Politik Islam Rahmatan Lil Alamin (IRA) dan Muslim Minoritas di Indonesia

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik/Pusat Studi Sunda)

Terasjabar.co – Berdasarkan data 2025 yang dirilis BPS, populasi Muslim Indonesia mencapai sekitar 249,82 juta jiwa, atau sekitar 87,14% dari total penduduk 286,69 juta jiwa pada periode tersebut. BPS pun mencatat bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia (2024) mencapai 9,03 persen dari total populasi, atau sekitar 25,22 juta orang. 7,09 persen, setara dengan 11,64 juta orang di perkotaan. Sementara di perdesaan, mencapai 11,79 persen atau sekitar 13,58 juta orang. Temuan Kementerian Agama hasil asesmen Pendidikan Agama Islam (PAI) 2025. Dari data yang dianalisis, sebanyak 58,26 persen guru PAI tingkat SD di Indonesia belum fasih membaca Al-Qur’an atau masih berada pada kategori pratama atau dasar.

Fakta lain dari perspektif Politik Islam Bernegara yang dijalankan dalam sistem kehidupan masyarakatnya jelas sebuah paradoks Islam di Indonesia. Saya, menyebutnya sebagai kondisi MUSLIM DZIMMI alias muslim mayoritas tertindas (mustadafin). Mengapa ini terjadi?

Kondisi ini adalah fenonema akhir zaman,sebagaimana Nabi SAW telah menyatakan dalam sebuah hadits tentang situasi umat Islam di akhir zaman.

Empat belas abad yang lalu, baginda Rasulullah SAW pernah bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana orang lapar menghadapi meja penuh hidangan”. Kemudian seseorang bertanya, ”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,” Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah akan cabut rasa takut dari dada musuh kalian dan Allah akan mencampakkan penyakit wahn dalam hati kalian. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” Hadits ini diriwayatkan olehAbu Daud no. hadits 4297 dan Ahmad 5: 278, ditashih oleh Syaikh Al Albani.

Istilah “umat Islam seperti buih di lautan” merujuk kepada sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang menggambarkan keadaan umat Islam di akhir zaman. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud no. hadits 4297 dan Ahmad 5: 278, ditashih oleh Syaikh Al Albani tersebut mengisyaratkan bahwa meskipun jumlah umat Islam secara nominal sangat banyak, mereka akan menjadi lemah dan tidak memiliki kekuatan yang signifikan seperti buih di permukaan lautan yang banyak tetapi ringan dan mudah dihanyutkan. Kita menyaksikan bagaimana saat ini umat Islam mengalami kemunduran yang sangat. Seakan tak berdaya di hadapan musuh-musuhnya.

Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda,yang Artinya: Kelak akan datang satu zaman, di mana tidak tersisa Islam kecuali hanya namanya. Artinya, hanya slogan, yel-yel dan kesalehan di masjid. Sementara pasar, ditinggalkan dan diisi oleh transaksi ribawi. Di bidang politik, terjadi penindasan dan ketidakadilan lewat jargon demokrasi dan HAM. Wa la min Al-Qur’an illa rasmuhu, dan Al-Qur’an hanya sekadar menjadi bacaan tanpa pernah diamalkan.

Al Wahn: Dalam Domain Personal

Al-wahn adalah satu terminologi yang menjelaskan tentang sifat cinta dunia dan takut mati. Apakah cinta dunia adalah satu kesalahan?

Bukankah manusia memang dihiasi dengan berbagai perhiasan dunia sebagaimana dalam QS. Ali Imran [3]: 14. Ayat ini menjelaskan bahwa adalah manusiawi ketika seseorang itu cinta akan hal-hal yang disebutkan yakni berupa wanita-wanita, anak-anak lelaki, harta benda (emas, perak), kendaraan pilihan, dan sawah/lading (investasi). Namun di akhir ayat, Allah menegaskan bahwa Allah adalah tempat kembali.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, murid Ibnu Taimiyyah, mengatakan: “Cinta terhadap dunia adalah induk segala kesalahan serta perusak agama”. Bukankah manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah? Rujuklah kembali QS. Al-Dzariyat [51]: 56, Dan tidaklah kami menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Penyakit wahn yang ditimpakan dalam diri muslim ini memiliki dua indikasi. Pertama, cinta dunia. Kedua takut mati. Satu dengan yang lain memiliki pengaruh. Lalu, dicabutnya rasa gentar dalam hati musuh-musuh Islam terhadap umat Islam. Ini menyebabkan kondisi kaum muslimin terhina dalam segala sektor. Laksana buih yang tak memiliki nilai di hadapan umat-umat lain, banyak tapi tak bernilai.

