Kisah Cianjur dan Jejak Toponimi

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Pusat Studi Sunda/PSS Bandung)

Terasjabar.co – Membaca kisah terbentuknya Kabupaten Cianjur kita lakukan dengan pendekatan toponimi. Toponimi merupakan hasil budaya yang merekam pengalaman, pengetahuan, dan kearifan lokal masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya (Sobarna, 2020).

Kata ‘kisah’ yang terekam dalam al Quran sebagai nama salah-satu suratnya (al Qoshsoh) yang arti generiknya adalah ‘tanda jejak’. Secara etimologi al-Qasas berarti ‘mengikuti’, karena makna kisah secara bahasa adalah pengikutan,seperti pada ayat “Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan, “ikutilah dia!” (QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 11) Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya.” Jadi lafal Quṣṣih (dalam ayat diatas, maksudnya adalah “ikutilah jejak dia!”, kemudian Allah berfirman: Artinya: “Musa berkata: “itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula” (QS Al-Kahfi [18]: 64: Louis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam (Beirut: Dar al-Mashriq, 2003), 631.

Toponimi, atau ilmu yang mempelajari nama-nama tempat, merupakan bidang kajian interdisipliner yang berada di persimpangan antara linguistik, geografi, dan antropologi budaya. Kajian ini berfokus pada asal-usul, makna, struktur, serta fungsi sosial dan kultural dari penamaan tempat oleh masyarakat. Di balik setiap nama tempat, baik itu desa, sungai, gunung, jalan, maupun wilayah administratif, tersimpan jejak sejarah, persepsi kolektif, relasi manusia dengan lingkungan, bahkan ekspresi kekuasaan dan identitas. (Lukmanul Hakim & Aziz Thaba,2025).

Penamaan suatu daerah menjadi penting bagi identitas suatu objek penanda sekaligus batas wilayah. (Sugiri, 2003: 56) Jika merujuk berdasarkan referensi akademis, bahwa toponimi adalah nama objek tempat yang dibuat oleh manusia (Hanks 2011:344). Toponimi suatu tempat sebagai produk budaya historis dan simbolik Liliweri (2014:7-8). Nama tempat yaitu tanda yang mengacu pada cerita atau sejarah yang berakar pada budaya lokal Radding dan Western (2010).

Sebuah artikel ilmiah ditulis oleh Sideriusa W., H. de Bakker, dengan judul “Toponymy and soil nomenclature in the Netherlands” disebutkan bahwa dalam penentuan nama kewilayahan di Belanda mengikuti nomenklatur yang dibuat oleh pemerintah berdasarkan reklamasi, ciri khas pertanian suatu wilayah, dan penamaan sebuah wilayah baru di masa lampau. (Bakker, 2003:528-529).

Cianjur sebagai Ibukota Prangan (Preanger)

Cianjur pernah menjadi ibu kota Priangan sejak tahun 1677 di bawah kekuasaan VOC. Akibat Gunung Gede meletus (1834 dan 1844) mendorong pemerintah kolonial Belanda memindahkan ibu kota Priangan dari Cianjur. Haryoto Kunto dalam Seabad Grand Hotel Preanger, 1897–1997 mencatat, pemindahan ibu kota Priangan telah sejak tahun 1819 dinantikan dan disarankan oleh dr. Andries de Wilde, tuan tanah Priangan bekas dokter pribadi Gubernur Jenderal Daendels dan Raffles. Namun, baru pada 1856, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Ch. F. Pahud (menjabat 1856–1861) memerintahkan ibu kota Priangan dipindahkan dari Cianjur ke Bandung.

“Terhitung sejak tahun 1866 Bandung telah menjadi tempat kedudukan pemerintahan bangsa kulit putih…,” tulis Haryoto Kunto. Van der Moore baru menempati kediaman resminya (residentswoning) pada 1867 yang kini menjadi Gedung Pakuan, rumah dinas gubernur Jawa Barat.

Berdirinya Kabupaten Cianjur

Sejarah berdirinya Kabupaten Cianjur secara keseluruhan dimulai sekitar abad ke-17. Kala itu, daerah ini terdiri atas satuan-satuan masyarakat lokal yang dikenal dengan istilah padaleman. Tiap-tiap padaleman tersebut dipimpin seorang penguasa yang disebut dalem.

