpa kehilangan Tuhan dalam dirinya (al-Faruqi & al-Qossam, 2021).

Salah satu hal yang menarik dalam buku Tasawuf Moderen ini adalah Buya Hamka membentangkan konsep bahagia bagi seorang manusia dari hampir keseluruhan isi buku beliau ini. Bahwa bertasawuf bukanlah memunculkan rasa kesedihan, melainkan justru kebahagiaan. Salah satu bahagia yang terjadi ketika manusia mejalankan tasawuf adalah kedekatannya dengan Allah. Beliau mengutip pendapat al-Ghazali, bahwa kebahagiaan tertinggi manusia adalah ketika seseorang mampu mendekat pada Allah. Kebahagiaan muncul ketika manusia mampu mendaki jalan ma’rifat, yaitu mampu manyaksikan keindahanNya (Hamka, 2003: 24).

Tasawuf Haqiqi: Ihsan Konsep Kunci Ki Bagoes

Ki Bagus Hadikusumo (lahir di Kauman, 24 November 1890/11 Robiul Akhir 1038 H dengan nama kecil Raden Hidayat). Sedangkan nama Ki Bagus Hadikusumo disandang ketika menginjak usia 30 tahun menggunakan istilah tasawuf haqiqi dengan ihsan sebagai konsep kuncinya. Karya-karyanya yang lain yaitu Risalah Katresnan Djati, 3 jilid (1935), Poestaka Hadi, 6 jilid (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka Iman (1954) merupakan tetralogi akhlaq insan Muhammadiyah dalam konsep Ki Bagoes dalam risal-risalah tersebut. Ihsan menurut konsep Ki Bagoes adalah perwujudan dari hikmah akhlaq tertinggi seorang insan yang kaffah. Pemikiran, sikap dan praktek Tasawuf-nya menggabungkan fiqih dengan amal-amal akhlaq berdasarkan insiprasi dan pengaruh salah-satunya Kitab Bidayatul Hidayah karya Fiqih-Sufistik Imam Ghazali.

Ki Bagus Hadikusumo pelajari juga kitab-kitab dari ulama pembaharu seperti Muhammad Abduh, kitab Tafsir Al Manar, kitab Ibnu Taimiyah, dan kitab Ibnu Rusyd dan lain-lain. Selain belajar agama di Pesantren, Ki Bagus Hadikusumo juga belajar sastra Jawa dan Melayu. Salah satu kemahiran Ki Bagus Hadikusumo adalah fasih dalam berbiacara Bahasa Belanda. Kemahiran Ki Bagus tersebut didapat dari seorang guru yang bernama Raden Ngabehi Sasrasoeganda. Selain itu, Ki Bagus Hadikusumo mahir dalam berbahasa Inggris juga yang didapat dari seorang guru yang bernama Mirza Wali Ahmad Baig.

Selain tentang tasawwuf, ia juga menulis, antara lain: Islam Sebagai Dasar Negara dan Akhlaq Pemimpin (1954), Ruhul Bayan (1935), dan Tafsir Juz ‘Amma (1935).

Djarnawi Hadikusumo dalam Memimpin Itu Menderita “Riwayat Hidup Ki Bagus Hadikusumo” menceritakan, Ki Bagus adalah seorang ulama, mubalig, sekaligus pemimpin. Meski demikian jabatan-jabatan sosial dan keagamaan itu tidak digunakan oleh Ki Bagus untuk mendulang pundi-pundi ekonomi. Pasca Proklamasi 45, Ki Bagus pernah ditawari mobil oleh Presiden Sukarno namun ditolak dengan alasan sudah terbiasa naik becak . Dalam karirnya di Muhammadiyah, Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadiyah (1926), dan Ketua PP Muham­madiyah (1942-1953).

Penampilan Njawani, Menulis dalam Bahasa Jawa

Ki bagoes menampilkan diri sebagai pribadi yang Njawani. Ia lebih sering memakai pakaian bergaya Jawa daripada pakaian atau simbol yang biasa dipakai kiai pada masa itu seperti sorban. Ki Bagus lebih memilih memakai memakai blangkon dan beskap. Itu rata-rata pimpinan Muhammadiyah pada zaman itu sama (pakaiannya seperti itu). Bahkan, saat diundang ke Jepang bertemu Kaisar Hirohito alias Tenno Heika bersama Bung Karno dan Bung Hatta, Ki Bagus tetap mengenakan blangkon yang dipadukan dengan jas.

