SUFISTIKASI Piala Dunia dan Keinsafan Akhirat
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Pusat Studi Sunda)
Terasjabar.co – Piala Dunia 2026 digelar ditengah perang besar abad 21, Republik Islam Iran vs AS/Israel. Di tengah-tengah paradoks Indonesia yang carut marut, diantara gerakan politik Islam yang tengah mempersiapkan gebrakannya menyongsong Fajar Islam.
Sudah 40 tahun, tahun 1986, saya terakhir kalinya menjadi penonton siaran TVRI saat Maradona dan Mario Kempes jadi idola. Namun saat ini, ada hal menarik batin saat event sepak bola dunia digelar sebagai permainan dunia yang paling banyak penggemar fanatiknya.
5 Kata Kunci Kehidupan Dunia
Sepak bola adalah salah-satu ekpresi dunia yang diprediksi al Quran, yaitu permainan. Empat yang lainnya adalah senda gurau, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba memperbanyak harta dan keturunan.
Perhatikan QS al Hadid: 20, Allah SWT berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak…”
Ketika berlangsung Piala Dunia FIFA. Seluruh dunia seakan berhenti, jutaan orang begadang, stadion penuh, nobar dimana-mana. Orang menangis karena timnya kalah, orang lain melompat kegirangan karena timnya juara. Empat tahun kemudian…Piala itu berpindah tangan, juara berganti, pemain pensiun, pelatih dipecat, dan dunia kembali menunggu turnamen berikutnya.
Permainan adalah kata yang identik dengan masa kecil manusia. Ada Taman Kanak-kanak (TK). Melalui QS al Hadid : 20, seakan Allah SWT sedang menggambarkan perjalanan hidup manusia dari kecil hingga tua.
- Permainan: Ketika kecil, anak-anak hidup dengan permainan, main bola, main mobil-mobilan, main boneka, main games. Ketika permainan selesai, semuanya ditinggalkan. Tidak ada anak berusia empat puluh tahun yang masih menangisi mobil-mobilan yang hilang saat berumur lima tahun, karena ia sadar itu hanyalah permainan. Allah SWT ingin mengajarkan bahwa suatu hari nanti, dunia juga akan terlihat seperti itu.
- Senda Gurau: Ketika remaja yang dikejar sering kali adalah hiburan, popularitas, candaan, keseruan, media sosial, tertawa, semua terasa sangat penting. Namun beberapa tahun kemudian, banyak yang bahkan lupa apa yang dahulu begitu diributkan.
- Perhiasan: Saat dewasa, mulailah manusia menghias dirinya, rumah, mobil, pakaian, jabatan, dan gelar. Semuanya ingin tampak indah. Padahal, perhiasan bukanlah kebutuhan utama.Ia hanya mempercantik sesuatu yang sudah ada.
- Saling Berbangga: Lalu manusia mulai berkata: “Rumah saya lebih besar”, “Perusahaan saya lebih maju”, “Anak saya lebih sukses”, “Pengikut saya lebih banyak”, yang dikejar bukan lagi manfaat, tetapi pengakuan. Psikologi modern menyebutnya social comparison, yaitu kecenderungan manusia menilai dirinya berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus dapat menurunkan kepuasan hidup, meningkatkan kecemasan, dan memicu rasa iri.
- Berlomba Mengumpulkan Harta: Pada usia yang lebih matang, banyak orang berkata, “Satu rumah lagi”, “Satu proyek lagi”, “Satu miliar lagi”. Padahal target itu terus bergeser. Ilmu psikologi mengenal konsep hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia cepat terbiasa dengan pencapaian baru sehingga terus mengejar hal berikutnya tanpa pernah benar-benar merasa cukup. Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa perlombaan dunia tidak memiliki garis akhir selama hati tidak belajar bersyukur.
Piala Dunia Mengajarkan Pelajaran Besar
Bayangkan sebuah tim. Berlatih bertahun-tahun. Menghabiskan miliaran rupiah.Berjuang dalam puluhan pertandingan. Akhirnya mengangkat trofi. Seluruh dunia bersorak. Namun, empat tahun kemudian. Trofi itu menjadi milik orang lain.
Begitulah dunia, hari ini juara, besok menjadi sejarah, hari ini viral, besok dilupakan, hari ini dipuji, besok digantikan. Tidak ada satu pun gelar dunia yang mampu menemani seseorang masuk ke liang kubur, yang ikut hanyalah amalnya.
Jelas, bahwa melalui Al Qur’an, Allah tidak melarang manusia bekerja, tidak melarang menjadi kaya, tidak melarang berprestasi, tidak melarang menjadi juara. Islam justru mendorong umatnya menjadi kuat, amanah, dan memberi manfaat, dan satu hal lagi jadi syiar dakwah.
Bayangkan ketika setelah cetak gol, para pemain muslim bersujud syukur. Bayangkan ketika setelah pertandingan, para supporter muslim membersihkan stadion dari sampah. Namun banyak yang menjadikan ajang piala dunia jadi ajang judi, taruhan, dan keluar kata-kata sumpah serapah tanda kecewa
Padahal Allah mengingatkan, jangan sampai permainan berubah menjadi tujuan hidup. Bermain boleh, berprestasi boleh, menang boleh, menjadi kaya boleh.
Namun jangan sampai hati menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu yang pasti akan berpindah tangan. Karena dunia bukan rumah. Dunia hanyalah ruang ujian.
Renungan Akhir: Keinsfana itu Jangan Datang Terlambat
Lihatlah anak kecil yang sedang bermain. Ketika waktu pulang tiba, Ia harus melepaskan mainannya. Bukan karena mainan itu buruk. Tetapi karena memang waktunya telah selesai.
Begitu pula dunia.Semua yang kita pegang hari ini.Suatu saat akan kita lepaskan.Jabatan akan mencari pemilik baru.Rumah akan diwariskan. Rekening akan berpindah tangan. Piala akan diangkat oleh generasi berikutnya. Yang tetap bersama kita hanyalah apa yang pernah kita lakukan karena Allah. Maka pertanyaannya bukan, “Berapa banyak yang berhasil aku kumpulkan di dunia?” Akan tetapi, “Berapa banyak dari apa yang kukumpulkan telah berubah menjadi bekal menuju akhirat?”
Karena pada akhirnya. Pemenang sejati bukanlah mereka yang mengangkat piala tertinggi di dunia. Pemenang sejati adalah mereka yang dipanggil Allah pada hari kiamat dengan hati yang tenang, lalu dipersilakan memasuki surga yang tidak pernah mengenal peluit akhir pertandingan.






Leave a Reply