Orang-Orang Sunda dan Snouck Hurgronje
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan publik-Pusat Studi Sunda)
Tulisan ini terinsiprasi pertemuan penulis dengan Dr. Suryadi,MA (Dosen Universitas Leiden,asal Minang) yang bertemu di Bandung dalam giat Diskusi Buku “Nagari di Minangkabau”, (terjemahan dari Bahasa Belanda) karya L.C. Westenenk. Acaranya di Bale Rumawat. Unpad. Suryadi menyampaikan, bahwa buku tentang “Nagari di Minangkabau” ini justru pertamakali diterbitkan di Bandung dan di-lauching oleh orang Sunda. Penerbitnya milik urang Sunda dan tuan rumah-nya Pusat Budaya Sunda.
Orang Sunda: Pribumi Pertama Bergelar Doktor di Leiden
Leiden adalah universitas tua yang berusia 450 tahun. Ikatan batin dengan orang Sunda melalui tokoh orientalis terkenal, Dr. Snouck Horgronye. Rupanya, orang Sunda-lah yang pertama kali menginjakkan kakinya di universitas ini dan menjadi salah-seorang mahasiswa tercerdas Tuan Snouck ini. Namanya adalah Prof. Dr. Pangeran Arya Hoesein Djajadiningrat, asal Kramatwatu, Serang, Banten. Saking terkenalnya, patungnya terdapat di Universitas Leiden. Bahkan, pada 4 Desember 2013. Universitas Leiden menggelar Peringatan 100 Tahun Hoesein Djajadiningrat, mahasiswa (student) Indonesia pertama yang pernah meraih gelar doktor.
Pada tahun 1919 M, ia menjadi pembina surat kabar bulanan berbahasa Sunda “Sekar Roekoen” yang diterbitkan oleh perkumpulan Sekar Roekoen. Selain itu ia pun menerbitkan “Pusaka Sunda”, majalah berbahasa Sunda yang membahas tentang kebudayaan Sunda.
Bahkan, sebagai orang Sunda, ia justru mendirikan ‘Java Institut’ dan sejak tahun 1921 M. menjadi direktur majalah ‘Djawa’ yang diterbitkan oleh lembaga tersebut bersama Raden Ngabehi Purbacaraka. Yayasan Java Instituut, sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Kemudian, Ia juga yang akhirnya menjadi ketua yayasannya.Lalu pada tanggal 6 November 1935, Java Instituut mendirikan sebuah museum yang terletak di utara Alun-alun lor Kraton Kasultanan Yogyakarta yang bernama Museum Sonobudoyo (Museum Sanabudaya).
Dalam hal ini, saya teringat dengan almarhum Kang Ajip Rosidi, yang menggagas Hadiah Sastra Rancage untuk berkhidmat memberikan hadiah uang, bukan saja kepada sastrawan Sunda, akan tetapi sastrawan Jawa, Batak, Bali, dan Lampung. Dan sepeninggalan beliau, gagasannya dilanjutkan Kang Rachmat Taufiq Hidayat,(RTH), Kang Ganjar Kurnia dan Kang Hans – Burhanudin Abdullah) dengan membuat platfom GAPURA (Gala Pustaka Nusatara) gapura.org. yang menampillan koleksi digital karya-karya sastra daerah di Nusantara.
Aboebakar Djadjadiningrat dan Snouck Hurgronje
Rupanya, dipilihnya Rd. Hosein Djadjadiningrat ini tidak lepas dari hubungan yang sudah lama dengan keluarga besar Djadiningrat. Pamannya, Raden Aboe Bakar yang menjadi jembatan awal mengapa orientalis Belanda, Snouck Hurgronje, bisa memiliki hubungan yang sangat dekat dan menjadi pelindung bagi keluarga besar Djajadiningrat di Jawa. Setelah dibantu oleh sang paman (Aboe Bakar) di Makkah dan Jeddah, Snouck Hurgronje berganti membantu pendidikan keponakan-keponakannya (Achmad dan Hoessein Djajadiningrat) hingga mereka bisa menempuh sekolah Barat dan kuliah di Universitas Leiden, Belanda.