Beliau jarang memakai jas. Pernah memakai jas ketika di Jepang, tapi di Jepang (tetap) memakai blangkon. Mau berangkat waktu pamit oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dibawakan satu set pakaian Jawa itu dipakai di Jepang.

Ki Bagoes membuka jalur ekonomi untuk keluarganya melalui berdagang, dia pernah mencoba bidang usaha batik sebagaimana masyarakat Kampung Kauman tapi gagal dan berhenti, lalu membuka toko dan menjadi agen obat produksi Apotek J. Van Gorkom milik orang Belanda yang dikenalnya, tapi toko itupun tidak berlangsung lama. Sempat juga menjual piringan hitam dan gramophone dari toko seorang Belanda H. Muller, namun nasib baik juga belum berpihak padanya.

Setelah menjajal berbagai bidang usaha, Ki Bagus kemudian menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakatnya yaitu dunia kepenulisan. Sebelum terjun menjadi pemimpin Muhammadiyah dan ke dunia politik nasional, Ki Bagus merupakan penulis yang bisa dikatakan prolifik di masa itu, khususnya untuk tema-tema tulisan keagamaan.

Kitab dan karangan Ki Bagus hampir semua diterbitkan dalam Bahasa Jawa. Ki Bagus beralasan karena murid-muridnya yang terdiri dari kaum pensiunan, priyayi, dan pegawai negeri meminta kitab-kitab itu ditulis dalam Bahasa Jawa supaya lebih meresap.

HAMKA: tentang Ki Bagoes Hadikoesoemo

Pribadinya adalah menyerupai sahabat Nabi Abu Dzar. Suka akan kesederhanaan. Dan jemu akan hidup bermewah-mewah. Saya mulai bertemu dan mengenal beliau ialah di tahun 1924, ketika dibawa ke rumahnya mempelajari Tafsir Qur’an oleh paman saya Ja’far Amrullah. Agaknya karena masih amat muda, belumlah saya kenal benar pribadi beliau. Tetapi dari tahun ke tahun, penghormatan saya kepada beliau bertambah besar. Sebab boleh dikatakan setiap waktu kakak saya AR. St. Mansur memuji namanya.

Kemudian setelah saya menghadiri Kongres Muhammadiyah ke-18 di Solo (1929) saya lihat sendiri bagaimana kesayangan pemimpin-pemimpin Muhammadiyah kepada dirinya. Terutama K. H. Mas Mansur. Yang saya (lihat) pada waktu itu hanya kelucuannya, kegembiraannya dan kesederhanaannya. Tetapi setelah saya kian lama kian masuk ke dalam masyarakat Pergerakan Muhammadiyah, kian tahulah saya siapa beliau.

Hidup dan Falsafahnya

Lautan ilmu yang keras memegang agama dan memegang strategi perjuangan Umat Islam. Tetapi tidak mau terkemuka. Ketika kursi-kursi untuk Pengurus Besar di Kongres dideretkan sebelah muka, dan anggota-anggota PB. (Pengurus Besar) duduk dengan safnya yang teratur dia sendiri sengaja duduk kebelakang-kebelakang bersama dengan utusan banyak.

Berbicara sambil lucu, mendengar keluh-kesah dari daerah karena halangan kaum adat dan pemerintah penjajahan. Dan pakaian yang dipakainya kadang-kadang tidak teratur, sebab dia mempunyai filsafat sendiri tentang memakai pakaian. Dia tidak keberatan datang ke Kongres Bukittinggi dengan memakai pakaian H. W. (Hizbul Wathan,-ed.), sebab dengan pakaian pandu dapat potongan (reduksi) pada K. P. M. Tetapi bila dia menegakkan hujjahnya di dalam Majelis Tarjih atau Tanwir, jarang yang dapat membantah.

Filsafatnya tentang memimpin pergerakan ialah: “Kemukakan mana yang mau kemuka. Dia akan tetap duduk di belakang-belakang”. Sebab rupanya dia tahu bahwa yang di muka itu tidak akan dapat berbuat apa-apa kalau tidak bertanya kepadanya. (Majalah Hikmah, 1950-an, berjudul Almarhum Ki Bagus Hadikusumo, oleh HAMKA).