Sistem pemerintahan ini kira-kira setara dengan nagari yang ada di Minangkabau. Terdapat ada 6 (enam) padaleman di daerah ini saat itu, yakni Cikundul, Cimapag, Cipamingkis, Cihea, Cibalagung, dan Cikalong. Pada masa selanjutnya, setelah dibuat kesepakatan di antara para dalem, keenam padaleman tersebut dilebur menjadi satu dengan nama Padaleman Cianjur. Reiza D Dienaputra, dkk. (2006) menyebutkan, padaleman baru ini kemungkinan besar dibentuk sesudah 1619.

Aria Wira Tanu diangkat menjadi Dalem Cianjur pertama. Di awal masa pendirian daerah ini, ia memusatkan pemerintahannya di Cikundul. Kota “Cianjur lama” ini terletak sekitar 25 km sebelah timur laut pusat kota Cianjur sekarang. Sebelum adanya penyatuan padaleman-padaleman tersebut, Aria Wira Tanu memang sudah lebih dulu menjabat sebagai Dalem Cikundul. jelas Tatang. Lokasi makam “Bupati” Cianjur pertama itu masih bisa dilihat di Desa Majalaya, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

Asal-usul Kata ‘Bupati’ dan ‘Cianjur’

Sebagai awalnya, kita harus menelusuri dulu asal-usul penggunaan kata ‘bupati’ dan kata ‘cianjur’ berdasarkan sumber-sumber tertulis.

Kata ‘bupati’ Berasal dari kata bahasa Sanskerta bhūpati (bhū = tanah, pati = tuan/raja). Istilah ini sudah tercantum dalam prasasti Telaga Batu (abad ke-7) untuk merujuk pada penguasa atau kepala. Di masa Majapahit, struktur jabatan ini makin jelas. Para bhupati memimpin mandala atau kadipaten, punya pasukan sendiri, tapi harus tetap setia kepada raja.

Begitu Belanda membentuk Hindia Belanda, gelar bhupati diadopsi dan diubah menjadi regent, sementara wilayah kekuasaannya disebut regentschap (kabupaten). Di masa kolonial, jabatan bupati biasanya dipegang bangsawan lokal (priyayi) karena dianggap punya pengaruh di masyarakat. mereka sebagai penghubung antara rakyat dan pemerintah kolonial, sekaligus pelaksana kebijakan seperti tanam paksa (cultuurstelsel). Dalam sistem kolonial, Bupati setara dengan Asisten Residen di pemerintahan Eropa. Dalam pembagian administratif kolonial, wilayah kabupaten setara dengan afdeeling.

Cianjur: Sumber Administratif dan Sejarah Lisan

Untuk mengetahui toponimi kata ‘cianjur; dapat didekati atas dua sumber, yaitu administrasi Hindia Belanda dan sejarah lisan. Dalam artikel berjudul “Kemunculan Awal Nama Cianjur dalam Laporan VOC”, Ilham Nurwansah, filolog asal Cianjur memberikan informasi akurat tentang ‘cianjur’ sebagai nama kewilayahan sejak VOC hadir di Jawa.

Menurutnya, sebutan Cianjur yang kita kenal saat ini berawal dari “simapack en ‘t santoir” dalam naskah dagregister 20 Februari 1678 (sumber: ANRI).

Berikutnya, kita tinjau kembali bagian yang sama dalam terbitan buku Priangan jilid 3 yang juga disusun oleh de Haan (1912) halaman 118.

Die van Seribon hebben alsmede in ‘t geberchte Simapack en ‘t Santoir (less: Tsiantoir) beset, dat de coopluijden niet meer naer Batavia mogen gaan”.

Bayu Suryaningrat juga mengutip pernyataan de Haan tersebut sebagai rujukan dengan terjemahan dalam bahasa Sunda.

jalmi-jalmi ti Cirebon geus ngarebut/nyaricingan pagunungan Cimapag jeung pagunungan Cianjur, yen padagang-padagang teu meunang arindit deui ka Batavia.”

Jadi, Cianjur itu diambil dari pengucapan Tsiantoir oleh lidah pribumi Sunda saat itu menjadi Cianjur.

