Politik Historiografi Atas Kongres Pemuda (1928)
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik/Pusat Studi Sunda)
Terasjabar.co – Memperingati peristiwa sejarah Kongres Pemoeda II, 28 Oktober 1928, memberikan beberapa catatan kritis berdasarkan perspektif politik historiografi.
Istilah politik historiografi sebagai “perilaku kekuasaan dalam mengendalikan sejarah”, pertama kali penulis kutip dari Henk Schulte Nordholit et al. (2008:1). Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Beberapa bukti adalah adanya “penghilangan” tokoh dalam peristiwa Kongres Pemuda II; penyebutan peristiwa tersebut sebagai ‘Soempah Pemuda’ dan kata ‘Satoe” dalam isi ikrar hasil kerapatan pemoeda.
Dialog Abdul Gafur dan Ridwan Saidi
Suatu hari saat Abdul Gafur menjadi Menpora aku dimintanya menulis mengenai KONGRES PEMUDA II 1928.
“Nih Rid notulennya”, sambil Gafur serahkan setumpuk kertas. Setelah membaca dokumen yang disodorkan, beberapa waktu kemudian aku datang lagi menemuinya,
“Gue sudah baca Fur, emang lu mau terbitin?,” tanyaku.
“Ya, Kementerian Pemuda dan Olah Raga (KemenporaI yang cetak,” kata Gafur tegas.
Lalu selanjutnya aku bicara lagi: “Fur, ini notulen gue sudah baca. Di Konggree Pemuda II buat lu tau aja, KARTOSUWIRJO bicara tiga kali. Ape lu maih mau terbitin…?” tanyaku melanjutan omongan.
Abdul Gafur terlihat terkejut. Dia cepat-cepat menjawab untuk membatalkan rencana penerbitan buku itu. Sambil goyangkan tangannya dia bilang: “Rid, jangan…!”
Mewakili JIB, Partai Sarekat Islam & Fadjar Asia
S.M. KARTOSUWIRJO dalam kongres tersebut, selain mewakili PARTAI SAREKAT ISLAM juga mewakili dan bertugas sebagai redaktur FADJAR ASIA. Bahkan, Fadjar Asia-lah yang paling lengkap membritakan selama lima hari mengupas isi kongres, milai tanggal 31 Oktober, 31, 2-3 dan 5 November. Tanggal 30 Oktober berisikan sambutan dari Mr. Sartono, Abdurahman (BO), M.r Sunarjo, Inoe. Dr. Amir, Saerun (Keng Po), SM Kartosuwirjo (hoffbestuur PSI dan Pers Fadjar Asia), Sigit, Muhidin,dan Manonutu. Tanggal 31 oktober bersi pidato Moh. Yamin mengenai sejarah Indonesia mulai dari Kerajaan Majapahitsampai dengan sekarang.
SM Kartosuwirjo berbicara pada dua kali kesempatan, yaitu rapat kedua atas nama pribadi ia membahas tentang Pendidikan Islam, pendidkan sistem pondok (pesantren) dan soal-soal perkawinan. Ia juga membahas tentang pentingnya BAHASA NASIONAL sebagai bahasa persatuan untuk perjuangan, disamping Bahasa internasional (dimuat dalam Fadjar Asia, 31 Oktober 1928). Pada hari ketiga, S. M. Kartosuwirjo mengecam Tindakan PID, badan intelejen Belanda, yang berusaha menghentikan rapat tersebut. Dengan orasi itu yang didukung peserta lainnya, akhirnya rapat dapat dilanjutkan hingga selesai.
Pada 27-28 Oktober 1928 diselenggarakan Kerapatan Pemuda II atau Kongres Pemuda di gedung Indonesische Clubgebouw yang berlokasi di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta. Pertemuan ini ditujukan untuk membangun gerakan ideologi bersama melawan kolonialisme Belanda yang telah bercokol lama di bumi nusantara. Namun demikian, Kongres tersebut sebenarnya tidak menghasilkan deklarasi ataupun ikrar bersama yang selama ini kita kenal dengan istilah “Sumpah Pemuda”. Kongres hanya melahirkan putusan berupa resolusi yang tidak dibacakan serentak sebagai sumpah bersama.
Tidak ada Frase “Soempah Pemoeda”
Teks asli “Sumpah Pemuda” juga berbeda dengan apa yang saat ini sering kita lihat dan baca. Menurut ASVI WARMAN ADAM, adanya penambahan kata ‘satu’ dan pengubahan nama atas hasil Kongres merupakan upaya untuk menyederhanakan rumusan hasil Kongres. Berdasarkan penelusuran J. J. RIZAL, penyebutan istilah Sumpah Pemuda pertama kali pada tahun 1931 dalam sebuah tulisan jurnalistik karya SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA.
Selanjutnya, SOEKARNO mulai memperingati peristiwa Kerapatan Pemuda secara nasional di Istana Presiden Yogyakarta pada 28 Oktober 1949. Namun, peringatan ini untuk memperkenalkan lagu nasional ‘Indonesia Raya’, dan tidak terkait sama sekali dengan Sumpah Pemuda.
