PIALA DUNIA DAN ISI DOMPET YANG “OFFSIDE”
Oleh:
Ganjar Kurnia
Terasjabar.co – Piala Dunia datang lagi. Bola mulai bergulir, komentator mulai berteriak, penonton mulai lupa cicilan. Untuk sementara, dunia tampak sederhana: ada gawang, ada wasit, ada peluit, ada orang berlari mengejar bola seakan-akan berebut kesempatan kerja. Di luar stadion, kehidupan juga mengejar-ngejar kita: harga beras, minyak, listrik, uang sekolah, cicilan motor, cicilan rumah, cicilan perasaan, dan terutama cicilan janji kampanye yang tidak pernah lunas.
Di televisi, pemain menggiring bola dengan indah. Di dapur, ibu-ibu menggiring anggaran belanja dengan pusing. Bagi pemain sepak bola kalau salah umpan, hanya sampai disumpahi; sementara ibu rumah tangga kalau salah hitung belanja bisa membuat seluruh anggota keluarga tiarap darurat. Sepak bola punya VAR, rumah tangga punya VRT (Video Receh Terakhir).
Piala Dunia hanya hiburan sesaat. Namun karena sesaat itulah menjadi penting. Manusia tidak selalu kuat memikul kenyataan terus-menerus. Ada kalanya ia membutuhkan jeda. Bukan untuk lari dari kenyataan, tetapi untuk bernapas di antara dua tagihan. Sepak bola memberi kita ilusi kecil yang sehat: selama 90 menit, hidup bisa disusun dalam formasi hidup 4-4-2. Empat hari tidak punya uang, empat hari menahan tagihan, dan dua hari terakhir pura-pura masih punya harapan, sambil menatap dompet yang sudah wafat tetapi belum sempat dimakamkan. Ada yang menyerang, ada yang bertahan, ada yang pura-pura cedera, dan ada yang duduk di bangku cadangan sambil tetap menerima gaji. Dalam hal terakhir ini, sepak bola sangat mirip dengan birokrasi.
Kondisi ekonomi saat ini membuat banyak orang hidup seperti tim yang terus ditekan lawan. Bola dikuasai oleh harga kebutuhan pokok. Umpan pendek dipotong oleh inflasi. Serangan balik digagalkan oleh bunga pinjaman. Penjaga gawang sudah melompat ke kanan, tagihan datang dari kiri. Di tribun, rakyat bersorak bukan karena menang, melainkan karena masih bisa bertahan sampai akhir bulan. Skor sementara: kebutuhan hidup 5, penghasilan 1 atau bahkan nol. Wasit memberi tambahan waktu, tetapi lapangan kerjanya terbatas.
Piala Dunia bisa hadir sebagai obat. Tentu bukan obat generik yang bisa menurunkan harga cabai. Bukan pula obat paten yang dapat menyembuhkan defisit. Ia hanya obat gosok batin. Dioleskan sebentar di dada yang sesak melihat harga-harga. Panas sedikit, lega sedikit, lalu besok pagi tetap harus bekerja lagi (kalau ada pekerjaannya) . Tetapi jangan remehkan “lega sedikit”. Dalam hidup rakyat kecil, lega sedikit sudah merupakan mukjizat sosial.
Aneh juga melihat bola. Sebuah benda bundar kecil, bisa membuat miliaran manusia melupakan perbedaan bahasa, agama, ideologi, bahkan perbedaan pilihan politik yang biasanya membuat grup WhatsApp mendadak jadi medan perang Badar emotikon. Saat Piala Dunia, orang bisa memeluk tetangga yang berbeda partai hanya karena sama-sama mendukung Argentina, Brasil, Prancis, Inggris, atau negara yang bahkan belum tentu bisa ditunjukkan letaknya di peta. Nasionalisme pinjaman ini kadang lebih tulus daripada nasionalisme domestik. Kita bisa menangis melihat negara lain kalah, sementara melihat petani sendiri susah, kita hanya bilang “itu urusan dinas terkait.”
Di sinilah humor absurd Piala Dunia bekerja. Kita tidak punya hubungan darah dengan Kylian Mbappe, Lionel Messi, atau pemain mana pun, tetapi hati kita bisa ikut berdebar. Kita tidak pernah ditraktir Cristiano Ronaldo, tetapi kalau ia gagal mencetak gol, kita ikut memegang kepala, seolah-olah masa depan keluarga besar kita, tergantung pada tendangan penalti orang Portugal.
Namun, sepak bola tidak boleh hanya dilihat sebagai pelarian. Ia juga cermin. Di lapangan, kita belajar bahwa kemenangan tidak lahir dari pidato motivasi semata. Harus ada latihan, strategi, disiplin, kerja sama, dan pelatih yang tidak hanya pandai menyalahkan pemain. Negara pun begitu. Ekonomi tidak akan membaik hanya karena slogan. Rakyat tidak kenyang oleh spanduk pertumbuhan. Dapur tidak mengeluarkan nasi karena grafik makroekonomi naik. Pertumbuhan ekonomi yang baik harus terasa sampai ke meja makan, bukan hanya sampai ke sidang kabinet.
Piala Dunia juga mengajarkan bahwa yang lemah kadang bisa mengalahkan yang kuat, asal tidak takut bermain. Tim kecil bisa menahan tim besar. Negara yang jarang disebut bisa membuat raksasa sepak bola kebingungan seperti pejabat ditanya data. Dalam sepak bola, kejutan selalu mungkin. Dalam ekonomi, kejutan juga ada, tetapi sering kali bentuknya kurang menggembirakan: harga naik, subsidi berubah, nilai tukar melemah, pekerjaan makin sempit, sementara iklan gaya hidup terus menggoda seperti penyerang sayap yang tidak punya rasa kasihan.
Ketika menonton Piala Dunia, kita bersorak untuk gol yang dibuat orang lain, sambil diam-diam berharap hidup kita juga mencetak gol: bisa bayar sekolah anak, bisa membeli obat, bisa makan layak, bisa tidur tanpa dihantui notifikasi jatuh tempo. Di tengah ekonomi yang kadang menggiring kita ke pojok lapangan, menonton bola adalah cara rakyat melakukan dribel batin. Sekali ke kiri, sekali ke kanan, lalu jatuh sendiri karena kaki tersandung kenyataan.
Piala Dunia akan berakhir. Juara akan mengangkat trofi. Kertas-kertas warna akan beterbangan. Kamera akan menyorot air mata, pelukan, dan wajah-wajah yang merasa menjadi bagian dari sejarah. Setelah itu televisi kembali seperti biasa. Rakyat kembali bingung, dompet kembali kurus, tagihan kembali bugar. Tetapi barangkali ada yang tersisa: sedikit kegembiraan, sedikit persaudaraan, sedikit kesadaran bahwa hidup ini berat, tetapi masih bisa punya sumber untuk tertawa dan ditertawakan. Dalam keadaan ekonomi yang tidak selalu ramah, tertawa mungkin menjadi bentuk pertahanan terakhir. Bukan karena semuanya baik-baik saja, melainkan karena kalau tidak tertawa, nanti dikira mutung.






Leave a Reply