Cinta dunia berarti sangat tinggi obsesi terhadapnya, hati bergantung kepadanya, terlalu jauh mengagumi keindahan dan kemewahannya, berjalan di belakangnya, sangat rakus terhadapnya, angan-angan dan cita-cita terpusat kepadanya, puncak harapan ada padanya, merasa kekal di dunia, dan terus menumpuk-numpuk harta kekayaannya.

Dampaknya, umat Islam sibuk mengumpulkan harta, menempuh segala cara mendapatkannya yang halal maupun haram, meninggalkan jihad untuk tegaknya agama, kikir dan bakhil tak mau bayar zakat, bersedekah dan infak di jalan Allah, rakus dan tamak, curang dalam muamalah, dan sebagainya.

Sedangkan takut mati sebagai dampak dari penyakit wahn adalah konsekuensi bagi orang yang sangat cinta dunia. Seseorang yang sangat cinta dunia pasti ia takut menghadapi kematian yang akan menghilangkan kenikmatan-kenikmatan yang diimpikannya.Takut mati menjadikan seseorang berusaha mendapatkan kemakmuran hidup dengan segala cara, menghindari ketaatan yang berisiko kematian atau berkurang kekayaan, tidak pernah bersiap-siap untuk hadapi kematian, tidak menyiapkan bekal kebaikan untuk kehidupan sesudah kematian, terlalu larut menikmati dunia, berusaha memuaskan syahwatnya, dan sebagainya.‎

Al Wahn dalam Domain Politik

Cinta dunia dalam konteks politik adalah dorongan kuat untuk mengejar kekuasaan, kekayaan, dan popularitas duniawi (harta, jabatan, status) melebihi tujuan akhirat atau pelayanan tulus pada publik, seringkali mengarah pada korupsi, manipulasi, dan keserakahan yang merusak integritas politik dan kesejahteraan rakyat, berbeda dengan dukungan politik yang sehat yang berbasis ideologi atau program, bukan nafsu pribadi.

Makna Cinta Dunia di Politik

  1. Dorongan Nafsu: Keinginan tak terbatas untuk meraih kenikmatan duniawi seperti uang, kemewahan, dan kedudukan tertinggi dalam pemerintahan atau partai.
  2. Mengorbankan Amanah: Mengabaikan tanggung jawab pelayanan publik demi keuntungan pribadi, seringkali melalui korupsi, suap, dan nepotisme.
  3. Prioritas Materi: Mengutamakan kepentingan materi di atas kepentingan rakyat dan negara, menjadi sumber keburukan dan kemaksiatan dalam berpolitik

Manifestasi dalam Politik

  1. Politik Transaksional: Memberikan atau menerima imbalan untuk dukungan politik, bukan berdasarkan visi atau misi.
  2. Korupsi dan Penyelewengan: Menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri dan kroni.
  3. Perebutan Kekuasaan: Persaingan politik yang destruktif demi kekuasaan, tanpa peduli dampaknya pada masyarakat.
  4. Propaganda dan Pencitraan: Membangun citra palsu untuk memikat pemilih demi tujuan pribadi, bukan demi pelayanan.

Dampak Negatif

  1. Krisis Kepercayaan: Rakyat menjadi apatis dan tidak percaya pada pemimpin dan institusi politik.
  2. Penyalahgunaan Wewenang: Kekuasaan publik disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.
  3. Ketidakstabilan Sosial: Kesenjangan semakin lebar dan konflik sosial meningkat akibat ketidakadila

Politik Islam Rahmatan lil Alamin

Dalam Al Quran surat Al-Anbiyā ayat 107 disebutkan: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Politik islam Rahmatan lil’alamin (IRA) bukan sekedar slogan, akan tetapi substansinya dalam sejarah politik Islam era Nabi SAW, baik saat di Mekah dan di Madinah menjadi contoh/ushwah serta teladan politik di era Khulafaur Roisyidin, yang jelas dan terang-benderang.

Dan Nabi Muhammad Saw pun menegaskan kehadirannya di alam semesta ini melalui sabdanya: “Yâ ayyuha al-Nâsu, innamâ anâ rahmatun muhdâtun (wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan Allah)” (Abi Muhammad Abdillah bin Abdirrahman bin al-Fadhl al-Darami, 2014: 98).

Dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Anbiya:107, Ibn Katsir menjelaskan bahwa “rahmat” yang dibawa Islam mencakup seluruh umat manusia, bukan hanya Muslim. Artinya, kebijakan yang didasarkan pada Islam haruslah kebijakan yang membawa manfaat bagi semua orang, bukan hanya bagi umat Islam saja.

Di dalam sejarah, Islam selalu menjadi kekuatan yang inklusif. Peradaban Islam di Andalusia menjadi bukti bahwa Islam bisa menjadi sistem yang menaungi berbagai golongan, termasuk Yahudi dan Nasrani, dalam satu ekosistem politik yang adil.

Dalam perkembangan mutakhr, Islam Rahmatan Lil’alamin merupakan bentuk reaksi terhadap munculnya islamophobia di dunia barat sebagai akibat dari peristiwa Twin Tower World Trade Center [WTC], 11 September 2001 dan juga untuk mengimbangi konsep Clash of civilizations yang digambarkan bahwa perdaban islam dan peradaban barat akan bertabrakan.

Kemudian konsep Rahmatan Lil’alamin juga merupakan bagian integral dari upaya melibatkan agama dalam proses mewujudkan keadilan dan perdamaian dunia. Membangun persepsi politik positif islam tidak mungkin dapat terwujud jika kita tidak menampilkan visi Islam Rahmatan Lil’alamin . Rahmat adalah karunia ilahi yang mencakup rahman dan rahim. Apabila Islam dimaknai dan dipahami secara benar dan diterapkan secara benar, maka keduanya akan dapat kita hadirkan di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Politik Historiografi atas Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Dalam konteks global, ekspresi Islam Rahmatan Lil Alamin (IRA) dicoba dibungkam lewat narasi tentang Prang Salib. Dalam sejarah Islam disebut sebagai serangan agresi asing. Muslim awalnya tidak menyebutnya ‘Perang Salib’, hanya sebagai serangan bangsa Franj (Frank). Baru kemudian disadari sebagai konflik lintas peradaban.Tokoh seperti Shalahuddin dikenang karena ksatria, tidak membalas pembantaian, menjaga tempat suci dan penduduk sipil.

Bagi Dunia Islam, berakibat Kerusakan besar di Syam dan Palestina. Tapi juga memicu persatuan politik dan militer.Bagi Eropa, berdapak pengetahuan Islam masuk ke Eropa: Kedokteran, Matematika, dan Filsafat, jadi salah satu jalan menuju Renaisans.

Bagi Hubungan Islam–Kristen Perang Salib menyisakan luka sejarah panjang yang masih terasa hingga kini.Singkatnya, Perang Salib bukan sekadar perang agama. Akan tetapi adalah percampuran agama, kekuasaan, ekonomi, dan ambisi manusia yang dibungkus simbol suci.

Siapa yang Memulai Peperangan? Catatan sejarah valid dan meyakinkan Perang Salib dimulai oleh pihak Kristen Eropa Barat, bukan pihak Islam.Titik Awal yang Jelas (1095 M). Pemicu resmi Perang Salib adalah seruan Paus Urbanus II pada Konsili Clermont (1095 M).Dia secara terbuka menyerukan perang, mengajak bangsa Eropa mengangkat senjata,menjanjikan pengampunan dosa, dan mengarahkan pasukan ke wilayah Muslim di Timur.Ini adalah deklarasi perang dari pihak Kristen, bukan reaksi spontan Muslim.

Kondisi Dunia Islam Sebelum Perang Salib.Yerusalem berada di bawah kekuasaan Muslim sejak 638 M (masa Umar bin Khattab).Selama ratusan tahun, peziarah Kristen tetap diizinkan masuk, gereja-gereja tidak dihancurkan, tidak ada agresi militer Muslim ke Eropa Barat terkait Yerusalem.Artinya:Tidak ada invasi Islam ke Eropa Barat yang memicu Perang Salib. Perang Salib diciptakan oleh pihak Kristen sendiri (fakta sejarah).

Argumen “Kristen Diserang Lebih Dulu” Perlu Diluruskan

Sering diklaim, bahwa “Perang Salib adalah balasan atas ekspansi Islam.Secara sejarah, bahwa Ekspansi Islam (abad 7–8) terjadi 400 tahun sebelum Perang Salib. Jadi, tidak ada hubungan langsung, kronologis, atau militer antara penaklukan Islam awal dengan seruan Paus tahun 1095.Para sejarawan modern sepakat bahwa ini: Justifikasi ideologis belakangan, bukan sebab nyata.