Dalam peringatan Kerapatan Pemuda ke-25 pada tahun 1953, istilah HARI SUMPAH PEMUDA secara resmi digunakan menggantikan istilah Hari Lagu Kebangsaan Indonesia Raya atas prakarsa Muhammad Yamin. Agar terkesan sakral, istilah ‘Sumpah Pemuda’ dipilih agar secara historis sejajar dengan Sumpah Palapa yang pernah diucapkan oleh Patih Gajah Mada. Soekarno pun turut menyetujui perubahan istilah tersebut.
Latar belakang istilah “Soempah Pemoeda”
Mengapa tiba-tiba dimunculkan istilah Sumpah Pemuda? Menurut ANHAR GONGGONG, pada saat itu keutuhan wilayah Indonesia mengalami ancaman separatisme. Oleh karenanya, istilah Sumpah Pemuda dicetuskan untuk menjadi tameng ideologis guna mempersatukan bangsa sekaligus menumbuhkan semangat pergerakan nasional. Untuk memperkuat strategi tersebut, Soekarno bahkan berpidato pada Oktober 1956 dengan mengatakan bahwa separatisme merupakan bentuk penyimpangan terhadap Sumpah 1928. Akhirnya, selama masa Orde Baru dan Reformasi, istilah Sumpah Pemuda semakin populer digunakan dan diperingati secara rutin setiap tahunnya.
Pada tanggal 28 Oktober 1954, Presiden Soekarno dan Muhammad Yamin membuka Kongres Bahasa Indonesia yang kedua di Medan, dan Yamin dalam kapasitasnya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kabinet Ali Sastroamijoyo memberikan pidato pembukaan.
Pada saat itu, Soekarno dan Yamin, sedang membangun simbol yang menjadi bagian dari susunan ideologi sebuah bangsa dan negara, dimana pilihannya jatuh pada tanggal 28 Oktober 1928 dan saat itu pula kata “POETOESAN CONGRES” diganti menjadi “SOEMPAH PEMOEDA”.
Sejak saat itu yakni tahun 1954, tanggal 28 Oktober dianggap sebagai hari kelahiran sumpah pemuda untuk pertama kalinya. Maka, melalui KONGRES BAHASA INDONESIA II di Medan tahun 1954 itu, telah menjadi awal yang menganggap tanggal 28 Oktober 1928 sebagai hari kelahiran Sumpah Pemuda,” katanya.
76 Peserta Kongres Pemoeda II: Salah satunya SM KARTOSUWORJO (20)
Dalam telusuran BUYA SYAFII MA’ARIF, para peserta Kongres Pemuda II itu berjumlah 700 orang, tetapi yang tercatat hanya 10%, tidak termasuk panitia intinya yang terdiri dari Soegondo Djojopoespito (Ketua), Djoko Marsaid (Wakil Ketua), Muhammad Yamin (Sekretaris), Amir Sjarifuddin (Bendahara), Djohan Muh. Tjai (Pembantu I), Kotjosoengkono (Pembantu II), Senduk (Pembantu III), J. Leimena (Pembantu IV), dan Rohjani (Pembantu V).
Berikut ini daftar nama ke 76 peserta Kongres Pemoeda II tersebut: 1. Abdul Muthalib Sangadji, 2. Purnama Wulan 3. Abdul Rachman 4. Raden Soeharto 5. Abu Hanifah 6. Raden Soekamso 7. Adnan Kapau Gani 8. Ramelan 9. Amir (Dienaren van Indie) 10. Saerun (Keng Po) 11. Anta Permana 12. Sahardjo 13. Anwari 14. Sarbini 15. Arnold Manonutu 16. Sarmidi Mangunsarkoro 17. Assaat 18. Sartono 19. Bahder Djohan 20. S.M. Kartosoewirjo 21. Dolli Salim atau Theodora Athia Salim 22. Setiawan 23. Darsa24. Sigit (Indonesische Studieclub)25. Dien Pantouw 26. Siti Sundari 27. Djuanda 28. Sjahpuddin Latif 29. Dr.Pijper 30. Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken) 31. Emma Puradiredja 32. Soejono Djoenoed Poeponegoro 33. Halim 34. R.M. Djoko Marsaid 35. Hamami 36. Soekamto 37. Jo Tumbuhan. 38. Soekmono 39. Joesoepadi 40. Soekowati (Volksraad) 41. Soemanang 42. Kadir 43. Soemarto 44. Karto Menggolo 45. Soenario (PAPI & INPO) 46. Kasman Singodimedjo 47. Soerjadi 48. Koentjoro Poerbopranoto 49. Soewadji Prawirohardjo 50. Martakusuma 51. Soewirjo52. Masmoen Rasid 53. Soeworo 54. Mohammad Ali Hanafiah 55. Suhara 56. Mohammad Nazif 57. Sujono (Volksraad) 58. Mohammad Roem 69. Sulaeman 60. Mohammad Tabrani 61. Suwarni 62. Mohammad Tamzil 63. Tjahija 64. Muhidin (Pasundan) 65. Van der Plaas (Pemerintah Belanda) 66. Mukarno 67. Wilopo 68. Muwardi 69. Wage Rudolf Soepratman 70. Nona Tumbel.