Penerjemah bagi sosok Tn. Snouck
Dalam suratnya kepada Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda, Konsul Belanda di Jeddah J.A. Kruyt membutuhkan jasa seorang warga sipil Hindia Belanda asli kelas satu, lancar berbahasa Jawa, Melayu, dan Arab serta bisa melakukan kegiatan-kegiatan pengintaian. Orang yang dianggap memenuhi syarat tersebut adalah Aboe Bakar Djajadiningrat, yang fasih berbahasa Arab, Melayu, Sunda, dan Jawa. Saat itu dia sudah menjadi bagian dari komunitas Jawi, orang-orang Asia Tenggara yang belajar di Mekah.
Ayahnya bernama Raden Adipati Natadiningrat mantan bupati Pandeglang. Ibunya istri keempat bupati, yang bernama Raden Ayu Wargakusuma. Selama lima tahun tinggal di Mekah, Aboe Bakar bertugas sebagai penerjemah konsulat Belanda di Jeddah dan wakil konsul Belanda di Mekkah.
Tahun 1884 Snouck Hurgronje memulai kerjanya pada stasiun karantina haji di Jedah. Sembari melakukan aklimatisasi dan adaptasi dia mewawancarai kelompok-kelompok jemaah haji yang menumpang kapal Hindia Belanda. Disinilah Snouck kemudian menjadikan Aboe Bakar sebagai asisten pribadinya. Snouck makin memperdalam bahasa dan budaya Melayu.
Sejarah mencatat, perjumpaan ini adalah perjumpaan yang saling menguntungkan. Bagi Aboe Bakar kesempatan ini memberikan dia pekerjaan jangka panjang dan perlindungan yang sangat dia butuhkan. Bagi Snouck perjumpaan inilah yang akan menjadi tulang punggung dan penyelamat reputasinya. Aboe Bakar juga berperan dalam persiapan keislaman Snouck yang kemudian berganti nama menjadi Abdul Ghaffar
Snouck sangat terkesan dengan Aboe. Dalam salah satu catatan pribadinya dia menulis, “Raden Aboe Bakar yang telah memiliki “ilmu rahasia” dari Mekah selama lima tahun adalah orang terpercaya yang pernah saya temui.” Dengan dukungan riwayat keluarga besarnya (priyayi Banten) dia mampu mengumpulkan semua publikasi, menyediakan semua informasi, dan memberikan bantuan yang dibutuhkan.
Aboe Bakar adalah orang yang mampu memberikan Snouck kitab-kitab dari tarekat Naqsabandiyah yang ada di Mekah dan jaringan-jaringannya. Dia juga sangat mengetahui organisasi pendidikan yang ada di Mekah. Dalam bayangan Snouck, Aboe Bakar adalah orang yang akan sangat berguna, setelah misi berhaji ke Mekah berhasil dia jalankan.
Orang Sunda Sezaman : Penghulu Hasan Mustapa
Nama Hasan Mustapa lebih dikenal masyarakat Sunda. Di Bandung, diabadikan sebagai nama Jalan PH Hasan Mustopa. Saat Snouck ditugaskan ke Hindia Belanda sebagai penasihat resmi pemerintah Belanda untuk urusan kolonial (1889), ia membutuhkan informan untuk memperoleh data-data penting di wilayah tugasnya. Orang yang dianggap tepat adalah Haji Hasan Mustapa. Keduanya bertemu pertama kali di Mekkah pada 1885, dan sejak itu mereka berhubungan erat dan menjalin komunikasi yang intensif.
Hasan Mustapa merupakan cedekiawan, ulama, dan pujangga asal Garut. Menurut Von Koenigswald, Mustapa berperan besar dalam pernikahan Snouck dengan gadis Sunda bernama Sangkana di Ciamis pada 1890. Dari Sangkana, Snouck mendapatkan empat anak, yakni Salmah Emah, Umar, Aminah, dan Ibrahim. Usai Sangkana wafat karena keguguran pada 1896, Snouck menikah dengan Siti Sadijah, putri R.H. Muhamad Su’eb wakil penghulu Bandung, pada 1898. Dari Sadijah, dia mendapatkan anak bernama Joesoef (Conversion of European Intellectuals to Islam; The Case of Christiaan Snouck Hurgronje alias Abd al-Ghaffar).
Mustapa tak hanya membantu Snouck dalam urusan pribadi. Dia berperan memperkenalkan Snouck kepada para ulama di Jawa, untuk mengumpulkan laporan mengenai kondisi keagamaan di Hindia Belanda. Perjalanan keliling Jawa itu dilakukan dua kali dalam kurun waktu dua tahun, dari 1889 hingga 1891.
Mustapa juga menyalin berbagai primbon, kitab, pusaka dari Jawa yang diserahkan ke Snouck, usai perjalanan mereka. Selama bekerja dengan Snouck, Mustapa mendapat bayaran f50 per bulan. Karya-karya naskah berbahasa Arab di Priangan diserahkan kepada pemerintah Belanda pada November 1889. Banyak di antara yang dikumpulkannya merupakan teks Satariyah. Bagi Snouck dia sangat berjasa dalam membuka informasi dan memperoleh pengetahuan tentang Islam lokal.
Hubungan keduanya tetap berlanjut ketika tahun 1891 Snouck bertugas di Aceh. Pada tahun 1893 Snouck mengusulkan Mustapa menjadi penghulu kepala di Kutaraja Aceh, dan usulan ini langsung diterima oleh pemerintah Kolonial Belanda. Mustapa secara teratur selalu melaporkan kepada Snouck tentang perkembangan politik dan militer di Aceh. Jalinan komunikasi ini terjadi melalui surat yang dikirim Mustapa hampir setiap minggu kepada Snouck di Batavia.
Atas rekomendasi Snouck pada tahun 1896 Mustapa dipindahkan menjadi kepala penghulu di Bandung. Kedudukan penghulu kepala di Kutaraja digantikan Raden Haji Muhammad Rusjdi, yang masih kerabat Saijah, istri Snouck yang kedua. Tahun 1906 Snouck kembali ke Belanda, dan masih tetap menjalin komunikasi dengan Mustapa melalui surat, hingga Mustapa wafat pada 1930.
Bahasa Sunda: Obyek Kajian Belanda
Bangsa Belanda mulai memahami pentingnya menguasai bahasa Sunda, sejak diterbitkannya aturan Regeringsreglement van 1818 yang diterapkan pemerintah kolonial di abad ke-19.
Tercatat beberap figur penting orang Belanda yang memberikan sumbangan keilmuannya, seperti Andries de Wilde, tuan tanah di Sukabumi. Hasratnya mendalami bahasa Sunda, terwujud tatkala ia mampu menyusun buku panduan belajar bahasa Sunda. Bukunya berjudul Nederduitsch-Maleisch en Soendasch Woordenboek: benevens Twee Stukken tot Oefening in Het Soendasch yang terbit 1841.Taco Roorda (1801-1874) yang memberi pengantar pada kamus buatan Wilde, menggambarkan kreativitas Wilde dalam penyusunan senarai kata dalam bahasa Sunda.Setelah Wilde, muncul juga bangsa Eropa lain yang sibuk menyusun buku panduan belajar bahasa Sunda. Dialah Jonathan Rigg dan Holle Rigg yang merupakan tuan tanah di kawasan Buitenzorg Selatan (Bogor Selatan).
Rigg mulai mengumpulkan dokumen-dokumen penting untuk mendapatkan data kajian linguistik dari bahasa Sunda. Digunakanlah Paririmbuan-ketjap karya Bupati Cianjur, R.A. Kusumaningrat.Selain itu, Rigg juga diuntungkan oleh hubungan serta pergaulan baiknya dengan Demang Jasinga, Raden Nata Wireja, yang luas pengetahuannya mengenai bahasa Sunda. Dari sanalah, muncul kamus A Dictionary of the Sunda Language of Java yang terbit pada tahun 1862. Kamus ini merupakan kamus berbahasa Sunda-Inggris pertama.
Dari ranah para tuan tanah, muncul para misionaris yang mulai mempelajari dan menyusun kitab injil berbahasa Sunda. Para misionaris itu ialah J. R. F. Gonggrijp (1827-1909), A. Geerdink (1829-1878), G. J. Grashuis (1835-1920), W. H. Engelmann (1836-1868), S. Coolsma (1840-1926), dan H. J. Oosting (1842- 1915).






Leave a Reply