Fakta Lapangan Perang Salib I.Ketika pasukan Salib tiba, justru Mereka menyerang kota-kota Muslim:Nicea,Antioch, dan Yerusalem.Tahun 1099, terjadi pembantaian massal penduduk Muslim & Yahudi di Yerusalem oleh Kristen.Semua ini: inisiatif ofensif, bukan defensive.

Kasus di Indonesia

Di Indonesia, ekspresi Islam Rahmatan Lil Alamin (IRA) dalam domain politik-kenegaraan sebenarnya dikhianati justru oleh para nasionalis sekuler demi kepentingan politik penguasa yang tidak menyukai Islam sebagai sistem nilai dan instrumen dalam perundang-undangan dan kebijakan publik.

Sejak dihapuskannya frasa 7 Kata dalam kesatuan rangkaian Pembukaan dan Batang tubuh UUD 1945,sebagai konstitusi Negara RI, pada 18 Agustus 1945, maka episode berikutnya adalah pembunuhan karakter Islam rahmatan li l’alamin’ (IRA) dengan karakter terorisme, radikalisme, dan ekstrimisme (TRE) yang di-desain dan di-framing secara sistematis. Maka, yang dijadikan kambing hitam dan alibinya, kaum nasionalis sekuler adalah memberikan label ‘pemberontakan’ pada Gerakan NII-SM Kartosuwirjo, PRRI dan GAM.

Hal ini terutama sejak awal rezim Orde Baru berkuasa (1968) dibawah komando Ali Murtopo dan Beni Murdani. Salah-satunya dengan isu komando jihad (KOMJI), asas tunggal (astung) Pancasila, jargon ekstrim kanan (EKA) & Ekstrim kiri (EKI) dan isu Negara Islam Indonesia (NII/DI-TII), dan Pesantren az Zaitun.

Sejak berkuasanya rezim Megawati-Joko Widodo, terjadi peristiwa seperti tragedi Jihad Ambon di Maluku hingga tragedi km 50 Tewasnya Santri FPI, maka peran de-radikalisasi dan anti-terorisme ini diambil-alih oleh kalangan kepolisian, dengan berdirinya satuan Densus 88, BNPT, dan unit lainnya dibawah paying besar UU No. 2 / 2002 tentang Kepolisian Negara RI. Dari arah kebijakan politik sipil, seperti kebijakan tentang Islam dan Moderasi Beragama (IMB) digaungkan lewat lembaga-lembaga keagamaan Islam; wadah FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama), de-radikalisasi Islam dan Toleransi Islam versi Pancasila diberikan porsi anggaran besar; juga penelitian studi Islam perguruan tinggi islam dan Kerjasama dengan pihak-pihak unversitas di Barat dan USAID. Bertambah lagi dengan konsep Islam Nusantara vis as vis dengan islam Arab-Timur Tengah dan nativisme aliran kepercayaan lokal, seperti Sunda wiwitan dan sejenisnya.

Proyek Politik Islam Rahmatan lil Alamin (IRA)

Komitmen IRA versi Hasan Al Banna

Pilihan terbaik ialah memberi alternatif baru, dalam bentuk apa yang disebut Tariq Ramadhan a sebagai AL-BADIL AL-TSAQAFY atau peradaban alternatif. Artinya jadikan Islam sebagai alternatif sistem kehidupan terbaik yang komprehensif, sehingga melahirkan peradaban yang utama mengatasi atau melintasi peradaban lainnya di dunia ini. Bahwa Islam itu mengandung nilai-nilai ajaran yang selain cocok dengan kehidupan modern sepanjang zaman hingga akhir zaman, sekaligus menampilkan bentuk peradaban terbaik sebagai uswah hasanah dan rahmatan lil-’alamin.

Upaya mewujudkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin dalam dunia nyata harus dilandasi dengan komitmen atau kontrak diri. Menurut Hassan al-Banna, ada lima komitmen yang harus dipegang kuat.

Pertama, Allahu ghayatuna. Dalam arti, Allah harus menjadi titik tolak dalam mengarungi kehidupan dan mencapai tujuan hidup. Memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat harus ditempatkan sebagai tujuan etis, sementara mendapatkan rida Allah adalah tujuan spiritual, dan diterima-Nya ketika diri ini kelak kembali ke akhirat merupakan tujuan eskatologis.

