Budaya Flexing di Media Sosial: Ketika Gengsi Mengalahkan Nalar Keadilan Sosial

Oleh:
Keisya Alifa
(Mahasiswa Program Studi Sosiologi, FISIP, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Terasjabar.co – Belakangan ini, media sosial makin penuh sama orang-orang yang suka pamer barang-barang yang mahal, makan di tempat fancy, atau liburan ke luar negeri. Awalnya mungkin cuma hiburan, tapi lama-lama banyak orang jadi merasa harus ikut-ikutan agar “kelihatan”. Padahal kondisi tiap orang beda-beda, tapi karena sering melihat flexing, jadi ada tekanan untuk tampil lebih dari yang sebenarnya mampu.

Masalah flexing ini sebenarnya lebih dari sekadar pamer. Tanpa sadar, budaya seperti ini membuat orang berpikir kalau nilai diri seseorang itu diukur dari apa yang dia pakai dan seberapa mewah hidupnya. Jika dikaitkan dengan Pancasila, jelas ini jauh sekali dari sila kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Karena realitanya, saat sebagian orang berlomba menunjukkan kemewahan, banyak orang lain yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kesannya jadi kayak hidup kita harus “standar tinggi”, padahal nggak semua orang punya kesempatan yang sama.

Flexing juga membuat standar hidup di medsos menjadi tidak realistis. Yang muncul di layar itu hanya bagian indahnya saja sedangkan masalahnya tidak terlihat. Tapi tetap saja, orang lain jadi ikut merasa minder atau iri. Banyak anak muda yang akhirnya milih mengambil paylater atau utang agar terlihatan “kaya”, padahal setelah itu malah pusing sendiri. Padahal, jika kita benar-benar mengikuti nilai Pancasila, terutama soal keadilan dan empati sosial, harusnya kita bisa lebih bijak. tidak semua hal harus dijadikan bahan pamer, dan tidak semuanya harus diukur dari materi. Hidup sederhana dan sesuai kemampuan itu juga bentuk mengamalkan Pancasila.

Selain itu, penting pula untuk kita sadar bahwa budaya flexing ini perlahan menggeser nilai kebersamaan. Orang jadi sibuk menunjukkan diri daripada membangun hubungan yang sehat. Padahal kalau merujuk pada Pancasila, hidup bermasyarakat itu harus didasari rasa saling menghargai, bukan saling meninggikan diri. Dengan mulai mengurangi kebiasaan pamer dan lebih fokus pada kualitas diri, kita sebenarnya sedang ikut menjaga nilai-nilai yang jadi dasar negara kita. Hal-hal kecil seperti ini justru yang membuat Pancasila benar-benar hidup dalam keseharian kita, bukan cuma sekadar diucapkan. Untuk mengurangi efek buruk ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan ialah:

  1. Literasi digital harus lebih ditekankan biar orang ngerti kalau media sosial itu cuma potongan kecil dari hidup seseorang.
  2. Influencer juga harusnya lebih sadar dampak dari konten yang mereka buat.
  3. Kita sebagai masyarakat juga harus lebih tenang dan tidak gampang terbawa arus flexing.

Pada akhirnya, fenomena flexing ini bukan cuma soal gaya hidup, tapi soal cara kita melihat diri sendiri dan orang lain. Media sosial memang memberi ruang untuk bebas berekspresi, tapi bukan berarti semua harus dijadikan ajang pembuktian siapa yang paling “wah”. Justru dengan balik lagi ke nilai-nilai Pancasila, terutama soal keadilan sosial, kita bisa belajar mengontrol diri dan tidak terbawa arus pamer yang tak ada habisnya.

Hidup itu bukan lomba saling menunjukkan siapa paling kaya, tapi bagaimana kita bisa hidup layak, wajar, dan tetap peduli dengan sekitar. Jika kita bisa sadar dan lebih bijak, budaya flexing yang sekarang merajalela bisa pelan-pelan berkurang. Yang penting, kita tahu batas dan tetap memprioritaskan apa yang benar-benar kita butuhkan, bukan apa yang cuma membuat gengsi naik sementara.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seven − two =