Anak Durhaka dan Perintah Agama

Oleh: Indah Rahma (Praktisi Kesehatan)

Terasjabar.co – Sudah tidak asing ditelinga, bertebaran berita tidak masuk akal. Bahkan tak sedikit yang bertentangan dengan hati nurani. Dilansir dari liputan6.com (23/06/2024) polisi berhasil mengungkap pelaku pembunuhan yang viral beberapa pekan ini. Pasalnya korban dihabisi ketika berada di sebuah toko perabotan miliknya sendiri, sontak saja hal tersebut membuat warga geger seketika.

Kapolres Jakarta Timur Kombes Nicolas Ary Lilipaly menuturkan bahwa pelaku masih bagian dari kerabat korban, bahkan masih keluarga sendiri. Yang membuat tidak habis pikir adalah pelaku merupakan anak korban, keduanya perempuan berusia 17 dan 16 tahun. Motif yang melatarbelakangi kasus ini adalah pembalasan dendam sang anak, kedua anak perempuan lelaki paruh baya itu tertangkap basah saat mencuri uang ayahnya, karena kesal kedua putrinya tega merenggut nyawa orang tua kandungnya sendiri.

Tak sampai disitu, berita mengejutkan lain datang dari Lampung, seorang remaja berusia 19 tahun menghabisi nyawa ayahnya yang menderita stroke lantaran kesal karena diminta mengantarkan ke kamar mandi. Kasus ini terjadi di rumah keduanya, baik korban maupun pelaku tinggal satu atap.

Peristiwa terjadi ketika korban meminta tolong pelaku untuk diantarkan ke kamar mandi, sayangnya pelaku sedang makan hingga akhirnya terjadi adu mulut, namun setelah itu berubah menjadi kegiatan pukul memukul. Korban sempat dibawa kepuskesmas terdekat, namun 2 hari setelah kejadian korban menghembuskan nafas terakirnya. Apa yang terjadi dengan pemikiran anak-anak kita hari ini? Begitu mudahnya memilih menghabisi nyawa orang tuanya sendiri.

Anak Durhaka

Dewasa ini, aktivitas berbakti kepada kedua orang tua seolah merupakan tugas terberat bagi seorang anak. Tidak hanya dua kasus diatas, ada banyak peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh anak kandung kepada orang tuanya, belum lagi kasus lain yang begitu memprihatinkan. Hanya karena persoalan sepele mereka menjadi gelap mata, tak sedikit yang mengambil keputusan habisi orang yang sudah bertaruh nyawa untuk mereka. Peribahasa “air susu dibalas air tuba” memang bukan kalimat bualan saja, tapi kita berhasil menyaksikannya hari ini. Banyak kebaikan-kebaikan yang justru menghantarkan pelakunya pada jurang kematian.

Pilar terakhir yang disebut keluarga kini sudah tidak menjadi benteng perlindungan terkuat, banyak generasi muda hari ini yang hancur justru karena keluarganya. Mereka memilih lari dari keluarga untuk sesuatu yang menurutnya lebih berharga. Pandangan keluarga kini mulai bergeser dimata muda-mudi hari ini, tak sedikit yang menganggap keluarga sebagai biang keladi seluruh masalah. Begitu jauh dan rapuhnya makna keluarga hari ini. Kilauan duniawi telah sukses menyilaukan mereka, kemegahan dan materi yang ditawarkan diluar terlihat menggiurkan. Sehingga pilihan meninggalkan keluarga terlihat lebih mengasyikan, dibandingkan hidup bersama keluarga yang serba kekurangan. Bahkan aturan birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) dari agamapun sepertinya sudah tidak dihiraukan. Lantas, aturan siapa yang mereka junjung tinggi? Ketika aturan agama saja tidak mereka hiraukan, lalu aturan apakah yang mengatur mereka dalam bertingkah laku?

Robohnya Pandangan Keluarga

Sekularisme-kapitalisme telah merusak dan merobohkan pandangan mengenai kemuliaan keluarga. Mereka berhasil memunculkan bibit-bibit manusia miskin iman yang tidak mampu mengontrol emosinya barang sebentar, bahkan rapuh dan kopong jiwanya, degradasi akhlak menjadi ciri khasnya. Kapitalisme sukses menjadikan materi sebagai tujuan hidup seseorang, rela berlomba saling mengejar harta dan tahta, tak peduli halal ataukah haram. Gaya hidup yang ditawarkan sistem ini membuat mata manusia menginginkan yang namanya kekayaan, kelebihan, dan kenikmatan dunia yang tidak kita miliki.

Perintah Agama

Perintah agama menjadi aturan hidup nomor dua, menjadi kaya terlebih dahulu baru urusi urusan Tuhan, hingga abai akan kewajiban untuk berbakti pada kedua orang tua. Padahal sudah jelas di dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW, perintah agar anak berbakti kepada orang tuanya. Bahkan Allah SWT berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS Al-Isra: 23).

Sistem pendidikan sekuler tidak mendidik agar memahami makna birul walidain itu sendiri. Wajar saja, pelajaran pendidikan agama hanya diajarkan dua jam dalam seminggu dengan sistem yang masih acak adul. Sehingga banyak melahirkan generasi yang rusak akhlak dan agamanya, maka rusak pulalah hubungannya dengan sang pencipta. Penerapan sistem hidup kapitalisme gagal memanusiakan manusia. Fitrah dan akal tidak terpelihara dengan baik, sehingga menjauhkan manusia dari hakikat tujuan penciptaannya sebagai seorang hamba dan khalifah pembawa rahmat bagi alam semesta. Maka, yang ada hari ini hanyalah generasi rusak dan merusak.

Saat sistem Islam diterapkan, maka akan dipastikan pendidikan bagi generasi yang mengantarkan mereka memiliki kepribadian Islam, di antaranya adalah sikap berbakti dan menghormati kedua orang tuanya, serta memiliki kemampuan dalam mengendalikan emosi. Mampu mengelola dan mengontrol mental dan jiwanya sesuai ajaran agamanya. Islam memiliki mekanisme dalam menjauhkan generasi dari kemaksiatan dan tindak kriminal yaitu dengan mendekatkan mereka pada kehidupan beragama yang kaffah, menjadikannya aturan bagi kehidupan mereka. Juga menegakkan sistem sanksi yang menjerakan sehingga dapat mencegah semua bentuk kejahatan termasuk kekerasan anak pada orangtua atau sebaliknya. Kehidupan Islam adalah kondisi yang efektif dan kondusif bagi tumbuhnya remaja-remaja yang menaati Allah dan Rasul-Nya, juga berbakti kepada kedua orang tuanya.

Wallahu’alam bishshawab.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *