Inovasi Produk Wisata Publik

Oleh:
Sadikun Citra Rusmana
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pasundan

Terasjabar.co – Inovasi merupakan implementasi praktis dari sebuah ide menjadi sebuah alat atau proses baru dalam pengelolaan bisnis berdaya saing.

Sebuah ide atau gagasan bisa muncul dari individu, kelompok atau korporasi yang memiliki visi pembaharuan untuk menghasilkan produk dan perluasan pasar. Proses inovasi dalam industri wisata setidaknya perlu mengindetifikasi karakteristik dan sifat produk yang ditawarkan dan sasaran pasar konsumen pelancongnya.

Indonesia masih mengandalkan kekuatan produk wisatanya pada lingkungan alam dan budaya lokal (endowmen) dengan entitas beragam.

Oleh sebab itu pusat-pusat inovasi perlu merumuskan produk wisata yang tepat untuk ditawarkan ke pasar domestik atau pasar luar negeri. Berbagai pusat inovasi yang eksis harus berperan sebagai sumber inovasi produk.

Sumber-sumber yang membentuk sebuah sistem setidaknya melibatkan bauran inovasi stakeholder, yaitu individu, perusahaan, universitas, lembaga nirlaba swasta, dan pusat riset yang didanai pemerintah, di antaranya Badan Riset Nasional (BRIN).

Generalisasi dari bauran inovasi ini harus memunculkan kreatifitas yaitu kemampuan untuk menghasilkan produk baru yang lebih bernilai. Oleh sebab itu, kelima unsur sumber inovasi tersebut harus secara integratif menghasilkan produk wisata yang tepat sesuai dengan sasaran pasarnya.
Produk wisata publik umumnya dimiliki dan dikuasai oleh pemerintah.

Kebanyakan pengelolaannya dilakukan sendiri meskipun beberapa di antaranya dikelola dengan bentuk kemitraan dengan pihak swasta. Meskipun ada, masih sedikit investor swasta yang bersedia menanamkan modal besar untuk pengembangan wisata berbasis lingkungan. Produk yang berkatagori sumber daya alam, lingkungan dan cagar budaya berbasis heritage harus dipertahankan kelestariannya.

Lini produk wisata ini akan banyak menyerap pelancong asing khususnya pasar Eropa, karena Indonesia memiliki keterkaitan historis baik dari sisi kultural maupun emosional. Keterkaitan historis ini tidak perlu dihubungkan dengan proses kolonialisme, karena hal itu yang justru akan mendispromosikan produk wisata nasionalisme.

Produk wisata publik harus menjadi produk inklusif yang bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Besaran biaya untuk mengakses lokasi harus mempertimbangkan tidak sekedar nilai keekonomian tapi juga kesediaan dan kemampuan membayar.

Bentangan dan Proliferasi

Proses inovasi sering dihadapkan pada risiko kegagalan produk dan pasar. Sebabnya, pengembangan dari ide produk sampai ke pasar komersial akan melalui siklus pengembangan yang panjang, dan tingkat kegagalan yang tinggi. Bahkan, berbagai ide yang inovatif pun seringkali tidak menjadi produk baru yang berhasil.

Studi terhadap data keberhasilan inovasi dengan data tentang paten dan pembiayaan usaha menunjukan bahwa untuk menghasilkan satu produk yang sukses dibutuhkan ribuan ide mentah. Steven & Burley dalam artikelnya “3.000 Raw Ideas Equals 1 Commercial Succes” di Jurnal Research Technology Management 40 (1997) mengungkapkan bahwa dari 3.000 ide mentah yang digagas oleh para inovator dunia, hanya menghasilkan 1 produk yang berhasil secara komersial.

Kelahiran sebuah produk hasil inovasi bagaikan ribuan ikan yang memasuki sebuah corong besar yang menyempit dan pada akhirnya hanya ada 1 dari sekian banyak ikan yang dilahirkan dari pemikiran para inovator.

Industri wisata membutuhkan banyak inovasi untuk menyajikan produk wisata utama beserta derivasinya. Destinasi berbasis alam seperti pantai, gunung, hutan, sungai, dan danau merupakan lini produk wisata yang perlu dikembangkan melalui strategi bentangan lini produk dan perluasan lini produk.

Bentangan lini produk menggambarkan strategi pelebaran produk dengan membentuk konsentrasi-konsentrasi destinasi yang spesifik, baik bentangan sejalan atau melalui bentangan dua jalan. Bentangan sejalan dilakukan dengan memetakan sekumpulan destinasi wisata skala besar (unggulan) dan sekumpulan destinasi wisata skala kecil (rintisan). Bentangan sejalan dilakukan dengan membentuk lini produk terbesar ke yang terkecil.

Produk wisata pantai dipetakan dari pantai terluas sampai pantai terkecil. Produk wisata gunung dipetakan dari gunung tertinggi ke gunung terendah. Produk wisata hutan dipetakan dari hutan lindung ke hutan terbuka.

Demikian pula produk wisata sungai dipetakan dari sungai arung jeram sampai sungai pemancingan ikan.
Selain bentangan produk, bisa juga dilakukan inovasi melalui proliferasi.

Proliferasi produk berupaya meningkatkan perbanyakan tipe atau model produk pada berbagai titik simpul dalam lini produk. Strategi inovasi ini bertujuan untuk menerobos pasar wisata pada industri pariwisata. Setiap sentra produk memiliki keunikan masing-masing. Kawasan industri wisata pegunungan ada yang memiliki potensi kawah aktif atau pasif, ada juga yang hanya memiliki potensi hutan tanpa kawah.

Produk wisata pantai bisa mendeskripsikan secara detail berbagai komoditas yang bisa dipasarkan di sekitar kawasan pantai. Terdapat pantai yang bisa dijadikan sarana bermain karena aman, tapi ada juga pantai yang hanya bisa dijadikan tempat wisata kunjungan rekreasi karena pesisir pantainya berbahaya.

Suatu hal yang penting dalam perluasan inovasi wisata publik adalah faktor pengamanan pengunjung. Kawasan wisata publik di Indonesia yang berbasis lingkungan alam masih rentan ancaman keselamatan pelancong. Perubahan cuaca yang sulit diprediksi akan banyak menganggu waktu dan kenyamanan berwisata.

Oleh sebab itu perlu dilakukan intervensi teknologi informasi dan pemetaan klimatologi yang bisa diakses secara cepat oleh wisatawan untuk mengantisipasi bahaya terjebak dalam area wisata.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × four =

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777