Merayakan Perbedaan, Menjaga Persaudaraan: Imlek dan Puasa dalam Perspektif Kebhinekaan
Oleh:
Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Terasjabar.co – Bangsa yang besar tidak hanya menjadi bangsa yang seragam, melainkan bangsa yang mampu merawat perbedaan sebagai kekuatan bersama. Dalam kehidupan Indonesia yang majemuk, perbedaan bukan sekadar realitas sosial, tetapi juga amanah sejarah. Perayaan Imlek dan datangnya bulan Ramadhan dalam satu frame menjadi sebuah momen reflektif, bagaimana kita memaknai keberagaman, bagaimana kita mengelola perbedaan, dan bagaimana kita menjaga persaudaraan di tengah identitas yang beragam. Imlek membawa pesan tentang harapan, kebersamaan keluarga, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur. Ramadhan menghadirkan nilai pengendalian diri, solidaritas sosial, dan pendalaman spiritual. Dua peristiwa yang lahir dari tradisi yang berbeda, tetapi bertemu dalam satu ruang kebangsaan yang sama, adalah Indonesia. Di sinilah kebhinekaan menemukan makna.
Keberagaman tidak hanya dipahami sebatas angka statistik, jumlah suku, agama, bahasa, dan budaya. Kebhinekaan sejatinya adalah kesadaran moral dan sosial. Seorang Filsuf Jerman, Martin Buber, pernah mengatakan, “All real living is meeting.” Kehidupan sejati adalah perjumpaan. Bangsa yang hidup adalah bangsa yang mampu menjadikan perbedaan sebagai ruang dialog, bukan sebagai batas pemisah. Imlek dan Ramadhan adalah ruang perjumpaan yang mempertemukan nilai-nilai, simbol, dan ekspresi spiritual yang berbeda dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Namun, perjumpaan tidak selalu otomatis melahirkan persaudaraan. Tanpa kedewasaan, perbedaan kadang bisa menjadi sumber konflik. Karena itu, kebhinekaan harus dibangun sebagai kesadaran aktif, bukan sekadar warisan pasif.
Persaudaraan sebagai Etika Sosial Bangsa
Persaudaraan lintas identitas bukan hanya persoalan toleransi, namun juga persoalan etika sosial yang menyangkut cara berpikir, cara berbicara, dan cara memperlakukan sesama. Filsuf Prancis Emmanuel Levinas menegaskan, “The other is the one who puts me in question.” Kehadiran orang lain akan menguji moralitas kita. Dalam konteks kebangsaan, saudara yang berbeda agama, budaya, dan tradisi adalah “yang lain” yang menguji kedewasaan kita. Apakah kita menghormatinya, atau mencurigainya? Ketika masyarakat saling menjaga kenyamanan saat Imlek dirayakan, dan saling menghormati saat Ramadhan dijalani, maka persaudaraan bekerja sebagai etika hidup, bukan slogan, melainkan praktik kehidupan.
Di era digital saat ini, identitas sering disederhanakan menjadi label. Agama, etnis, dan budaya dipersempit menjadi simbol politik dan alat mobilisasi massa. Filsuf Hannah Arendt pernah mengingatkan tentang “banality of evil”, bahwa kejahatan dapat lahir dari ketidakmampuan berpikir secara kritis. Dalam konteks sosial, polarisasi identitas sering lahir dari ketidakmauan memahami kompleksitas manusia. Media sosial ikut mempercepat proses. Dimana narasi kebencian menyebar cepat. Hoaks memecah belah. Dan emosi menggantikan rasionalitas. Maka Imlek dan Ramadhan pun menjadi ujian, apakah kita terjebak dalam arus polarisasi, atau memperkuat solidaritas? Sosiolog Robert Putnam menyebut kepercayaan sosial sebagai social capital. Tanpa kepercayaan, masyarakat kehilangan daya kolaborasi. Kebersamaan lintas budaya adalah bentuk nyata modal sosial bangsa. Ia memungkinkan kerja sama, inovasi, dan stabilitas.Ketika masyarakat merasa aman dalam perbedaan, energi sosial mengalir positif. Konflik berkurang dan kreativitas meningkat, serta produktivitas pun tumbuh. Imlek dan Ramadhan menjadi laboratorium sosial untuk membangun modal sosial. Karena Persaudaraan tidak lahir secara instan namundibentuk melalui pendidikan dan pengalaman sosial. Filsuf John Dewey menekankan bahwa pendidikan adalah proses sosial. Maka nilai hidup bersama harus diajarkan, bukan diasumsikan. Dan setiap generasi muda perlu dikenalkan pada sejarah kebhinekaan Indonesia, termasuk masa-masa kelam ketika perbedaan menjadi sumber konflik. Dari sanalah tumbuh kesadaran bahwa harmoni adalah hasil perjuangan, bukan hadiah. Dan perayaan lintas tradisi menjadi media pendidikan sosial yang sangat efektif.
