Kita Belum Merdeka, Bung!

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik)

Terasjabar.co – Fenomena di kalangan Gen Z, dalam menyongsong Peringatan ke-80, 17 Agustus sungguh menarik! Memasangkan 2 bendera: Merah Putih dan Bajak laut!

Tapi juga jangan salah.!!

Ini bukan Kapten Bajak Laut yang mempunyai janggut merah bernama Hector Barbarosa dalam serial film Pirates of Carribean. Menurut Pirates of Carribean, Hector Barbarosa adalah bajak laut legendaris musuh bebuyutan dan rival Kapten Jack Sparrow. Hector Barbossa adalah adalah bajak laut keji yang dikutuk lalu dibangkitkan dari kematian. Barbossa adalah penyintas sejati yang kejam dan licik. Barbarosa bukan orang yang bisa dipercaya. Barbarosa akan menghormati kode etik Bajak Laut hanya jika itu menguntungkannya.

Menurut Eugene Rogan dalam A History of Modern Arabs, dalam dunia nyata Barbarosa tidak seperti itu. Nama aslinya Khairudin dan orang Eropa pada zamannya menyebut dengan Barbarosa karena jenggot merahnya. Sebutan Barbarosa berasal dari kata Barbarry. Orang Arab dikawasan Afrika Utara yang dikenal sengit bertarung dengan Spanyol.

Barbarosa adalah laksamana terhebat dalam sejarah Utsmaniyah. Bagi orang Spanyol, Barbarosa adalah momok bagi kapal laut mereka di kawasan laut tengah. Pada akhir abad ke-16, bagian barat Laut Tengah adalah battle ground antara negara-negara Kristen dan Islam.

Sementara bagi penduduk di pesisir Pantai Afrika Utara, Barbarosa seperti Robin Hood. Kesatria suci yang melakukan jihad melawan penjajah Spanyol dimana hasil jarahannya menjadi komponen penting bagi perekonomian masyarakat setempat.

Bagi rakyat Utsmaniyyah, Barbarosa adalah putra asli. Khaerudin “Barbarosa” dilahirkan sekitar tahun 1466 di pulau Mytilene di Kepulauan Aegean di lepas pantai Turki.

Teriakan Euforia Merdeka Bung! Harusnya Rebut Kembali!

Teriakan euforia “Kita sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945!” adalah sebuah kebenaran historis, tapi bukanlah kebenaran politikal. Ini adalah ilusi kebangsaan yang dibungkus dalam narasi historiografi resmi yang diproduksi oleh negara, khususnya sejak era Orde Baru. Ironisnya, propaganda ini terus diwariskan dari generasi ke generasi, tanpa pernah kita ajak bangsa ini berpikir secara jernih: Apakah kita sungguh-sungguh sudah merdeka dan berdaulat?

Mari kita kembali ke fakta sejarah. Pada masa kolonialisme VOC (1600–1800), perlawanan terhadap penjajahan tumbuh dari berbagai arah: politik, militer, hingga pergerakan ideologis. Sultan-sultan Nusantara, organisasi seperti Sarekat Islam (SI/PSII), Indische Partij, PNI, hingga PKI, mewakili tiga arus besar ideologi dunia: Islamisme, Kapitalisme, dan Komunisme. Mereka bergerak bukan hanya untuk kemerdekaan, tapi untuk kedaulatan yang hakiki: yaitu kebebasan menentukan arah bangsa, sistem pemerintahan, dan nilai-nilai hidup.

Namun, penjajahan tak berakhir dengan jatuhnya Belanda ke tangan Jepang (1942–1945), dan tak serta-merta tamat dengan Proklamasi 17 Agustus 1945. Bahkan, pada 18 Agustus 1945, berdirinya Negara Republik Indonesia baru menandai “pintu gerbang kemerdekaan” sebagaimana dikatakan dalam Pembukaan UUD 1945. Artinya, perjuangan belum selesai. Kita belum masuk ke “halaman kedaulatan”. Bahkan, kita dihadapkan pada realitas menyakitkan: kemerdekaan kita dijual murah di meja diplomasi, dari Linggarjati, Renville, Roem-Roijen, hingga Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949.

Melalui KMB, Republik Indonesia dikerdilkan menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). Inilah saat pengkhianatan besar terhadap semangat Proklamasi, saat Republik dipaksa menerima bentuk federal sebagai syarat pengakuan kemerdekaan. Kita menjadi negara yang diakui bukan karena perlawanan, tapi karena kompromi. Bukan karena kemenangan ideologi, tapi karena tunduk pada realitas geopolitik dan tekanan ekonomi global.

Psikologi Penjajahan dan Kemandekan Nasional

Secara psikologi sosial, narasi “kita sudah merdeka” adalah bentuk disonansi kognitif kolektif. Bangsa ini dipaksa percaya pada sesuatu yang tak sepenuhnya nyata, sehingga mengalami keletihan perjuangan, kehilangan daya kritis, dan terjebak dalam kebanggaan semu. Kita disuruh puas dengan simbol, bukan substansi. Upacara digelar tiap tahun, tapi rakyat tetap dikendalikan dalam struktur ekonomi-politik yang didikte oligarki dan asing.

Ketika bangsa ini gagal menyadari bahwa ia belum benar-benar merdeka, maka lahirlah generasi yang permisif, pragmatis, dan tidak punya daya tawar. Gen Z, generasi masa kini, harus, membuka mata dan hati. Jangan hanya menjadi konsumen budaya digital, tapi juga harus menjadi pejuang peradaban. Sebab psikologi bangsa yang trauma, tapi tak sadar sedang trauma, adalah ladang subur bagi penjajahan baru: melalui utang, media, pendidikan, dan bahkan hukum.

Islam dan Jihad Kedaulatan

Bagi umat Islam Indonesia, sejarah penuh luka dan pengkhianatan. Dalam proses perumusan dasar negara, Piagam Jakarta yang mencantumkan “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” dihapus demi alasan kompromi politik. Setelahnya, umat Islam justru terus dicurigai, dimarjinalkan, dan bahkan ditindas ketika menyuarakan Islam sebagai sistem nilai dalam politik dan pemerintahan.

Kini, waktunya umat Islam mengambil kembali peran strategisnya. Bukan untuk mendominasi, tetapi untuk memulihkan jati diri bangsa yang dirampas. Islam bukan sekadar identitas kultural, tetapi sistem etik dan peradaban. Menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan politik bukan bentuk radikalisme, melainkan ijtihad sejarah untuk menyelamatkan bangsa dari arah yang semakin gelap dan kehilangan arah.

Menuju Kemerdekaan yang Sebenarnya

Merdeka bukan hanya soal pengakuan internasional, tetapi tentang kemampuan menentukan nasib sendiri. Tentang rakyat yang berdaulat atas tanah, air, dan langitnya. Tentang bangsa yang bebas dari kendali asing dan oligarki dalam bentuk apa pun.

Hari ini, kita harus berani berkata jujur: kita belum merdeka, Bung! Dan karena itu, perjuangan belum usai. Perjuangan heroik republik ini sudah cacat sebagai negara berdaulat. Maka Umat Islam apakah tidak percaya untuk meluruskannya dengan Sunnah Rasul yang nyata?

Jika generasi hari ini tidak sanggup memikul beban sejarah ini, maka bersiaplah jadi bangsa yang ditertawakan anak cucunya sendiri.

Pertanyaannya: Beranikah Kita Memulainya Lagi?

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × 5 =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam