PALSU YANG ASLI
Oleh:
Ganjar Kurnia
Terasjabar.co – Di negeri syahdan, yang palsu kadang lebih percaya diri daripada yang asli. Barang palsu masuk pasar dengan kepala tegak. Tas palsu tersenyum di bahu orang yang juga sedang memalsukan senyum. Jam tangan palsu melingkar di pergelangan tangan orang yang selalu terlambat menepati waktu. Sepatu palsu melangkah mantap ke acara resmi, sementara hati pemakainya sudah lama tidak pernah resmi menjadi dirinya sendiri.
Dulu kita mengira yang palsu hanya barang. Kaos palsu, parfum palsu, obat palsu, madu palsu, beras palsu, gigi palsu, bahkan mungkin kerupuk palsu yang ketika digigit tidak berbunyi “kriuk”, melainkan “maaf anda tertipu.” Tetapi zaman terus maju. Kepalsuan pun ikut naik kelas. Ia tidak mau hanya berdagang di kaki lima. Ia masuk kampus, masuk mimbar, masuk rapat, masuk lembaga, masuk CV, masuk ijazah, masuk poster, masuk media sosial, bahkan masuk doa-doa yang dibacakan dengan pengeras suara bermerk palsu. Maka lahirlah berbagai makhluk baru di kebun peradaban: ijazah palsu, gelar palsu, sertifikat palsu, tanda tangan palsu, proyek palsu, laporan palsu, survei palsu, akun palsu, berita palsu, air mata palsu, kepedulian palsu, nasionalisme palsu, intelektual palsu, ijazah palsu, hingga yang agak surealis BEM palsu.
Nasionalisme palsu, terlihat ketika ada orang berteriak “cinta tanah air” sambil “menjual tanah air”. Ia mencium bendera setiap upacara, tetapi mencabik-cabik republik melalui tanda tangan. Lagu kebangsaan dinyanyikan dengan dada membusung, sementara rekening jauh lebih membusung lagi.
Ada intelektualitas palsu. Kata-katanya berat seperti karung semen: epistemologi, ontologi, paradigma, dekonstruksi, rekonstruksi, transformasi. Tetapi ketika ditanya isi pikirannya, yang keluar hanya asap knalpot seminar. Ia mengutip banyak ahli, tetapi tidak pernah mengutip hati nurani dan pikirannya sendiri. Makalahnya penuh catatan kaki, tetapi hidupnya tidak punya pijakan.
Ijazah palsu sangat tragis. Ia seperti kuburan ilmu yang diberi bingkai emas. Kertas itu tersenyum di dinding, seolah berkata, “Saya tidak pernah kuliah, tetapi saya lulus dengan sangat percaya diri.” Di bawahnya pemilik ijazah duduk gagah. Ia mungkin tidak pernah pusing mengerjakan skripsi, tidak pernah pegel menunggu dosen pembimbing, tidak pernah menelan pahit revisi, tidak pernah ditolak judulnya tujuh kali, tetapi tiba-tiba menjadi sarjana dengan kecepatan cahaya. Bahkan cahaya pun iri. Ia perlu 300 ribu kilometer per detik, sementara ijazah palsu cukup perlu koneksi, uang muka, dan wajah yang tidak mudah malu.
Sebagai peristiwa kebudayaan, adanya BEM palsu tentu sangat menyedihkan. Ketika organisasi mahasiswa dipalsukan, demokrasi kampus seolah-olah sudah mencapai taraf metafisika: yang tidak ada bisa mengaku ada, yang ada bisa pura-pura tidak tahu, dan yang tahu bisa mendadak lupa sambil mencari tempat parkir yang teduh.
Bayangkan: ada mahasiswa palsu sedang rapat palsu, membahas aspirasi palsu, lalu mengeluarkan pernyataan sikap palsu atas nama organisasi kemahasiswaan palsu. Mikrofon menyala, kamera merekam, spanduk dibentangkan. Semua tampak sungguh-sungguh, kecuali kebenaran yang duduk di pojok ruangan, memakai kaos oblong, tidak diundang, dan hanya minum air mineral gelas yang mereknya juga mungkin palsu.
Mungkin suatu hari nanti akan ada Museum Kepalsuan Nasional. Di dalamnya dipamerkan ijazah palsu, gelar palsu, tanda tangan palsu, organisasi palsu, janji palsu, air mata palsu dan kepalsuan lainnya. Tapi khusus untuk yang ini, di pintu masuk tertulis: “Selamat datang. Tiket palsu tidak berlaku dan tidak boleh boleh bayar dengan uang palsu…….”.
Kita pun masuk dengan wajah masing-masing terpampang di monitor palsu. Tiba-tiba monitornya mati. Bukan karena takut melihat kita, tetapi karena bingung: mana wajah, mana topeng, mana yang asli, mana yang sudah terlalu lama palsu tapi merasa paling asli.






Leave a Reply