Ramadhan dan Kebangkitan Ekonomi Perempuan

Oleh:
Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri, MM.,CPHRM.,CHRA.
(Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah Kota Bandung, dan Sekretaris Departemen Penguatan SDM Lembaga Keuangan Syariah  MPP ICMI)

Terasjabar.co – Setiap Ramadhan tiba, lanskap ekonomi Indonesia mengalami perubahan yang sangat terasa. Menjelang waktu berbuka, sudut-sudut kota dan desa mendadak hidup. Trotoar, halaman masjid, pelataran rumah, hingga gang kecil berubah menjadi pusat transaksi yang dinamis.

Di balik meja sederhana dan etalase seadanya, berdirilah para Perempuan ibu rumah tangga, janda, mahasiswa, hingga pensiunan yang menjajakan kolak, gorengan, es buah, lontong, dan aneka panganan berbuka.

Fenomena perempuan turun ke ruang publik pada bulan suci bukan sekadar gejala musiman. Yang tampak di permukaan hanyalah aktivitas jual beli. Di baliknya, berlangsung proses ekonomi yang lebih dalam, yakni adaptasi, kreativitas, dan afirmasi kemandirian keluarga.

Ramadhan membuka ruang bagi perempuan untuk tampil sebagai aktor ekonomi strategis, bukan pelengkap. Momentum ini perlu dibaca bukan sebagai romantika pasar takjil, tetapi sebagai potensi kebijakan dan strategi pemberdayaan ekonomi perempuan.

Ramadhan sebagai Mesin Perputaran Ekonomi Rakyat

Secara ekonomi, Ramadhan menghadirkan lonjakan konsumsi yang unik. Kebutuhan berbuka dan sahur mendorong permintaan harian yang stabil selama satu bulan penuh. Tradisi berbagi, buka bersama, sedekah makanan, hingga penguatan silaturahmi menciptakan ekosistem pasar yang hidup.

Ada tiga karakter ekonomi Ramadhan yang membuatnya berbeda, Pertama, konsumsi berbasis spiritual. Masyarakat membeli bukan sekadar karena lapar, tetapi karena tradisi ibadah dan kebersamaan. Kedua, solidaritas sosial yang meningkat. Konsumen cenderung memilih membeli dari pedagang kecil sebagai bentuk dukungan ekonomi sesama. Ketiga, perputaran uang harian yang cepat.

Skala kecil namun volume tinggi menciptakan likuiditas mikro yang signifikan. Dalam ruang seperti ini ekonomi perempuan menemukan peluang. Dapur rumah bertransformasi menjadi pusat produksi. Dan ruang domestik melebar ke ruang publik tanpa harus meninggalkan identitas keibuan.

Perempuan Turun ke Jalan: Strategi Bertahan atau Lompatan Kemandirian?

Banyak perempuan memulai usaha Ramadhan karena dorongan kebutuhan. Biaya pendidikan anak, tekanan harga kebutuhan pokok, cicilan, atau menurunnya pendapatan keluarga menjadi alasan utama. Namun, realitas tersebut tidak berhenti pada sekadar bertahan hidup. Bulan Ramadhan sering menjadi titik awal lahirnya kesadaran ekonomi baru. Lapak sederhana menghadirkan pengalaman manajerial yang tidak pernah diajarkan secara formal.

Perempuan belajar menghitung modal, memprediksi permintaan, menentukan harga, mengelola risiko bahan baku, hingga menjaga kualitas layanan. Setiap hari menjadi ruang belajar ekonomi praktis. Dalam  perspektif manajemen, pasar takjil merupakan laboratorium kewirausahaan rakyat. Modal kecil, risiko terukur, waktu terbatas, tetapi dampaknya nyata bagi ketahanan keluarga. Artinya Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan pembelajaran ekonomi perempuan.

Nilai Spiritual sebagai Keunggulan Kompetitif

Ekonomi perempuan di bulan Ramadhan memiliki karakter yang tidak sepenuhnya ditemukan dalam logika pasar konvensional. Ada nilai yang menyertainya. Kejujuran dalam takaran dan kualitas dijaga karena kesadaran spiritual. Harga sering disesuaikan agar tetap terjangkau.

Tidak jarang pedagang memberikan tambahan atau berbagi kepada pembeli yang membutuhkan. Nilai spiritual tersebut menjadi diferensiasi sekaligus keunggulan kompetitif. Konsumen merasakan kehangatan, bukan sekadar transaksi.

Ekonomi yang tumbuh dari kesadaran ibadah melahirkan kepercayaan. Kepercayaan adalah aset tak berwujud ( intangible asset) yang sangat mahal dalam dunia bisnis. Hadirnya Ramadhan dapat  memperkuat fondasi tersebut.

Setiap tahun, ribuan usaha kecil lahir selama bulan puasa. Sebagian memang berhenti setelah Idulfitri. Namun, tidak sedikit yang berlanjut dan berkembang menjadi usaha permanen. Ada beberapa pola transformasi yang sering terjadi:

  1. Dari musiman menjadi rutin. Usaha kolak atau kue kering berkembang menjadi katering kecil, warung harian, atau bisnis online.
  2. Terbentuknya jaringan sosial ekonomi. Tetangga, majelis taklim, dan komunitas masjid menjadi jejaring distribusi dan promosi.
  3. Digitalisasi spontan. Pemanfaatan WhatsApp, media sosial, hingga pembayaran digital meningkat signifikan selama Ramadhan.

Dengan kata lain, Ramadhan berfungsi sebagai inkubator kewirausahaan perempuan berbasis rumah tangga. Potensi ini seharusnya tidak dibiarkan berjalan tanpa arah. Dibutuhkan strategi agar inkubasi alami tersebut naik kelas.

Meskipun  potensinya besar, ekonomi Perempuan di bulan  Ramadhan menghadapi beberapa hambatan mendasar. Pertama, akses modal yang terbatas. Sebagian masih mengandalkan pinjaman informal dengan bunga tinggi, yang justru menggerus keuntungan. Kedua, minimnya pendampingan manajerial. Pengetahuan tentang pencatatan keuangan, pengemasan, legalitas produk, dan strategi pemasaran masih rendah. Ketiga, kerentanan ruang usaha. Penertiban tanpa solusi alternatif dapat memutus sumber penghasilan. Keempat, beban ganda.

Perempuan tetap memikul tanggung jawab domestik sekaligus aktivitas ekonomi. Jika tidak ditangani, energi produktif Ramadhan hanya akan berulang sebagai siklus tahunan tanpa transformasi struktural.

Strategi Penguatan Ekonomi Perempuan di Bulan Ramadhan

Agar momentum ini menjadi fondasi ekonomi berkelanjutan, diperlukan pendekatan strategis lintas sektor:

  1. Masjid sebagai Pusat Ekonomi Komunitas. Masjid memiliki posisi sentral selama Ramadhan. Fungsi sosial ekonomi yang dapat diperluas menjadi pusat bazar terorganisir, ruang promosi produk UMKM perempuan, lokasi pelatihan singkat manajemen usaha, fasilitator akses pembiayaan mikro syariah. Serta peran serta Masjid sebagai inkubator spiritual sekaligus inkubator ekonomi.
  2. Pendampingan Berbasis Perguruan Tinggi dan Penyuluh. Bagi Perguruan tinggi, terutama yang memiliki fakultas ekonomi dan manajemen, dapat menginisiasi program pengabdian masyarakat berupa pelatihan pencatatan keuangan sederhana, strategi branding produk, desain kemasan menarik, pemanfaatan digital marketing. Pendampingan yang sederhana namun konsisten akan meningkatkan daya saing.
  3. Pembiayaan Mikro Ramah Perempuan. Lembaga keuangan syariah perlu merancang skema khusus Ramadhan pembiayaan modal kerja tanpa bunga, sistem bagi hasil ringan, pendampingan pasca pembiayaan. Akses modal yang sehat akan mendorong pertumbuhan usaha, bukan sebaliknya menjadi jebakan utang.
  4. Digitalisasi Inklusif. Program literasi digital perlu diarahkan secara spesifik kepada perempuan pelaku UMKM. Penggunaan media sosial, katalog digital, dan pembayaran non-tunai dapat memperluas pasar tanpa biaya besar. Ramadhan dapat menjadi pintu masuk percepatan transformasi digital berbasis komunitas yang dibutuhkan

Dampak Strategis bagi Ketahanan Bangsa

Ketika perempuan berdaya secara ekonomi, dampaknya tidak berhenti pada peningkatan pendapatan keluarga. Ada implikasi jangka panjang:

  1. Ketahanan pangan rumah tangga meningkat
  2. Pendidikan anak lebih terjamin
  3. Kemiskinan struktural berkurang
  4. Partisipasi ekonomi nasional menguat.

Jika di kelola dengan serius, maka ekonomi perempuan di bulan Ramadhan dapat menjadi fondasi ekonomi kerakyatan yang berkeadilan.

Dalam perspektif pembangunan, pemberdayaan perempuan bukan agenda tambahan. Perempuan adalah penggerak utama ekonomi keluarga dan menguatkan peran para Perempuan dapat memperkuat struktur sosial bangsa.

Ramadhan menghadirkan momentum yang sangat kuat setiap tahun. Tantangannya adalah bagaimana mengubah momentum menjadi gerakan. Lapak kecil di trotoar kota menyimpan potensi besar. Yang dibutuhkan adalah ekosistem karena regulasi yang ramah, pendampingan berkelanjutan, akses modal adil, dan penguatan jejaring komunitas. Ketika ekosistem terbentuk, ekonomi perempuan tidak lagi bergantung pada musim, tetapi tumbuh sepanjang tahun.

Ramadhan sebagai Titik Awal Transformasi

Ramadhan selalu menghadirkan cahaya spiritual. Namun, di balik cahaya tersebut tersimpan peluang transformasi ekonomi yang nyata.

Perempuan yang berdiri di balik meja sederhana setiap sore sedang menunjukkan ketangguhan, kreativitas, dan keberanian. Mereka tidak menunggu perubahan. Mereka menciptakan perubahan dari dapur rumah. Sudah saatnya fenomena ini dipahami  secara strategis. Ramadhan bukan sekadar musim dagang.

Ramadhan adalah momentum membangun kemandirian ekonomi perempuan berbasis nilai, solidaritas, dan kepercayaan. Dari trotoar kota, dari pasar kecil, dari dapur rumah, ekonomi bangsa dapat diperkuat.

Jika diberi ruang, dukungan, dan arah yang jelas,  maka ekonomi perempuan di bulan Ramadhan akan menjadi fondasi kokoh bagi ketahanan sosial dan kemajuan nasional.

Ramadhan seharusnya tidak berakhir pada perayaan. Ramadhan dapat menjadi awal kebangkitan ekonomi perempuan Indonesia bermartabat, mandiri, dan berkelanjutan.

wallahu’a’lam bis showaab

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × 2 =