Kuliner Nusantara Jati Diri Bangsa Untuk Menunjang Ekonomi Kerakyatan

Terasjabar.co – Yayasan Rahayuning Rakyat (NINGRAT) yang diketuai Ify Afiat bersama tim yang terdiri dari Pembina Petani Kopi/sekaligus Pemasaran hasil Produksi T. Saktiawan yang juga sebagai pemerhati masalah Limbah, Chef Hikmat sebagai Tim Ahli penguji produk makanan, Serta Bu Sylvi sebagai Peternak Ayam yang pakannya pakai simbiotik–probiotik.

Tim ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja dalam rangka untuk mewujudkan program pemerintah yaitu meningkatkan Ekonomi Kerakyatan, “Sabilulungan Silih Muliakeun Bari Ngolah Hasil Alam Tatar Pasundan“. Mereka berkumpul di Kedai Ua di Jl. Ambon No.2 Bandung, Senin (10/2/2020).

Dalam kesempatan tersebut, Kang Ify mengatakan bahwa saat ini, pihaknya sedang berusaha untuk menciptakan makanan sehat, untuk menghasilkan makan Sehat itu harus dimulai dari proses peternakan dan cara pengolahannya.

Untuk menghasilkan ayam yang sehat pihaknya telah bekerjasama dengan Bu Sylvi peternak yang menghasilkan Daging Ayam yang sehat, tentunya untuk menghasilkan ayam yang sehat, kandang dan pakannya juga harus sehat.

Menurut Ify timbulnya bau tak sedap dari kandang ayam itu akibat dari pakan yang tidak sehat dan memakai zat kimia. Sedangkan ayam yang pakannya memakai pakan simbiotik-probiotik, tidak akan menimbulkan bau, untuk itu aman untuk dipelihara dekat rumah sekalipun.

“Lebih lanjut karena ayam yang di ternaknya merupakan ayam sehat, sayang kalau cara memasaknya tidak sehat untuk memasak ayam yang sehat”, katanya.

Pihaknya menciptakan alat untuk memasak masakan ayam asap, jadi Ayam setelah di direbus sampai mateng atanpa memakai baha penyedap lalu di Asap sampai menguning dan siap untuk di sajikan.

“Jenis olahan ini mampu bertahan selama 2 minggu dalam kulkas dan kalau di prezer kuat sampai 2 bulan. Dan untuk menghangatnya setelah keluar dari Kulkas ditiriskan selama 10-12 jam kemudian di masukan ke Mikrowave atau di kukus”, tambahnya.

Selain menjual Ayam Asap pihaknya juga menjual Bread Smoked chicken meat Cheese Timato sauce, yang semuanya bahannya dasarnya lokal, dari hasil panenan lokal.

Sementara itu T. Saktiawan petani Kopi Panagan yang perkebunanya di Garut: yaitu di Gunung Papandayan, Kamojang, dan Cikuray, saat ini sedang konsen mengembangkan Pupuk Organik dan mengurangi penggunaan pukuk kimia sampai 90 prosen.

Pupuknya kimia membuat kotoran sapi dan kotoran ayam jadi kami memakai salah satu Probiotik yang kami temukan jadi mengolah bagaimana bagaimana kotoran sapi kotoran ayam itu dapat mengolah, jadi kebutuhan nutrisi tumbuhan tanaman kopi dapat dipenuhi tanpa tambahan dari pupuk kimia. Karena pasaran di Eropa dan Amerika nanti tidak akan menerima kopi dari Indonesia jika terbukti hasil dari Leb masik menggunakan pupuk Kimia.

“Petani yang kami bina mulai sampai dengan panen pertama membutuhkan waktu 2 tahun dengan per hektar antara 2000 sampai 2500 pohon. Untuk panen pertama per pohon menghasilkan 2 Kg dan tahun ke 4 sampai tahun ke 5 naik sampaai 7 kg dan untuk 10 tahun ke atas per phonnya bisa 10 sampai 15 kg per pohon. Dengan pola organik. Sekarang kami sedang membina petani bangaimana menggunakan pukuk organik karena pupuk organik itu harus diolah karena tidak bisa kotoran sapi atau kotoran ayam langsung di pakai itu tidak boleh butuh treatmen yang mebuuthkan waktu sekitar 3-4 hari dengan probiotik yang kami punya kalau yang lainnya sampai seminggu sampai 15 hari dan diharapkan para petani bisa menerima dan menggunakan pupuk organik tersebut, hasil dari kopi ini keasamannya ke jenis Kopi Arabika. Selain di Garut kami juga mengembangkan dan mebina petani di Bandung di Lembang dan Jayagiri”, katanya.

Lebih lanjut dikatakan Saktiawan, bahwa saat ini kotoran sapi ini salah satu penyumbang limbah terbesar ke 2 selain tektil, karena kotoran sapi itu satu ekor sapi kotorannya rata rata 15 Kg kalau ada 300 ekor berapa ton tiap hari yang dibuang ke sungai.

“Kami telah survei di Manglayang, di Tasik, di Garut semua dibuang ke sungai. Mudah-mudahan yang kami lakukan di Bandung bisa membantu Program Citarum Harum, jangan sampai Pemerintah Membersihkan Citarum Peternak mengotorinya. Untuk setiap hektar Kebun dibutuhkan 20 ton Pupuk setiap per tiga bulan sekali, sebetulnya Kohe yang diproduksi peternak sapi di Kawasan Bandung Utara khususnya di kawasan hulu sungai Cikapundung akan dapat segera teratasi kalau saja Pemerintah-Peternak dan yang punya ilmu bekerja sama masalah kotoran hewan tidak akan di buang ke sungai, karena kotoran sapi itu dapat di olah dan dibutuhkan para petani”, tambahnya.

Dalam rangka untuk mendukung Citarum Harum juga supaya Airnya dapat hidup kan di Sungai Citarum pihaknya dala waktu dekat ini akan melaksanakan uji coba menetralisir Air yang ada di Aliran Sungai Citarum.

“Supaya nantinya betul betul ikan bisa hidup kembali seperti waktu dulu”, katanya.

Mengakhiri oborolan di Kedai Ua, Ify dan T. Saktiawan mengharapkan di Bandung Raya dapat terwujud 100 Gerai Kulilner Kopi & Sanwidwich.

“Dengan demikian akan terjadi penyerapan tenaga kerja, selain itu juga pihaknya sangat mengharapkan ada para pemuda yang menginginkan belajar ternak Ayam pakan simbiotik-probiotik, supaya masyarakat dapat memakan Ayam yang betul-betul sehat dan terbebas dari pakan kimia”, pungkas Ify.***(Ocid Sutarsa).

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *