Tasawuf Falsafi: Usia Lansia
Oleh:
Ganjar Kurnia
Terasjabar.co – Pada 29 Mei yang lalu ditetapkan sebagai Hari. Lansia Nasional. Pada tahun ini, temanya peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 tahun 2026 adalah “Lansia Sehat dan Mandiri untuk Indonesia yang Berdaya”.
Menurut Undang-Undang No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, seseorang dikategorikan sebagai lansia jika telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Ketentuan ini menjadi dasar hukum di Indonesia dalam menentukan kelompok usia lanjut, terutama untuk pelayanan kesehatan, program sosial, maupun perlindungan hak-hak lansia.
Adapun Kementerian sosial RI membagi lansia menjadi tiga kategori, yaitu lansia pra-lanjut usia (Pra-Lu) yang berusia antara 60-69 tahun, lansia lanjut usia (LU) yang berusia 70-79 tahun, serta lansia lanjut usia akhir (LUA) yang berusia 80 tahun ke atas.
Penulis sendiri saat ini usia 70 tahun, dan berkesempatan menghadiri “Tasyakur bi Nikmat” Usia ke-84, Kang Udin Koswara, 5 Juni 2026 di Sukabumi.Sebagai sama-sama kategori Lansia, tentu menyadari makna usia sebagai anugerah untuk menumpuk-numpuk deposito investasi akhirat dengan banyak berbuat kebaikan untuk ummat. Dalam hadits, Khoirunnas anfa’uhum linnas. Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan Daruqutni. Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’).
Tulisan ini dibuat menyambut dua momentum , yaitu Hari Lansia ke-30 dan Milad ke-84 Kang Udin Koswara, senior penulis dulu di PII (Pelajar Islam Indonesia).
Ulang tahun ke-84 adalah momentum merenungkan perjalanan bertambahnya usia. Pada umur seperti itu, angka sudah berhenti menjadi aritmetika. Ia berubah menjadi tasbih. Setiap butirnya adalah kenangan. Setiap putarannya adalah napas. Setiap hitungannya bukan lagi pertanyaan “sudah berapa lama hidup?”, melainkan “sudah seberapa jauh jiwa berjalan?”
Di usia muda, ulang tahun biasanya datang dengan kue, lilin, suara ramai, dan harapan yang berlari-lari seperti anak kecil di halaman. Di usia 84, ulang tahun datang lebih pelan. Ia tidak mengetuk pintu dengan keras. Ia hanya duduk di kursi dekat jendela, memandang halaman, lalu berkata pelan, “Alhamdulillah, masih diberi pagi”.
Pada usia 84, tubuh tentu sudah menjadi semacam arsip nasional. Lutut menyimpan dokumen perjalanan panjang. Punggung memuat laporan tahunan tentang cerita hidup. Mata menyimpan foto-foto lama, sebagian masih jelas, sebagian sudah buram seperti album keluarga yang terlalu sering dibuka. Telinga kadang memilih mendengar yang penting-penting saja, terutama kalau nasihat cucu terlalu panjang. Gigi, kalau masih lengkap, sudah seperti kabinet langka yang patut diberi penghargaan negara. Tetapi justru di situlah keindahannya.
Usia 84 bukan usia untuk membuktikan diri. Bukan lagi masa mengejar tepuk tangan, jabatan, gengsi, atau undangan duduk di kursi paling depan. Kalau masih ada yang berebut kursi pada usia 84, mungkin bukan karena ambisi, tetapi karena kursi itu dekat pintu keluar dan mudah menuju toilet. Hidup pada akhirnya mengajarkan bahwa strategi terbaik kadang bukan memenangkan perdebatan, melainkan menemukan tempat duduk yang nyaman.
Pada usia seperti ini, banyak hal yang dulu tampak besar mulai mengecil. Kekuasaan yang dulu menggetarkan, ternyata cuma bayangan panjang di sore hari. Harta yang dulu dikira benteng, ternyata sering hanya pagar bambu di pinggir angin. Pujian yang dulu terasa manis, lama-lama seperti gula dalam teh: kalau kebanyakan malah membuat pening. Yang tersisa justru hal-hal sederhana: keluarga yang datang menengok, sahabat yang masih mengirim kabar, cucu yang bertanya polos, dan doa yang naik tanpa perlu pengeras suara.