Kemudian, de Haan juga memberikan tafsiran bahwa berdasarkan surat dari Bupati Sumedang dalam laporan persitiwa penghadangan jalur perdagangan itu, penyebutan nama Cimapag yang kemudian menjadi bagian dari Cikalong menjadi petunjuk yang kuat tentang berdirinya Cianjur, tanpa perlu bergantung kepada pihak Cirebon.

De eerste vermelding van Tjiandjoer is D. 20 Jan. 1678 in een brief van den Regent van Soemedang: “Die van Seribon hebben alsmede in ’t geberchte Simapack en ’t Santoir (lees: Tsiantior) beset, dat de coopluijden niet meer naer Batavia mogen gaen”. Cheribon lei dus in de troebelen de hand op den belangrijksten verkeerweg van Batavia met de Preanger (zie § 226). Aangezien nu Tjimapag nog veel later onder Tjikalong behoorde (§ 227), is het niet onwaarschijnlijk dat hier de stichting van Tjiandjoer wordt bedoeld, waarbij niet aan koloniseering van uit de hoofdstad Cheribon behoeft te worden gedacht.

Terjemahan1: Penyebutan pertama Tjiandjoer tercatat pada D. 20 Januari 1678 dalam sebuah surat dari Regent Soemedang: “Mereka dari Seribon juga menduduki daerah pegunungan Simapack dan Santoir (baca: Tsiantior), sehingga para pedagang tidak lagi diizinkan pergi ke Batavia”. Dengan demikian, dalam kekacauan tersebut, Cheribon mengendalikan jalan utama dari Batavia ke Preanger (lihat § 226). Karena Tjimapag kemudian menjadi bagian dari Tjikalong (lihat § 227), bukan tidak mungkin bahwa ini merujuk pada pendirian Tjiandjoer, tanpa perlu mempertimbangkan kolonisasi dari ibu kota Cheribon.

‘Cianjur’ dalam Sejarah Lisan & Kearifan

“Anjur” dina Kamus Sunda-Inggris (Hardjadibrata, 2003: 31) aya du harti. 1) ngaran alat pikeun ngunjal cai, dijieun tina gagang anu dicekahkeun, di tengahna maké daun jambé. 2) ‘nganjurkeun’ neundeun ka hareup, nyarankeun; ‘panganjur’ stimulus, bobotoh. 1) terjemahan Bahasa Indonesia, “nama sebuah alat untuk memompa air, terbuat dari gagang yang dipilin, dengan daun jambé di tengahnya.

Menurut filolog Sunda-Cianjur,Irwan Nurwansah, arti ke-satu, dalam kamus tersebut yang sesuai dengan makna asal-usul kata Cianjur jika merujuk kepada peristiwa dalam sejarah lisan masyarakat Cianjur awal mulanya.Sedangkan dalam Kamus Sunda-Indonesia (1985,Pusat Bahasa), entri kata kata ‘anjur’ tidak ditemukan. Dalam kamus Bahasa Indonesia, kata ‘anjur’ adalah verba atau kata kerja.

Ada pula yang menyebutkan asal usul nama Cianjur berasal dari kata “Ciandeyur”, yang merupakan gabungan dari dua kata dalam bahasa Sunda. Yaitu “ci” yang berarti air dan “andeyur” yang berarti hulu atau sumber. Namun, dalam Kamus Basa Sunda, tidak ditemukan etri kata ‘andeyur’ itu. Dalam hal sungai, kita mengenal sebutan ‘hulu’ dan ‘hilir’.

“Cianjur Katalanjuran”: Cacandraan

Cacandran adalah ungkapan khas dalam bahasa Sunda yang memiliki makna mendalam dan filosofis. Secara harfiah, kata “cacandran” berasal dari kata “candra” yang berarti bulan atau nataan (susunan). Namun, dalam konteks budaya Sunda, cacandran memiliki makna yang lebih luas, yaitu deskripsi singkat dan puitis tentang suatu tempat atau daerah yang mengandung makna simbolis.

