Refleksi Kartini Dari Segi Literasi
Terasjabar.co – Masyarakat Indonesia telah terbiasa menyambut hari Kartini setiap tanggalk 21 April. Anak-anak hingga dewasa akan mudah ditemukan dengan pakaian kebaya, bersanggul, samping bercorak batik, atau pakaian adat daerah kelahirannya.
Namun sayangnya, meski peringatan ini diadakan secara berkala, pengetahuan masyarakat mengenai tokoh tersebut hanya sebatas mengenal bahwa ia telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional dan mengesampingkan hal penting yang seharusnya dipahami yakni terkait ketampilan literasi dari Kartini. Hal ini menjadi penting sebab berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), menginformasikan bahwa Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.
Di kalangan intelektual, Kartini bukan hanya sebuah simbol nama dari seorang manusia melainkan, selalu tersangkut padanya perihal diskursus wanita. Mulai dari masa bumiputra hingga masa kacanggihan dengan penuh problematiaka. Kontroversinya pun hangat diperdebatkan tentang Kartini sebagai pejuang perempuan atau sekedar menyuarakan kaum bangsawan bahkan sampai pada sebuah pernyataan bahwa ia adalah pahlawan yang sengaja diciptakan oleh bangsa belanda.
Perjuangan yang digelorakan Kartini sering kali diremehkan karena ia hanya bisa menorehkan tinta dengan penanya diatas kertas. Kartini dengan kondisi terpenjara dikamar pinggitnya mampu mengepakkan sayap dan melambungkan namanya hingga kini diabadikan sebagai nama jalan di negeri kincir angin, yakni Haarlem, Utrecht, Venlo, dan Amsterdam. Fakta inilah yang menarik dan jarang ditelusuri dari sosok Kartini yakni kemampuan membaca, menulis, dan berbahasa yang telah berhasil dikembangkan juga ditumbuhkan olehnya.
Diantara beberapa buku yang telah dibaca oleh Kartini adalah buku Hilda Suttner, buku Moderne Maagden ditulis oleh Marcal Prevost, buku-buku karya Couperus, buku keagamaan, buku sastra klasik seperti Centhini, bahkan ia turut membaca apa yang ayahnya baca seperti majalah, buku dan koran dari dalam dan luar negeri. Melalui kegemarannya dalam membaca, Kartini menyadari telah terjadi diskrimanasi diantara anak perempuan dan anak laki-laki juga adanya urgensi peran pendidikan bagi seluruh masyarakat terkhusus kaum perempuan.
Kartini tak hanya membaca banyak buku saja namun disertai dengan perenungan perasaan dan pemikiran yang kemudian ia diskusikan dengan saudarnya, lalu ditumpahkan dalam bentuk tulisan. Dari surat-surat yang dikirim, artikel yang dipublikasikan juga buku yang dicetak menggambarkan kepiawaian Kartini dalam bidang ini. Kemampuan berbahasanya sangat baik hingga ditemukan banyak diantara orang Belanda yang kagum akan kualitas dari karya tulisnya. Selain itu, tahun 1900-an di Pulau Jawa, terdapat sekitar 28 juta penduduk, hanya 3000 orang Pribumi yang bisa berbahasa Belanda, dan perempuan adalah bagian minoritasnya termasuk Kartini. Dengan keterampilan ini pula yang membawanya dapat menjalin korespondensi dengan berbagai elemen pemerintahan Belanda
Maka, apabila keterampilan literasi ini dapat diteladani oleh masyarakat akan membawa dampak yang besar bagi drinya secara pribadi maupun secara luas yakni terhadap bangsa Indonesia, sebagaimana Kartini yang telah berhasil memposisikan diri sebagai pelopor literasi perempuan bumi pertiwi. Hal ini akan mendongkrak indeks pembangunan sumber daya manusia, membantu meningkatkan berkembangnya inovasi dan penelitian untuk berbagai sektor, mempengaruhi bidang ekonomi, hukum, budaya, ketatanegaraan dan pada akhirnya akan membawa masyarakat pada kebagiaannya.
Pengetahuan masyarakat terhadap Kartini hanya sebatas mengenal, padahal Kartini bukan hanya sebuah simbol nama dari seseorang saja melainkan, selalu tersangkut padanya perihal diskursus wanita juga yang paling menarik adalah keterampilan literasi yang meliputi aktivitas membaca. menulis dan berbahasa. Dengan inilah, sesungguhnya sebuah bangsa akan tumbuh. (Rahmah Afifah Nurwahidah)






Leave a Reply