Ulang tahun ke-84 adalah perayaan bagi orang yang telah melewati banyak musim. Ia pernah melihat rezim berganti-ganti, tapi hasilnya sama jaja. Pernah menyaksikan harga beras berubah wajah. Pernah melihat anak-anak kecil tumbuh menjadi orang tua bagi anak-anaknya sendiri. Pernah melihat jalan tanah menjadi jalan aspal, surat menjadi pesan singkat, obrolan beranda menjadi rapat daring, dan manusia yang dulu sibuk mencari sinyal ilahi kini lebih panik kalau sinyal Wi-Fi hilang.
Dunia berubah dengan cepat, kadang terlalu cepat. Tetapi orang yang berusia 84 tahun sering menyimpan kebijaksanaan yang tidak dimiliki mesin pencari. Google bisa memberi jawaban, tetapi tidak selalu memberi ketenangan. Kecerdasan buatan bisa menyusun kalimat, tetapi belum tentu mampu mengelus kepala cucu dengan kasih sayang. Mesin bisa menghitung umur, tetapi hanya hati yang bisa membaca makna.
Maka, 84 tahun adalah perpustakaan yang berjalan pelan. Di dalamnya ada bab tentang masa kecil, bab tentang cinta, bab tentang kerja keras, bab tentang kehilangan, bab tentang kesabaran, dan bab-bab kecil yang mungkin tidak pernah ditulis, tetapi tetap hidup dalam ingatan. Ada halaman yang penuh tawa. Ada halaman yang basah. Ada juga halaman yang sengaja dibiarkan kosong, karena tidak semua pengalaman sanggup diterjemahkan menjadi kata.
Di usia 84, doa menjadi semakin ringkas tetapi semakin dalam. Dulu, mungkin doa penuh daftar permintaan: ingin berhasil, ingin dihormati, ingin hidup nyaman, ingin anak-anak sukses. Kini doa itu menjadi lebih sederhana: semoga diberi sehat secukupnya, hati yang tenang, keluarga yang rukun, akhir yang baik, dan kemampuan tersenyum ketika melihat dunia semakin aneh. Sebab dunia memang semakin aneh. Orang muda kadang sibuk memburu validasi dari layar kecil, sementara orang tua cukup bahagia kalau tekanan darah tidak terlalu kreatif. Orang-orang berebut menjadi terkenal, sementara usia 84 mengajarkan bahwa dikenal Tuhan jauh lebih penting daripada dikenal algoritma. Di sinilah humor hidup terasa lembut: manusia mengejar banyak hal, lalu pada akhirnya rindu tidur nyenyak, makan enak secukupnya, dan bangun pagi tanpa rasa sakit yang berlebihan.
Ulang tahun ke-84 adalah sebuah senja yang tidak muram. Senja memang tanda hari mulai pulang, tetapi justru pada senja warna langit sering paling indah. Ada emas yang lembut. Ada jingga yang tenang. Ada awan yang seperti sajadah panjang terbentang di ufuk. Pada usia ini, manusia tidak lagi perlu menantang matahari. Cukuplah duduk, menyaksikan cahaya perlahan turun, sambil merasa bahwa hidup, dengan segala luka dan rahmatnya, ternyata patut disyukuri.
Maka, selamat ulang tahun ke-84. Selamat memasuki angka yang seharusnya sudah berubah menjadi dzikir. Semoga setiap napas menjadi syukur, setiap kenangan menjadi cahaya, setiap sakit menjadi penghapus, setiap tawa menjadi sedekah, dan setiap hari yang tersisa menjadi jalan pulang yang lapang. Sebab pada akhirnya, umur panjang bukan hanya soal bertahan hidup. Umur panjang adalah kesempatan untuk menjadi lebih bening: lebih mudah memaafkan, lebih pelan menghakimi, lebih ringan melepas, dan lebih dalam mencintai.
Bagi siapapun, dengan usia bertambah, kita harus lebih taqarrub dan istiqomah; sehingga apabila pada saatnya yang Empunya memanggil, kita pulang dalam keadaan husnul khotimah.





Leave a Reply