Politik Historiografi: Majapahitisme Akar Persatuan Indonesia
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
Sejarawan Publik/Penulis Buku Tetralogi Islam Bernegara & Historiografi UIBI (1916-2016)
Terasjabar.co – Sejak usia dini, anak-anak Muslim Indonesia sudah dicekoki dengan ajaran sejarah, bahwa Indonesia pernah jaya di bawah Kerajaan Majapahit. Lalu, datanglah kerajaan Islam, bernama Kerajaan Demak, menghancurkan kejayaan Hindu tersebut. Jadi, seolah-olah hendak ditanamkan pada para siswa, bahwa kedatangan Islam tidak membangun kejayaan Indonesia, tetapi justru menghancurkan kejayaannya. Islam tidak pernah menjadi pemersatu bangsa. Majapahit lah yang menyatukan Indonesia. Padahal, tidak ada bukti sejarah yang kuat, Majapahit pernah menyatukan seluruh wilayah Nusantara.
Mainstream “Majapahit-sentrisme” dalam sejarah nasional Indonesia yang dibangun di atas basis historiografi kolonial dan interpretasi nasionalistik Muhammad Yamin yang berupaya menyusun narasi besar (grand narratives) tentang Majapahit sebagai ideal-typenation-state Indonesia. Ia menyusun buku berjudul “6000 Tahun Sang Merah Putih”.
Soekarno dan Muhammad Yamin, elit pemipin nasional yang membawa politk historiografi dalam sejarah nasional Indonesia, berkeyakinan bahwa untuk mempersatukan bangsa Indonesia seluruh Nusântara pada masa-masa perjuangan menjelang kemerdekaan, maka mereka mengambil “Konsep Persatuan Nusântara” seperti yang pernah terjadi pada masa keemasan Kerajaan Majapahit.
Demikian pula, saat Hatta – Yamin, kedua tokoh ini sama-sama berinisial MUHAMMAD mengglorifikasi ‘SUMPAH PALAPA’-nya Gajah Mada (Mahapatih Majapahit) untuk mengikat etos dan mitos Kebangsaan-Nasionalisme Indonesia tatkala menghadapi MADIUN AFFAIR 1948/Pemberontakan PKI Madiun dan Gerakan DI/TII (NII)-nya SM Kartosiworjo (1949-1962).
Tesis tentang Politik Historiografi Majapahitisme
Politik historiografi tentang Majapahisime ini dibantah dalam tesis (Ahda Abid Al Ghiffari (Tesis Ilmu Sejarah UI ,2026) “Memikir Ulang Akar Kebangsaan: Respons dan Kritik terhadap “Majapahitisme” dalam Nasionalisme Indonesia (1930-1960)”.
Majapahitisme tidak dapat dipertahankan dalam kerangka persatuan Indonesia. Di tengah keberagaman dan penduduk Indonesia yang mayoritas Islam, Majapahitisme dapat membahayakan persatuan Indonesia. Majapahitisme memiliki unsur anti-Islam yang meminggirkan peran Islam dalam sejarah Indonesia
Kitab Pararaton merupakan satu-satunya sumber tertulis Majapahit yang mengemukakan adanya Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Gajah Mada di hadapan Raja Tribhūwana dalam suatu upacara pengangkatan Gajah Mada sebagai Patih Amangkubhūmi pada tahun Śaka 1256 (= 1334 Masehi). Kita tidak mempunyai sumber tertulis yang lain terutama sumber berupa prasasti yang dapat digunakan sebagai pembanding, apalagi sebagai bahan pembuktian. Kebenaran Sumpah Palapa itu sangat diragukan. Dari sepuluh daerah di Nusântara yang dicanangkan oleh Gajah Mada untuk ditaklukkan hanyalah dua yang ditundukkan oleh Gajah Mada, yaitu Bali dan Dompo. Itupun karena alasan yang lain. Jadi sebenarnya apa yang disebut “penaklukan” Nusântara atau Dwīpântra seperti yang disebutkan dalam “Sumpah Palapa” itu tidaklah pernah terjadi.