Ditambah dengan perwakilan peserta dari GOLONGAN TIMUR ASING, yaitu : 1. Kwee Thiam Hong, 2.Oey Kay Siang, 3.John Lauw Tjoan Hok,dan 4. Tjio DJen Kwi, 5. AR BASWEDAN, dan 6. Djohan Muhammad Tjai. Total berjumlah 76 orang.
Sebagai peserta Kongres Pemoeda II, SM Kartosuwirjo mewakili JIB-Cabang Surabaya, menjabat sebagai wakil Hoofdbestuur P. S. I. dan Redaktur Fadjar Asia. Partisipasi beliau dalam kapasitas tersebut memberikan sumbangan pemikiran tentang system Pendidikan Islam, Bahasa nasional, dan sisyem Pendidikan pondok, serta masalah perkawinan.
Tentang JIB (1925)
Jong Islamieten Bond adalah salahsatu peserta Kongres, dengan ketentuan, bahwa kemudian JIB tidak akan ikut fusi, karena asas JIB adalah Islam. Hal ini sudah dibicarakan sebelumnya dalam pengurus, artinya sudah ada saling pengertian. Maka dengan pengertian itu JIB masih dipandang perlu ikut serta dalam Kongres Pemuda itu. Demikian penjelasan dari Mohammad Roem (Panji Masyarakat No. 348, 21 Januari 1982).
Jong Islamieten Bond (JIB) yang dipimpin oleh R. Sjamsoeridjal lahir pada 1 Januari 1925 di Yogyakarta . Sebelumnya, R.M. Sjamsoeridjal merupakan Ketua Trikoro Dharmo atau Jong Java. Dirinya memilih keluar dari organisasi tersebut karena Jong Java telah melarang adanya diskusi tentang Islam. Jong Java adalah anggota Boedi Oetomo yang fokus dalam menegakkan Jawa Raya atau Djawanisme. Menurut Hadji Agus Salim, Jong Java hanya menjauhkan pemuda dari Islam dan politik. Dengan penasehat HOS Tjokroaminoto. KH. Ahmad Dahlan, dan H. Agus Salim, dibentuklah JIB.
Dalam pidatonya SJAMSOERIDJAL menyatakan: “Allah SWT mewajibkan kami tidak hanya berjuang untuk bangsa dan negara kita, tetapi juga untuk umat Islam di seluruh dunia. Hanya, hendaknya di samping aliran-aliran Islam, kita selalu memberi tempat kepada aliran-aliran nasionalistis. Selain kewajiban yang utama ini, kami wajib berjuang untuk umat Islam seluruhnya, sebab kami orang Islam adalah hamba Allah SWT. dan kami hanya mengabdi kepada-Nya, Yang Maha-kuasa, Maha-arief, Maha-tahu, Raja alam semesta. Inilah prisip yang menjiwai JIB”.
Kira-kira dalam bulan Maret tahun 1925 JIB berhasil menerbitkan majalah yang bernama An-Nur (Het Licht), yang dapat hidup langsung. Tidak selamanya lancar, tetapi terus-menerus. Pada halaman muka tercantum Al-Qur’an, surat At-Taubat ayat 32: “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tapi Allah tidak mengizinkan kemauan mereka, melainkan lebih mencemerlangkan cahayanya, walaupun yang kafir tidak menyukainya”.
Era kepemimpinan R. Samsurizal (Raden Sam), di JIB dari awal berdiri 1 Januari 1925 sampai tahun 1926, setelah itu berturut-turut yang menjadi Ketua JIB adalah Wiwoho Purbohadijoyo (1926-1929), Kasman Singodimejo (1929-1936), M. Arifaini (1935-1936) dan Sunarya Mangunpuspito (1936-1942). Atas perintah Pemerintah fasis Jepang semua organisasi dibekukan, termasuk JIB.
Baru pasca kemerdekaan Indonesia, sekitar tahun 4 Mei 1947, JIB “bangkit kembali” dengan nama Pelajar Islam Indonesia (PII), dideklarasikan di Yogyakarta, dengan deklalatornya YUSDI GHOZALI.
Poetosan Kongres Pemoeda II: Bukan serba SATOE
Terdapat kesengajaan yang dibuat pihak pemerintah dalam mempiblikasikan hasil-hasil kongres tersebut, yaitu POETOSAN CONGRES diubah menjadi IKRAR SOEMPAH PEMOEDA, dan isinya pun kemudian diringkaskan menjadi.
Kami, bertanah air yang satu. INDONESIA. Berbangsa Yang Satu. Bangsa Indonesia. Berbahasa yang satu: Bahasa Indonesia.
Poetesan Congres inilah yang diklaim sebagai Sumpah Pemuda berkenaan dengan Nasionalisme Indonesia, yang menyangkut nama tanah air, nama bangsa, dan nama Bahasa, yaitu INDONESIA. Pemaknaan dan konsekuensi dari sebuah Poetoesan dan Sumpah tentulah sangat berbeda!






Leave a Reply