Provinsi Sunda: Dari “Cyunda”, Peta Sundaland, “Tatar Sunda”, hingga “Sunda”
Oleh:
Oman Abdurahman
Terasjabar.co – Nama “Sunda” hari ini melekat kuat dalam memori kolektif bangsa Indonesia sebagai identitas geografis, kultural, maupun geologis yang sangat luhur. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa terminologi ini merupakan buah dari jalinan kosmis yang panjang, melintasi ruang waktu sejak para penjelajah samudra barat pertama kali mencari episentrum rempah-rempah dunia. Menggali asal-usul kata “Sunda” bukan sekadar melakukan romantisisme sejarah lokal, melainkan sebuah ikhtiar penting dalam merawat bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui pemeliharaan ingatan kolektif akan ilmu pengetahuan. Jejak penamaan ini membuktikan bahwa jauh sebelum istilah “Nusantara” dipopulerkan kembali, dan berabad-abad sebelum nama “Indonesia” dilahirkan sebagai identitas politik yang berdaulat, bentang alam fisik tanah air telah dikenal dan diakui oleh dunia internasional sebagai panggung sains global yang paripurna, melalui nama “Sunda”.
Tantangan terbesar dalam narasi kebangsaan modern adalah memudarnya pemahaman generasi muda tentang bagaimana wilayah Nusantara dikonstruksikan di atas peta ilmu pengetahuan dunia. Pada masa awal penjelajahan samudra, para pelaut Eropa membutuhkan sebuah penanda alam (landmark) yang kokoh sebagai navigasi bahwa mereka telah sampai di kepulauan rempah. Dari kejauhan laut lepas, pandangan mereka terpaku pada jajaran gunung api raksasa yang puncaknya tampak putih bersinar—baik karena diselimuti abu vulkanik pasca-erupsi kolosal, pantulan cahaya, maupun endapan belerang putih—yang dalam pendengaran melahirkan sebutan “cyunda” (putih/bersinar). Catatan tertulis pertama yang mengabadikan kata ini secara otentik lahir dari pena Tomé Pires melalui mahakaryanya Suma Oriental (1512-1515), yang kemudian disalin oleh para ilmuwan kartografi (peta) Eropa ke dalam peta-peta navigasi dunia, sekaligus menandai babak awal introduksi nama Sunda ke dalam dokumen sains internasional.
Di kalangan ilmuwan lintas disiplin ilmiah terutama geografi, geologi, dan biologi, istilah Sunda kemudian menjadi kosa kata baku yang sangat lumrah untuk menggambarkan kedahsyatan sasis fisik bumi Nusantara. Para ahli kartografi (peta) dan geografi lawas mengelompokkan pulau-pulau besar wilayah barat sebagai Soenda Mayor (Sunda Besar) dan gugusan pulau timur sebagai Soenda Minor (Sunda Kecil), serta mengabadikan nama Soenda Zee (Laut Sunda, yang kini dikenal sebagai Selat Karimata), Selat Sunda, Gunung Sunda Purba, hingga Palung Sunda di Samudra Hindia. Wibawa ilmiah ini mencapai puncaknya ketika ahli geologi Gustaaf Molengraaff (1919) mencetuskan istilah Sundaland ( Paparan Sunda), disusul oleh analisis struktur tektonik komprehensif dari para geolog dunia hingga pasca-kemerdekaan 1945. Bahkan di bidang taksonomi biologi, kata Sunda diabadikan sebagai nama ilmiah untuk lebih dari dua puluh takson spesies dan genus endemik lewat sufiks “sondaica” atau “sundaicus”, menegaskan bahwa memakai istilah “Sunda” sama dengan merawat rantai emas historiografi sains kebumian dunia.
Fakta empiris sains kebumian global tersebut berjalan selaras dengan memori lokal yang tersimpan rapat dalam manuskrip-manuskrip kuno, yang melestarikan ruang hidup mereka dengan sebutan Tatar Sunda atau Tanah Pasundan. Berdasarkan kajian sejarawan Edi S. Ekajati, 1995, kronologi pengenalan identitas spasial kita memiliki strata sejarah yang jelas: setelah dunia mengenal wilayah ini lewat terminologi geologi-geografi “Sunda”, barulah masyarakat luas memopulerkan kembali istilah politis-kultural “Nusantara” pada era Majapahit, sebelum akhirnya seluruh rangkaian sejarah tersebut mengkristal seutuhnya dalam nama persatuan “Indonesia”. Dalam konteks geopolitik daerah modern, penamaan “Tatar Sunda” sejatinya mencakup wilayah yang utuh jika Cirebon (dan juga Banten) tetap berada dalam satu kesatuan pemerintahan daerah. Namun, jika wilayah-wilayah tersebut memilih untuk memisahkan diri secara administratif, maka pilihan nama yang paling inklusif, objektif, dan berwawasan ilmiah bagi provinsi ini mungkin cukup dengan sebutan Provinsi Sunda saja.
Melalui pemahaman esai ini, kita diajak untuk melihat masa depan NKRI dari fondasi sejarah, geologi, dan sains yang teramat kokoh serta bebas dari bias klise. Nama “Sunda”—dari sebutan gunung putih “Cyunda”, catatan Tomé Pires, pembagian sasis kepulauan di peta dunia, determinasi ilmiah Sundaland, hingga eksistensi kebudayaan Tatar Sunda—adalah bukti otentik bahwa kedaulatan tanah air kita dibentuk oleh rancangan alam yang agung. Seberapa terang visi kita ke depan, sangat bergantung pada seberapa jauh kita bisa memahami masa lalu kita sendiri. Dan ingatan akan asal-usul atau sejarah sebuah nama yang maknanya tidak jelek, bahkan sangat bagus dan bermartabat seperti kata “Sunda” ini, adalah bagian dari ikhtiar suci dalam rangka memahami masa lalu tersebut demi merawat masa depan peradaban bumi Nusantara yang berdaulat seutuhnya!






Leave a Reply