Dengan demikian maka Nusântara atau Dwīpântara itu bukanlah wilayah Kerajaan Majapahi, atau jajahan Majapahit yang diperoleh melalui penaklukkan. kerajaan Sunda, hingga Majapahit sudah runtuhpun pada tahun 1519, kerajaan Sunda masih berdiri dan merdeka, tidak pernah dijajah ataupun ditundukkan oleh Majapahit (Dr. HASAN DJAFAR, 2014).
Daerah-daerah di Nusântara tersebut merupakan daerah-daerah merdeka yang memiliki kedaulatan, dan bukanlah daerah jajahan atau kekuasaan Kerajaan Majapahit. Nāgarakṛtâgama hanya menyebut ada 15 kerajaan daerah (nāgara) yang secara keseluruhan merupakan wilayah Kerajaan Majapahit.
Dengan demikian dapat kiranya disimpulkan bahwa daerah-daerah atau kerajaan-kerajaan lain di luar wilayah Kerajaan Majapahit, yang disebut Dwipântara atau Nusântara, bukanlah wilayah taklukan atau daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit, melainkan daerah-daerah atau kerajaan-kerajaan yang merdeka dan berdaulat.
Persatuan Nusântara di bawah kerajaan adikuasa Majapahit hanyalah merupakan suatu bentuk kerjasama regional untuk kepentingan bersama. Pada masa itu Kerajaan Sunda, kerajaan Malayu dan kerajaan-kerajaan lainnya di Nusântara, adalah kerajaan-kerajaan yang merdeka dan berdaulat, tidak pernah dijajah atau ditaklukkan sehingga menjadi bagian atau wilayah Kerajaan Majapahit.
Prof. Dr. C.C. Berg sendiri melalui tulisan-tulisannya telah mengungkapkan, bahwa wilayah Majapahit hanya meliputi wilayah Jawa Timur, Bali, dan Madura. Masuknya wilayah-wilayah lain di Nusantara, hanya merupakan cita-cita, dan tidak pernah masuk ke dalam wilayah Majapahit (Lihat, Hasan Djafar, Masa Akhir Majapahit, Depok: Komunitas Bambu, 2009).
Timbulnya pemikiran tentang konsep penjajahan kerajaan-kerajaan itu adalah akibat salah penafsiran terhadap sumber Nāgarakṛtâgama karya Prapañca, sehingga timbul kesan seolah-olah kerajaankerajaan lain di luar Majapahit itu adalah wilayah jajahan Majapahit.
Selain itu, penyeragaman penulisan mainstream “Majapahit-sentrisme” untuk menguatkan citra positif terhadap aktor sejarah Majapahit dan berusaha membuat genealogi Majapahit sebagai cikal bakal negara kebangsaan Indonesia kedua setelah Sriwijaya. Hal itu bertujuan untuk menaikkan menggugah semangat nasionalisme. Apabila tidak seragam dengan penulisan mainstream “Majapahit-sentrisme” dipaksa menepi dan terpinggirkan. hal itu akibat penulisan sejarah yang bermuatan politis seperti contoh buku berjudul “6000 Tahun Sang Merah Putih” karangan Muhammad Yamin.
Sosok Gajah Mada dalam Arkeologi
Asvi Warman Adam dalam buku Seabad Kontroversi Sejarah menulis bahwa salah satu orang yang banyak menciptakan “sejarah yang bercorak nasional” alias propaganda adalah Muhammad Yamin.
Suatu hari di tahun 1940-an, Yamin mengunjungi Trowulan untuk melihat lokasi bekas kerajaan Majapahit. Yamin menemukan pecahan terakota, salah satunya berupa wajah seorang pria berwajah gempal dan berambut ikal.