Kedua, Rasulullah qudwatuna. Komitmen kedua ini adalah upaya memposisikan Nabi Muhammad sebagai satu-satunya teladan dalam menjalankan peran-peran kehidupan sebagai hamba dan khalifah Allah yang bertugas memakmurkan bumi ini dalam rangka menyelenggarakan kehidupan berperadaban tinggi.

Ketiga, Al-Qur’an dusturuna. Al-Qur’an adalah undang-undang dan sumber panduan yang utama dalam kehidupan umat beriman, tentunya dalam kehidupan bernegara dan berpemeruntahan.

Keempat, al-jihadu sabiluna. Dengan kata lain, jihad adalah jalan juang untuk mewujudkan nilai-nilai keunggulan pribadi, keluarga, umat, masyarakat, bangsa, dan negara supaya lahir baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Kelima, al-anfa’u linnasi asna amanina. Memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada sebanyak mungkin orang adalah cita-cita yang tertinggi. Hal itu hanya dapat dilakukan dengan meraih prestasi setinggi mungkin dalam mewujudkan kehidupan yang baik. Selain terus menjaga hubungan baik dengan Allah melalui aneka ibadah secara konsisten, pribadi pemberi manfaat senantiasa berupaya menjadi agen kebaikan, gemar menebarkan kasih sayang, aktif membantu kesulitan sesama, memelihara lingkungan, dan semangat menyebarkan ilmu dan kebaikan.

Model IRA versi Naquib al- Attas

Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, proyek politik Islam Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi Semesta Alam) berpusat pada islamisasi pengetahuan dan kebudayaan untuk membentuk manusia yang beradab (adab) dan berilmu, mengembalikan pendidikan Islam pada tujuannya yang hakiki, menciptakan masyarakat yang adil serta sejahtera, serta mengintegrasikan nilai-nilai Islam secara holistik, bukan sekadar meniru Barat, sehingga peradaban Islam bisa menjadi rahmat bagi seluruh manusia.

Konsep Kunci dalam Proyek Politik Al-Attas:

  1. Islamisasi Pengetahuan (Islamization of Knowledge): Mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam semua disiplin ilmu (sains, filsafat, dll.) agar ilmu tidak lagi sekuler dan dapat menghasilkan peradaban yang beretika dan Islami, bukan hanya kemajuan materialistik seperti Barat.
  2. Konsep Adab (Etika/Peradaban): Pendidikan dan politik harus bertujuan membentuk manusia beradab, yaitu manusia yang mengenal Tuhannya, dirinya, dan alam semesta, yang terwujud dalam pengetahuan (‘ilm), amal, pengajaran (ta’lim), dan pengasuhan (tarbiyah) yang baik.
  3. Pengembalian Epistemologi Islam: Pendidikan dan kehidupan publik harus didasarkan pada kerangka epistemologi Islam yang sahih, bukan mengadopsi pandangan dunia (worldview) Barat yang sekuler.
  4. Menciptakan Peradaban yang Rahmatan lil Alamin: Kebudayaan dan politik Islam yang sejati akan membawa kesejahteraan bukan hanya bagi Muslim, tetapi bagi seluruh umat manusia, dengan menjunjung tinggi nilai keadilan, kebijaksanaan, dan keseimbangan.

Penerapan Politik:

  1. Pemerintahan yang didasarkan pada adab dan islamisasi ilmu akan menghasilkan kebijakan yang berkeadilan, menyeimbangkan dunia dan akhirat, serta mendorong inovasi dan ilmu pengetahuan demi kebaikan bersama.
  2. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang sejahtera, beretika, dan berwawasan luas, yang menjadi teladan (qudwah) bagi dunia, sesuai esensi Islam sebagai “rahmat bagi seluruh alam”.

Politik islam rahmatan lil alamin (IRA) dan muslim minoritas di Indonesia dalam tinjauan politik historiografi memberikan pesan kesadaran akan kondisi nyata di Dunia Islam, khususnya di Bumi Indonesia merupakan lahan jihad dan ijtihad perlawanan (tandhim dan gazhwul fiqr) untuk meraih Islam rahmataan lil a’alamin di bawah Negara Karunia Allah. Itu dimulai dari diri kita sebagai pembawa panji IRA di lingkungan keluarga, tempat kerja, dalam skala lingkungan yang semakin meluas.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × three =