Corps Mubaligoh Bandung Gelar Bedah Buku “Bahasa Kalbu”, Perkuat Peran Ibu dalam Komunikasi Spiritual Keluarga
Terasjabar.co – Lebih dari lima puluh peserta yang terdiri atas para mubaligoh, dosen, pelaku usaha, dan ibu rumah tangga menghadiri kegiatan Bedah Buku “Bahasa Kalbu: Dialog Ibu dan Anak” karya Nunung Kaniawati, yang diselenggarakan oleh Corps Mubaligoh Bandung (CMB) di Gedung Dakwah CMB, Jalan Stasiun Timur Bandung, Sabtu (25/10/2025) sore.
Kegiatan bertema “Membantu Ibu Menata Kalbu” ini bertujuan memperkuat kapasitas perempuan, khususnya para ibu, dalam membangun komunikasi efektif serta menumbuhkan kesadaran spiritual dalam keluarga.
Dalam sambutan pembuka, Ketua Corps Mubaligoh Bandung Bunda Husna menegaskan bahwa buku Bahasa Kalbu bukan sekadar karya sastra reflektif, melainkan sarana pembelajaran bagi perempuan untuk memahami dinamika emosional dan spiritual dalam pengasuhan anak.
“Kita tidak hanya membedah buku, tapi juga belajar membedah diri,” ujarnya.

Sementara itu, penulis buku Nunung Kaniawati menjelaskan bahwa Bahasa Kalbu lahir dari refleksi hubungan antara ibu dan anak sebagai ruang dialog yang membentuk nilai dan karakter. Ia menekankan bahwa “bahasa kalbu” adalah komunikasi yang lahir dari keheningan batin dan ketulusan rasa, bukan sekadar rangkaian kata-kata.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta menyoroti beragam tema penting dalam buku tersebut, mulai dari keseimbangan peran ibu di era modern, komunikasi empatik dalam keluarga, hingga pengelolaan emosi dalam membimbing anak. Acara juga diisi dengan pembacaan kutipan inspiratif serta doa bersama untuk memperkuat ketahanan keluarga di tengah tantangan sosial yang kian kompleks.
Melalui kegiatan ini, Corps Mubaligoh Bandung menegaskan komitmennya dalam mengembangkan literasi spiritual dan komunikasi keluarga di kalangan perempuan. Program literasi semacam ini diharapkan dapat melahirkan lebih banyak “ibu pembelajar” yang mampu mengelola hati dan pikiran secara seimbang, sehingga keluarga menjadi pusat ketenangan dan kekuatan moral.
“Keluarga adalah sekolah pertama; bahasa kalbu adalah pelajaran utama,” demikian salah satu pesan yang menguatkan makna kegiatan tersebut.
Dukungan positif juga datang dari sejumlah tokoh perempuan. Ketua Umum PP Wanita Islam Dra. Hj. Marfu’ah Musthofa, M.Pd. mengatakan bahwa “Buku ini sangat bermanfaat, mengajarkan bagaimana komunikasi yang indah antara ibu dan anak. Doa anak yang saleh adalah cahaya bagi orangtua, bahkan setelah mereka tiada.”

Sementara Hj. Ninih Mutmainnah, Founder Pesantren Daarul Muthmainnah, menyebut buku ini sebagai karya yang sarat keindahan spiritual.
“Untaian kalimatnya sangat indah, diawali dengan ayat Al-Qur’an yang Maha Indah. Buku ini sangat tepat bagi siapa pun yang ingin mengindahkan hati dan amalnya,” ujarnya.
Senada dengan itu, Hj. Salmiah Rambe, S.Pd., politisi dan aktivis peduli perempuan serta anak, berharap buku ini menjadi inspirasi bagi para ibu dalam menunaikan peran mulia mereka.
“Semoga memberi manfaat khususnya bagi para ibu untuk menyempurnakan peran dan melimpahkan kasih sayangnya kepada putra-putri tercinta,” katanya.
Buku Bahasa Kalbu: Dialog Ibu dan Anak merupakan bagian pertama dari trilogi spiritual karya Nunung Kaniawati, yang akan dilanjutkan dengan seri Resonansi Jiwa dan Tangan-Tangan Langit. Karya ini memadukan gaya reflektif dengan nilai-nilai Al-Qur’an serta psikologi pengasuhan modern, menawarkan perspektif baru tentang komunikasi batiniah antara ibu dan anak.
Dengan bingkai ayat-ayat tematik Al-Qur’an, Bahasa Kalbu mengingatkan bahwa percakapan sederhana dalam rumah bisa menjadi penawar luka, penguat iman, dan penuntun jalan pulang bagi keluarga Muslim di tengah derasnya arus zaman.






Leave a Reply