Yamin memperhatikan wajah terakota itu. Berdasar air muka wajah itu, jika dilihat dengan ilmu membaca wajah atau fisiologi, Yamin menafsirkan seperti itulah wajah Gajah Mada sang pemersatu Nusantara. Meski tak semua orang sepakat dengan pendapatnya. Begitu tiba di Jakarta, Henk Ngantung disuruh Yamin membuat gambar seperti di Terakota tersebut. Sebagai sejarawan, Yamin pun akhirnya menulis biografi Gajah Mada berjudul Gadjah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara (1945).
Yamin seorang sarjana hukum kelahiran Sawah Lunto (1903) mengarang buku macam-macam, campuran antara fakta dan fiksi, termasuk 6000 Tahun Sang Merah-Putih maupun sandiwara Gadjah Mada serta Ken Arok dan Ken Dedes. Celakanya, Yamin juga jadi Menteri Pendidikan pada awal 1950an. Dia bikin macam-macam pembenaran soal “sejarah nasional.” Cerita-cerita fiksi ini lantas masuk pelajaran sekolah.
Benedict Anderson dalam buku klasik Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance 1944-1946 menulis bahwa tak ada satu orang pun yang bisa mengontrol Yamin. Orang ini keras kepala, sembarangan, menjengkelkan dan dibiarkan saja semau sendiri. Zaman itu tak ada yang peduli soal campur aduk fakta dan fiksi. Ia dianggap tak sepenting soal revolusi melawan Belanda. Yamin menerbitkan sandiwara Gadjah Mada pada 1946.
Sejarahwan Jean Gelman Taylor menulis satu bab “Majapahit Visions: Sukarno and Suharto in the Indonesian Histories” dalam buku Indonesia: Peoples and Histories. Bab ini khusus membandingkan Majapahit versi arkeologi dan Majapahit versi propaganda. Dari sudut arkeologi, Taylor menerangkan bahwa Majapahit sebuah kerajaan kecil di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Rezim Sukarno dan Suharto berkepentingan membuat mitos Majapahit sebagai kerajaan besar guna mendukung agenda mereka masing-masing: nation building dan economic development. Mereka memakai apa yang diletakkan Yamin soal Gadjah Mada untuk kepentingan propaganda masing-masing rezim.
Namun, Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar berpendapat lain soal wajah Gajah Mada. Dalam Gajah Mada Biografi Politik, ia menjelaskan arca Brajanata dan Bima sebagai dua perkembangan dari penggambaran Gajah Mada. Kendati telah wafat pada 1364, Gajah Mada atau Mpu Mada masih dikenang oleh masyarakat Majapahit. Ia dianggap oleh masyarakat Majapahit akhir sebagai tokoh besar yang diperdewa.
Dalam konsep agama, Bima juga disetarakan dengan Gajah Mada. Kitab Jawa Kuno, Brahmanda Purana, menyebut Bima sebagai aspek Siwa. Sedangkan raja-raja Majapahit seringkali disetarakan sebagai Siwa. Maka, patih amangkubhumi-nya sebagai aspek dari Sang Dewa. Selama ini arca Bima banyak ditemukan dari masa Majapahit. Pertanyaannya siapakah yang hendak diwujudkan oleh arca itu.Tokoh itu adalah Sang Mahapatih Gajah Mada.
Jejak Kehadiran Islam di Kerajaan Majapahit
Masa Kerajaan Majapahit (1293-1478) masih sezaman dengan kekhalifahan Islam di Andalusia (711-1492), Mamalik di Mesir (1250-1517), Safawi di Iran (1252-1736), Mughol diIndia (1482-1858), dan Utsmani di Turki (1290-1924). Sedangkan kerajaan yang bercorak Islam yang ada di Kepulauan Nusantara yang masih satu zaman dengan masa Majapahit adalah Samudra Pasai (1207-1524). Hal ini penting karena berkaitan dengan bagaimana masuknya Islam ke Majapahit (Isno, 2015).
