Pancasila Sebagai DNA Bangsa Menuju Peradaban Global
Oleh:
Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri, S.Ag., MM., CPHRM., CHRA.
(Guru Besar Ilmu Manajemen, FEBI, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Terasjabar.co – Sebagaimana kita tahu, bahwa era 5.0 adalah fase peradaban baru yang mengedepankan human-centered society, yaitu integrasi antara teknologi supercanggih (AI, IoT, Big Data) dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam konteks ini, Pancasila dapat menjadi kompas moral dan spiritual agar transformasi digital tidak menjadikan manusia sekadar mesin produksi, tapi tetap manusiawi dan beradab.
Makna Filosofisnya, bahwa Pancasila adalah kristalisasi nilai adiluhung bangsa: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan. Nilai-nilai ini adalah nilai universal yang menyeimbangkan antara rasionalitas teknologi dan kebijaksanaan budaya, Culture wisdom, maka mempertahankan Pancasila bukan berarti konservatif, tetapi mewujudkan modernitas yang berakar dan bermartabat dengan budaya dan kearifan lokal sebagai penjaganya.
Di era Society, ketika manusia bisa tergantikan oleh AI, Pancasila mengingatkan bahwa manusia memiliki ruh dan nilai yang tak tergantikan.
Untuk menjaga eksistensi Pancasila di era global, diperlukan langkah-langkah aktual yang strategis dan terukur, yakni:
- Internalisasi Nilai di Semua Lini: Bahwa Pancasila harus dihidupkan bukan hanya dalam pidato, tapi dalam kebijakan, dalam etika pelayanan publik, dan budaya organisasi. Nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan sosial, dan kearifan musyawarah harus menjadi dasar pengambilan keputusan, baik di pemerintah, swasta, maupun komunitas berbangsa dan bernegara.
- Digitalisasi Ideologi: Bahwa Pancasila harus dibumikan lewat platform digital: konten kreatif, pendidikan Pancasila berbasis aplikasi, narasi populer lewat media sosial, bahkan ekosistem metaverse nasional yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Pendidikan Pancasila harus modern dan kreatif dengan digitalisasi saat ini.
- Kepemimpinan Berbasis Nilai: Bahwa Pancasila akan eksis dan nyata jika ditopang oleh pemimpin dan tokoh publik yang autentik, orisinal senyatanya pemimpin yang berakar pada nilai Pancasila. Tidak sekadar simbolik, dan atau berperan sebagai pemimpin simbolik saja. Nilai seperti keadilan sosial (sila ke-5) harus tercermin dalam keberpihakan nyata pada yang lemah, pada masyarakat bangsa secara adil dan merata, bukan jargon kosong.
Hari Lahir Pancasila adalah momentum strategis untuk merumuskan ulang manajemen pendidikan yang bernilai, berkarakter dan berdaya saing global. Beberapa nilai manajemen edukasi yang bisa digali, yaitu:
- Visi Pendidikan Humanistik, dimana pendidikan bukan sekadar membentuk manusia cerdas, tapi manusia utuh: ber-Tuhan, bermoral, bernilai, berkebangsaan, dan berperan global. Ini sejalan dengan Education for Sustainable Development dan Character Education.
- Kepemimpinan Nilai (Value-based Leadership), saat ini tantangan pengelolaan institusi pendidikan harus berbasis nilai: bukan hanya target angka, tapi membentuk ekosistem etis dan moral, serta adab dan ahlak bangsa yang menumbuhkan dan tetap mempertahankan gotong royong, toleransi, dan tanggung jawab sosial.
- Kolaborasi Sosio-Digital, di Era 5.0 ini membutuhkan manajemen edukasi kolaboratif, ada sinergi antara guru, orang tua dan komunitas, teknologi, dan peran negara. Teknologi bukan pengganti guru, tapi alat memperluas nilai-nilai Pancasila ke seluruh penjuru tanah air secara adil dan merata.