Tasawuf dan Dzikir Ki Bagoes dan HAMKA

Fenomena dzikir dalam dunia tasawuf memiliki kedudukan yang sangat penting dan merupakan salah satu inti dari praktik spiritual (riyadhah) dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Dzikir merupakan salah satu jalan utama dalam tasawuf untuk mencapai maqam-maqam spiritual seperti fana (lebur dalam kehadiran Allah) dan baqa (kekal dalam cinta Allah). Para sufi seperti Abu Yazid al-Bustami, Al-Ghazali, dan Ibnu ‘Arabi menekankan pentingnya dzikir sebagai media penyucian hati (tazkiyatun nafs) untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam praktiknya di dunia tasawuf, terdapat beberapa metode dzikir. Dzikir Sirr (Dzikir Khafi), yakni dzikir yang dilakukan secara tersembunyi dalam hati tanpa suara. Ini sering dipraktikkan dalam tarekat tertentu, seperti Tarekat Naqsyabandiyah. Kemudian Dzikir Jahr: Dilakukan dengan suara keras, biasanya dipraktikkan dalam bentuk kelompok seperti Tarekat Qadiriyah atau Syadziliyah. Serta Dzikir dengan Hitungan, dilakukan oleh beberapa tarekat menggunakan alat seperti tasbih untuk menghitung jumlah dzikir tertentu yang biasanya diajarkan oleh mursyid (guru spiritual) untuk meningkatkan level spiritual murid.

Tasawuf dalam dzikir, dzikir dalam bertasawuf. Inilah yang penulis tangkap dari pemikiran tasawuf modern ala Ki Bagoes Hadikusumo dan HAMKA. Di kalangan Muhammadiyah, tidak dikenal dengan amalan dzikir tarekat tertentu, seperti misalnya dalam Tarekat Tijaniyah yang dianut HOS Tjokroaminoto melalui muqodam Tijaniyah, KH Usman Dhomiri (Cimahi) atau as Syahid SM. Kartosuwiryo melalui KH Badruzaman (Garut).

Aktivitas dzikir adalah aktivitas mendekatkan diri kepada Allah (taqarub ilallah). Allah yang Mahasuci hanya bisa didekati oleh hambaNya yang suci. Kesucian seorang hamba ini bisa diperoleh melalui dzikir. Dzikir adalah instrumen penenang hati (qalb) dan pembersih jiwa (tazkiyatun nafs). Dengan mengingat Allah hati menjadi tenang serta memohon ampun atas kesalahan, maka Allah akan menyucikan jiwa hambaNya.

Dalam konteks dzikir ini, Islam mengajarkan bagaimana berdzikir dari yang sederhana hingga yang kompleks. Dzikir yang sederhana dari niat yang mengingat Allah dalam hati, membaca alquran yang merupakan dzikir dengan hati dan dengan lisan; Gerakan shalat yang melibatkna dzikir hati, lisan, dan perbuatan seperti gerakan berdiri, rukuk, dan sujud yang. Demikian juga dengan dzikir dalam konetks sosial seperti perbuatan membayar zakat dan melaksanakan haji. Dalam gerakan-gerakan tersebut, dzikir menjadi lengkap; tidak hanya hati, namun juga lisan, hingga perbuatan; dari perbuatan dzikir yang sangat pribadi dalam niat, hingga dzikir dalam gerakan sosial seperti berzakat.

Dalam Muhammadiyah, dzikir memiliki tempat dalam Pernyataan Pikiran Muhammadiyah tentang Islam Berkemajuan dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dengan istilah “dzikir” dalam banyak bagian, dzikir dalam konteks PHIWM dipahami secara lebih luas, mencakup pemaknaan ibadah yang mendalam dan pengingat kepada Allah dalam semua aspek kehidupan.PHIWM memandang dzikir sebagai inti kehidupan spiritual muhammadiyah. Ini menggarisbawahi bahwa keberagamaan tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga mencerminkan penghayatan keimanan yang berdampak pada kehidupan sosial.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four + nine =

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777