Dakwah Islam di Majapahit: Syieikh Jumadil Qurro
Tokoh ulama yang pertama menyebarkan Islam di Majapahit, yaitu Syekh Jumadil Kubro. Beliau adalah pendakwah bahkan sebelum masa Wali Songo. Namanya yang melegenda di seluruh Pulau Jawa karena Syekh Jumadil Kubro adalah ulama paling awal di Jawa sebelum masa dakwahnya para Wali Songo. Beliaulah yang dianggap sebagai peletak model pendidikan Islam di Jawa (Isno, 2015). Atau bisa dikatakan sebagai tokoh Islam awal masa Majapahit. Keberadaan Syekh Jumadil Kubro di Mantingan juga disebut dalam Serat Kandha.
Ada bukti-bukti bahwa ISLAM telah dianut oleh rakyat kerajaan Majapahit. Bukti paling tua yang menunjukan adanya orang Jawa yang memeluk Islam adalah batu nisan di pemakaman Trowulan dan Tralaya di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Pemakaman tersebut letaknya di ibu kota Kerajaan Majapahit.
Di pemakaman Trowulan terdapat batu nisan tua milik seorang Muslim, pada nisannya tertulis tahun 1290 Saka atau 1368 M. pada masa itu Kerajaan Majapahit yang menganut agama Hindu-Buddha sedang berada di puncak kejayaannya. Maharaja Sri Rajasanagara yang dikenal dengan sebutan Raja Hayam Wuruk berkuasa di Kerajaan Majapahit pada tahun 1350-1389 M. Di bawah kekuasaannya konon Majapahit mencapai puncak kejayaannya.
Eksistensi Islam di Majapahit juga diberitakan dalam sejarah Melayu (The Malay Annals of Semarang and Cirebon). Salah satu bagian dalam catatan itu dinyatakan bahwa utusan-utusan Cina dari Dinasti Ming pada abad XV yang berada di Majapahit kebanyakan adalah orang-orang yang beragama Islam. Para utusan (para kaum muslim Cina yang bermazhab Hanafi) itu sebelum ke Majapahit, telah membentuk masyarakat Cina Muslim di Ku-kang (Palembang). Mereka juga bermukim di tempat lain dengan disertai pendirian bangunan Masjid. Beberapa Masjid telah didirikan di daerah kekuasaan Majapahit seperti di daerah Cangki (Mojokerto), Lasem, Tuban, T’e-Tsun (Gresik) dan Jiaotung (Jaratan).
Pada masa itu, masyarakat muslim Hanafi berkembang pesat di Jawa, sehingga Konsul Jenderal masyarakat Cina Muslim Hanafi di Asia Tenggara bagian selatan ditempatkan di Tuban. Pada masa pemerintahan Suhita (1429-1447 M), Konsul Jenderal yang bernama Haji Gang Eng Cu diberi gelar A-lu-ya (Arya) dan seorang Duta Besar Tiongkok bernama Haji Ma Hong Fu bertempat tinggal di lingkungan keraton Majapahit. Ma Hong Fu akhirnya kembali ke Cina ketika pemerintahan Ratu Suhita berakhir, Sedangkan istrinya, seorang Putri Cempa telah meninggal dunia dan dikuburkan di Majapahit (de Graaf dan Pigeaud, 1984: 13-14).
Bukti lain tentang keberadaan orang Islam di masa Majapahit dapat ditelusuri dari berita Cina. Berdasarkan Ying-yai-Sheng-lan (1416 M) dinyatakan bahwa Jawa mempunyai empat kota semuanya tanpa tembok keliling. Kapal-kapal datang dan pergi ke kota-kota itu, yaitu Tuban, Ts’e Tsun (Gresik), Surabaya dan Majapahit sebagai tempat tinggal raja. Lokasi tempat tinggal raja dikelilingi oleh tembok bata dengan tinggi lebih dari 30 kaki, dan Panjang tembok lebih dari 100 kaki serta mempunyai dua buah pintu gerbang.





Leave a Reply