Pulih Lebih Cepat, Bangki Lebih Kuat
Oleh:
DEDI ASIKIN
Terasjabar.co – “Pulih Lebih Cepat, Bangki Lebih Kuat”, itu adalah motto atau tema peringatan hari Kemerdekaan RI yang ke 77 tahun 2022.
Beberapa teman saya menyebut tema itu sedikit progresif revolusioner. Ya memang tantangannya begitu. Apalagi jika dikaitkan dengan keinginan Presiden Jokowi bahwa Indonesia akan menjadi Negara termaju di dunia ke-7 pada tahun 2030 dan ke 4 pada tahun 2045
Presiden kan bukan MIMPI siang hari. Bukan ngalamun sambil jalan kaki. Tapi tentu dengan itung-itungan yang hampir matematis. Itu cita-cita. Cita-Cita itu bukan mimpi. Cita-cita itu bisa diraih dengan proses perjalanan lurus dan lihat kedepan.
Memang tepat motto atau tema itu. Ekonomi kita cepat pulih, semangat bangkit kita harus kuat. Tema itu diatur melalui keputusan Menteri Sekretariat Negara No.B.620/M/S/TU.OOO.O4/7/2022 tanggal 12 Juli 2022.
Ada cerminan dari sebuah bangsa yang dinamis,ber sinergi, tegas dan lugas. Juga menandakan refleksi dari nilai nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, menuju Indonesia maju. Lebih detailnya mari kita coba urai makna filosofi yang ada di dalamnya:
- Dua panah keatas melambangkan percepatan dan pergerakan,
- Dua anak tangga sinyal dari progress pembangunan di semua lini,
- Bagian atas terpotong, perlambang demokrasi dan transfaransi,
- Garis miring dan sudut runcing melambangkan semangat juang yang diinspirasi oleh bambu runcing,
- Dua garis melengkung,sinergi dan kebersamaan,
- Sudut penghubung , lambang persatuan antar bangsa dan
- Siluet angka 1 memanipestasikan persatuan Indonesia.
Setidaknya dalam dua tahun terahir ini kita seperti juga bangsa lain, menghadapi tantangan dan ujian sejarah yang teramat dahsyat. Kecemasan sosial dan tekanan ekonomi yang berat dipundak rakyat. Hanya persatuan dan kebersamaan dibawah panji Bhineka Tunggal Ika yang membuat bangsa ini kuat dan mampu bertahan.
Hantaman pandemic Covid-19 memacu pemerintah dan rakyat bersinergi menghadapi semua tantangan yang sudah berskala global. Indikasi bahwa kita akan pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat tergambarkan dari dua aspek. Pertama tentang pertumbuhan ekonomi dan Kedua surplusnya neraca perdagangan global.
Pertumbuhan ekonomi kita pada quwartal I 2022 mencapai 5,47 %, naik sedikit dari quwartal ke III 2021 yang 5,01%. Yang tak kalah dan menampakkan udara cerah adalah surplusnya neraca perdagangan luar negeri. Ini artinya nilai ekspor lebih tinggi dari pada impor.
Menurut Kepala BPS Margo Yuwono selama Mei 2020 sampai Desember 2021 (20 bulan) kita surplus $21,62 milyar. Padahal sejak 2006 kita selalu defisit. Tahun 2019 masih defisit mencapai $.3,59 milyar.
Kepala BPS waktu itu Cacuk Sudaryanto menyebut beberapa hal yang membuat perdagangan global kita rugi, antara lain yang kita ekspor kebanyakan barang mentah, kualitas rendah, dan kita terlalu banyak berdagang ke Negara yang sedang perang dagang, seperti Amerika, Jepang dan China.
Hal lain nya tentu saja kita terlalu banyak impor. Impor kita kata Cacuk tak hanya barang barang teknik untuk keperluan industri domestik tapi juga barang konsumsi. Kita masih import tektek bengek mulai dari beras, gula pasir, daging sapi, sapi, kedele, gandum, bawang putih, jagung bahkan juga garam. Ironis bahkan tragis memang. Negara yang memiliki lautan dengan luas 2/3 dari sekitar 9,1 juta km2 luas seluruh wilayah Nusantara ini, kok garam saja harus beli ke negeri orang. Bukankah bikin garam itu cuma mengendapkan air laut doang?
Sekarang neraca perdagangan kita sudah surplus. salah satunya disebabkan kinerja dan semangat presiden Jokowi menghentikan ekspor barang mentah. Sekarang semua barang yang mau diexport harus diproses menjadi barang jadi, minimal separo jadi.
Pemerintah sekarang sudah dan akan terus melakukan hilirisasi industri. Tidak ada tawar menawar lagi tegas Presiden Jokowi, ketika membuka smelter (pabrik pengolahan) neckel di Konawe Sulawesi Selatan.
Jokowi menjelaskan bahwa berdagang barang mentah itu untungnya cuma seuprit. Kita ini sejak jaman VOC selalu menjual mentahan. Ambil langsung kirim. Yang menikmati kelebihannya negara dan rakyat yang membeli. Disana mereka olah,tenaga kerja terserap. Kita juga tidak tahu jangan jangan dari tembaga itu ketika dimurnikan ditemukan gumpakan emas. Itu kan jadi rezeki yang dibuang sayang. Sementara kita yang punya barang gigit jari.
Jadi presiden menekankan agar tahun 2024 tidak ada lagi yang jual mentahan. Perusahaan Swasta kalau tak punya modal gabung dengan BUMN atau perusahaan luar yang memenuhi ketentuan.
“Tidak ada tawar menawar lagi. Biar saja WTO (World Traders 0rganitation) atau Masarakat Ekonomi Eropah protes atau menggugat sekali pun.Barang punya kita kok”, tegasnya.
Presiden juga memberi gambaran perbedaan jual mentah dengan hasil olahan (smelter) jauh bedanya. Dari neckel misalnya ketika dijual mentahan kita hanya dapat $.1,3 milyar. Tapi setelah diolah naik jadi $.3 milyar.
Freepot yang bertahun tak pernah dengar permintaan kita agar membangun smelter, sekarang setelah saham kita menjadi,51% baru mau membangun. Mereka sedang membangun smelter untuk pengolahan tembaga di Gresik.
Menurut ketua Perkumpulan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Rizal Kasli untuk memenuhi keinginan presiden sampai 2024 ada 53 smelter yang harus dibangun.
Itu cukup berat. Itu bukan pekerjaan ringan. Investasinya juga tinggi kata dia seraya meminta agar pemerintah terus hadir ditengah tengah upaya para pengusaha melaksanakan kebijakan Negara itu.
Masih kata dia, sampai 2021 sudah 21 smelter yang dibangun. Tahun 2022 ini sedang dibangun 7 buah lagi. Tapi apapun adanya, kita tetap harus “Pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat” yang “letoy” silahkan minggir.






Leave a Reply