NGEUPEUL LEUNGEUN: Ketika Kebudayaan Mengenal Tafsir Tubuh
Oleh:
Achmad Tans
(Explorer Fitrah Values/XFITVAL)
Terasjabar.co – Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama; mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf, dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir dalam ber-infaq). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik (QS At Taubah:67).
Budaya Sunda memandang pelit bukan hanya tindakan, tapi watak. Sebab itu lahir istilah “ngeupeul leungeun” atau tangan dikepalkan, digenggam erat, tidak dibuka.
Ia bukan sekadar tidak mau memberi, tetapi takut uangnya “kapok” (lepas), tidak mau barangnya disentuh orang lain, bahkan enggan mengeluarkan tenaga dan waktu untuk sesama.
Dalam pandangan Sunda, sifat ngeupeul adalah akar dari tidak hadirnya silih asah, silih asih, silih asuh, tiga pilar harmoni sosial Sunda.
Seperti Al-Qur’an, budaya Sunda meyakini bahwa tangan yang tidak mau terbuka akan membuat hidup menyempit. Orang “ngeupeul” biasanya hidupnya sempit, rezekinya mampet, pergaulannya sempit, dan kemanusiaannya mengecil.
Ini adalah teologi sosial yang diwariskan ribuan tahun sebelum modernitas berbicara tentang reciprocity, social capital, dan collective generosity.
Kompatibilitas Naqli-Aqli: Mengapa Kebakhilan Selalu Disimbolkan dengan Tangan Mengepal?
Karena tangan adalah alat keluar-masuknya rizki. Rizki masuk melalui kerja (tangan). Rizki keluar melalui memberi (tangan). Maka ketika tangan mengepal, itu berarti aliran itu terputus. Dalam ilmu ekosistem sosial modern, ini disebut stagnasi aliran sumberdaya atau stagnasi peradaban.
Al-Qur’an sudah lama mengisyaratkan hal ini. Karena memberi adalah sunnatullah keberlanjutan. Alam hanya bertahan melalui pola: air bergerak, udara berganti, nutrisi bersirkulasi, energi ditransfer, hutan memberi oksigen, sungai memberi kehidupan.
Alam tidak mengenal “ngeupeul”. Begitu ada stagnasi, ia membusuk. Maka memberi bukan sekadar moralitas, itu adalah hukum alam.






Leave a Reply