- Evaluasi Berbasis Etika, tentu Penilaian pendidikan harus menilai karakter dan perilaku siswa, ke-adaban dan moralitas bukan hanya capaian kognitif. Artinya, indikator kebaikan harus setara dengan indikator kecerdasan.
Pendidikan berbasis Pancasila bukan sekadar menghafal sila-sila. Ia adalah transformasi nilai dalam seluruh aspek pendidikan, mulai dari kurikulum, pengelolaan sekolah, perilaku guru, hingga kultur lembaga.
Transendensi (Sila 1 – Ketuhanan Yang Maha Esa), bahwa pendidikan harus memupuk kesadaran spiritual, bukan sekadar pengetahuan kosong. Kemudian membangun etika dan moralitas, bukan sekadar kompetensi teknis. Hal yang bis akita lakukan misalnya, anak-anak tidak hanya diajarkan tentang ekosistem, tapi juga rasa syukur dan tanggung jawab atas alam ciptaan Tuhan.
Humanisme (Sila 2 – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab), bahwa pendidikan menghargai setiap individu sebagai subjek, bukan objek. Selanjutnya sekolah menjadi ruang inklusif, bebas diskriminasi, mengedepankan hak asasi dan empati sosial, ber adab dan bernilai etik
Nasionalisme (Sila 3 – Persatuan Indonesia), dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air yang cerdas dan terbuka. Kemudian mendidik generasi untuk bangga menjadi Indonesia, tanpa membenci yang berbeda. Karena nasionalisme Pancasila tidak eksklusif, tapi terbuka dan bersahabat dengan dunia.
Demokrasi Etis (Sila 4 – Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan). Bahwa sekolah menjadi tempat belajar bermusyawarah, dialog, toleransi, dan pengambilan keputusan bersama dan menghargai segala bentuk perbedaan pendapat. Kemudian Guru dan siswa dilatih untuk berpikir kritis, tetapi tetap beretika dan menghargai perbedaan.
Keadilan Sosial (Sila 5 – Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia) . Bahwa pendidikan dan akses terhadap Pendidikan berorientasi pada pengurangan kesenjangan, pemberdayaan kelompok tertinggal, dan keadilan. Kemudian Kurikulum dan program pendidikan diarahkan untuk menciptakan nilai bagi pemberdayaan ekonomi, sosial, dan kultural
Pendidikan berbasis nilai Pancasila adalah pendidikan yang menciptakan manusia merdeka: berpikir global, berjiwa lokal, dan berperilaku luhur.
Pancasila sebagai DNA Bangsa Menuju Peradaban Global
Pancasila bukan sekadar kumpulan sila atau dokumen konstitusional. Ia adalah filsafat hidup bangsa Indonesia yang memiliki makna mendalam secara ontologis sebagai hakikat keberadaan, epistemologis menjadi cara berpikir, dan aksiologis , bagaimana tujuan dan nilai kehidupan dijalankan
Pancasila bukan ideologi yang menolak kemajuan, tapi penuntun agar kemajuan tidak kehilangan arah di tengah revolusi digital dan globalisasi nilai, Pancasila memberi jangkar moral, identitas, dan arah masa depan. Ia menjadi dasar pendidikan nilai yang tidak tercerabut dari akar budaya, namun tetap terbuka terhadap inovasi dan kolaborasi global.
Pancasila bukan sekadar dasar negara, tapi DNA kebangsaan Indonesia. Di tengah gelombang globalisasi, disrupsi moral, dan krisis identitas, Pancasila hadir sebagai jangkar nilai dan arah strategis. Bukan untuk mengurung dalam nostalgia masa lalu, dan romantisme sejarah, tapi mengarahkan Indonesia menjadi bangsa besar, maju secara teknologi, kuat secara budaya, dan adil secara sosial.
Jika Indonesia ingin menjadi bangsa besar di abad ke-21, maka Pancasila harus menjadi living ideology, hidup dalam sistem, budaya, dan jiwa generasi mudanya.
Wallahu a’lam






Leave a Reply