LANGIT JAUH LEBIH TINGGI
Oleh:
Ganjar Kurnia
Terasjabar.co – Ada orang yang setiap pagi bercermin, tetapi bukan untuk melihat wajah. Ia sedang mereka isi batinnya sendiri. Di depan cermin itu ia berdiri tegak, rambut disisir, baju dirapikan, lalu pelan-pelan merasa bahwa dirinya adalah edisi manusia yang sudah diperbarui: versi 7.0, bebas bug, sudah dilengkapi fitur saleh otomatis.
Cermin tentu saja tidak berkata apa-apa. Cermin benda sopan. Ia hanya memantulkan. Tetapi manusia sering lebih bawel daripada cermin. Dari pantulan itu, tiba-tiba lahir kesimpulan besar yang tidak pernah diminta oleh alam semesta: “Rasanya saya lebih baik daripada orang lain.”
Ada kalimat kecil, pendek, hemat suku kata, tetapi dampaknya bisa membuat langit mengernyit. Ia tidak selalu keluar dari mulut. Kadang ia hanya duduk diam di dalam hati, lalu memandang orang lain sambil berkata: “Aku lebih baik.”
Kalimat tersebut usianya lebih tua daripada foto profil berlatar rak buku. Dulu, kalimat itu pernah diucapkan dengan sangat meyakinkan oleh makhluk yang merasa bahan bakunya lebih premium. Api memandang tanah dengan gaya aristokrat. Seolah-olah api selalu identik dengan keluhuran, padahal api juga bisa membakar warung, merusak dapur, dan membuat orang satu kampung panik mencari ember. Tanah dianggap rendah, padahal dari tanah tumbuh padi, pohon, bunga, dan kuburan tempat semua gelar akhirnya ditanam.
Tetapi begitulah. Sejarah kesombongan tampaknya dimulai dari salah paham tentang bahan baku pada saat manusia pertama diciptakan. Manusia kemudian mewarisinya dengan bentuk yang lebih kreatif. Ada yang merasa lebih baik karena ilmunya lebih banyak. Ada yang merasa lebih tinggi karena ibadahnya lebih rapi. Ada yang merasa lebih bersih karena dosanya belum viral. Ada yang merasa lebih mulia karena jabatannya memiliki kop surat. Ada yang merasa lebih benar karena selalu duduk di barisan depan, walaupun hatinya kadang parkir di tempat paling belakang.
Kesombongan memang tidak selalu memakai mahkota. Kadang naik mobil mewah. Kadang memakai peci putih. Kadang memakai dasi. Kadang memakai sorban. Kadang memakai toga dan kadang-kadang lainnya yang bukan kadang-kadang.
Manusia memang sering terlalu sibuk menjadi panitia penilaian. Menilai orang lain dengan teropong, tetapi melihat dirinya sendiri dengan kamera buram. Kesalahan orang tampak seperti baliho raksasa di perempatan. Kesalahan sendiri tampak seperti semut batuk di balik lemari. Lucunya, kita sering merasa lebih baik justru ketika belum tahu cerita lengkap orang lain. Kita hanya melihat satu halaman, lalu menulis resensi seluruh buku kehidupannya.
Penyakit merasa lebih hebat ini sering datang sangat halus. Tidak seperti masuk angin yang membuat orang mencari kerokan, ia datang dengan wewangian amal. Masuk lewat pintu ilmu, lalu duduk di ruang tamu ibadah. Mula-mula hanya merasa “saya sudah lumayan”, lama-lama menjadi “mereka kok belum sampai ke tingkatan saya”. Setelah itu, lengkaplah sudah: batin berubah menjadi kantor imigrasi yang sibuk memberi cap rendah kepada orang lain.
Akhirnya, dunia ini menjadi semacam lomba diam-diam. Bukan lomba memperbaiki diri, tetapi lomba merasa diri lebih selesai daripada orang lain. Padahal manusia tidak pernah benar-benar selesai. Kita semua masih berupa draf kasar yang sering salah ketik. Bedanya, ada yang sadar dirinya masih draf, ada yang sudah mengira dirinya edisi cetak lux dengan sampul keras. Di titik itulah cermin mulai lelah. Barangkali kalau cermin bisa bicara, ia akan berkata, “Saudaraku, saya ini hanya memantulkan wajah, bukan menerbitkan sertifikat kemuliaan.” Padahal kita yang merasa tegak, jangan-jangan hanya belum diuji dengan angin yang cukup kencang.
Kesombongan seringkali punya humornya sendiri. Ia membuat orang merasa besar, padahal sedang mengecilkan dirinya. merasa suci, padahal sedang mengotori cermin batinnya sendiri. Ia sibuk mengukur orang lain, padahal meterannya rusak sejak dari pabrik.
Barangkali karena itu, ada larangan yang sangat puitis sekaligus menusuk: jangan menganggap diri suci. Sebab yang paling tahu siapa yang bertakwa bukan lidah kita, bukan komentar orang, bukan riwayat organisasi, bukan jumlah undangan ceramah, bukan pula foto sedang menatap jauh ke arah matahari terbenam. Yang paling tahu hanya Dia, dan manusia sebaiknya tidak terlalu bernafsu mengambil alih pekerjaan Tuhan. Sudahlah jangan selalu marasa paling hebat. Langit jauh lebih tinggi, sementara tanah setia menunggu.






Leave a Reply