Spiritualitas dan Kemanusiaan Universal
Baik Imlek maupun Ramadhan pada dasarnya berbicara tentang kemanusiaan. Konfusius mengajarkan ren, artinya kemanusiaan dan kasih sayang. Islam mengajarkan rahmatan lil ‘alamin, adalah kasih sayang bagi semesta. Keduanya bertemu dalam satu nilai, untuk memuliakan manusia. Filsuf Albert Schweitzer menyebutnya sebagai “reverence for life”, yakni penghormatan terhadap kehidupan yang menjadi titik temu spiritualitas lintas tradisi, maka terbentuklah nilai persaudaraan substantif. Persaudaraan tidak boleh berhenti pada seremoni, namun harus hadir dalam keadilan sosial, kesetaraan akses, dan perlindungan. Tanpa keadilan, harmoni hanya menjadi ilusi. Filsuf John Rawls menegaskan bahwa keadilan adalah kebajikan utama institusi sosial. Negara dan masyarakat harus menjamin bahwa semua warga diperlakukan setara. Maka Imlek dan Ramadhan harus menjadi momentum refleksi substantif dan hakiki.
Menjaga Rumah Bersama
Indonesia adalah rumah bersama. Di dalamnya hidup jutaan manusia dengan latar belakang yang berbeda, tetapi berbagi harapan yang sama, menjalani hidup damai, adil, dan bermartabat. Imlek dan Ramadhan yang hadir berdekatan adalah pengingat simbolik bahwa perbedaan bukan alasan untuk berjarak, melainkan kesempatan untuk saling memahami. Merayakan perbedaan bukan berarti mengaburkan identitas. Menjaga persaudaraan bukan berarti mengorbankan keyakinan. di sanalah letak kedewasaan bangsa. Ketika kita mampu menghormati perayaan orang lain dengan tulus, ketika kita menjaga ruang publik tetap ramah, ketika kita memilih dialog daripada prasangka, kita sedang merawat fondasi Indonesia. Bangsa yang beragam dan beradab tidak akan runtuh karena perbedaan dengan beragam tradisi, keyakinan, dan harapan. Pandangan Paulo Freire, bahwa: “Education does not change the world. Education changes people. People change the world.” Begitu pula persaudaraan, yang mengubah manusia. Manusia mengubah bangsa. Ketika kita merayakan perbedaan dan menjaga persaudaraan, maka kita sedang membangun masa depan Indonesia yang bermartabat.
Di tengah perubahan global yang penuh ketidakpastian, kebersamaan adalah harta paling berharga. Imlek dan Ramadhan mengingatkan kita bahwa harmoni bukan warisan yang bisa diwariskan begitu saja, tetapi nilai yang harus diperjuangkan setiap hari. Dengan merayakan perbedaan dan menjaga persaudaraan, kita sedang menjaga masa depan Indonesia, sebuah bangsa yang besar bukan karena keseragaman, tetapi karena kelapangan hati warganya yang beradab dan bernilai dalam menerima perbedaan.
Selamat Merayakan imlek dan Selamat Memasuki Bulan Ramadhan
Wallahu a’lam Bis showaab






Leave a Reply