Asal kata ‘lanjur’ yang berarti lewat atau terlewati. “Katalanjuran” adalah bagian dari cacandran (ungkapan ramalan leluhur Sunda) untuk wilayah Cianjur, yang berarti “kaliliwatan” atau hanya sekadar terlewati/tersinggahi. Ungkapan ini merujuk pada kondisi masa lalu di mana Cianjur seringkali hanya menjadi tempat persinggahan perjalanan antara Bandung dan Batavia (Jakarta), bukan tujuan akhir.

Toponimi: Jejak Perjalanan Wira Manggala

PERJALANAN Rd. Wira Manggala (Rd. Aria Wiratanu II-Dalem Tarikolot.) putra Rd. Jayasasana hingga menemukan Kawasan pusat pemerintahan Cianjur yang sekarang memberikan jejak toponimi, seperti:

  1. Muka (muka, ngabababakan)
  2. Sayang heulang (banyak burung elang)
  3. Panembong (katembong) Panembong berasal dari bahasa Sunda “katembong” yang artinya terlihat
  4. Kampung pasarean. (Dalam Bahasa Indonesia, pasarean artinya tempat beristirahat).
  5. Salakopi pohon salak dan pohon kopi.
  6. Pamoyanan, pada tahun 1690 dibangunlah kademangan Pamoyanan. Daerah pamoyanan merupakan daerah yang sesuai dengan petunjuk dari ayahnya. Disekitar Pamoyanan terdapat sungai yang cukup besar. Sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat setempat. Sampai sekarang sungai itu dinamakan sungai cianjur dan akhirnya daerah Pamoyanan diberiakan nama “Pamoyanan Tepising Cianjur”.

Menurut Pepet Johar, awalnya, Raden Wiramanggala membuka lahan pertama di Kampung Muka. Muka, berasal dari Bahasa Sunda artinya membuka. Di sana, Dalem Pamoyanan membuka lahan pertama kali. Selanjutnya, membuka lahan di Kampung Sayang Heulang atau yang kini diketahui sebagai Jalan Bypass/Dr. Muwardi. Penamaan ‘sayang heulang’ karena daerah tersebut banyak terdapat sarang burung elang.

Berlanjut terus ke barat ke arah yang kemudian disebut ‘Panembong’ dari kata ‘katembong’, artinya terlihat. Raden Wiramanggala melihat dan menyadari jika datarannya menurun ke arah timur, seperti yang disampaikan orang tua sebelumnya. Lalu, Rd. Wiramanggala melanjutkan pembukaan lahan ke arah tenggara,yang diberi nama ‘selakopi’, karena dirinya melihat bunga kopi yang terselip di antara sela-sela pohon salak.

Dari kampung salakopi, rombongan melanjutkan perjalanan. Namun karena hari sudah menjelang sore, rombongan mencari tempat untuk beristirahat. Tak jauh dari daerah dataran rendah itu, terdapat sungai yang tidak terlalu besar. Di daerah itu rombongan yang sudah mulai kelelahan mencari tempat beristirahat. Setelah menemukan tempat yang nyaman untuk beristirahat, rombongan mulai beristirahat. Tempat baru yang digunakan untuk beristirahat rombongan akhirnya dinamakan kampung pasarean.(Dalam Bahasa Indonesia, pasarean artinya tempat beristirahat).

Setelah menemukan tempat yang sesuai dengan yang diamanatkan Rd. Wira Manggala dan rombongan akhirnya menetap dan tinggal dengan nyaman. Sampai akhirnya pada tahun 1690 dibangunlah Kademangan Pamoyanan. Daerah pamoyanan merupakan daerah yang sesuai dengan petunjuk dari ayahnya. Disekitar Pamoyanan terdapat sungai yang cukup besar. Sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat setempat. Sampai sekarang sungai itu dinamakan Sungai Cianjur dan akhirnya daerah Pamoyanan diberikakan nama “Pamoyanan Tepising Cianjur.

Rd. Wira Manggala menjadi pimpinan di daerah Pamoyanan. Pertumbuhan dan perkembangan rakyatnya sangat pesat. Kemajuan daerahnya membuat banyak rakyat dari Cibalagung yang pindah ke daerah Pamoyanan. Karena keberhasilannya membangun pamoyanan, rakyatnya memberikan gelar kepadanya menjadi Rd. Aria Wiratanu II. Beliau juga menjadi Dalem Sunda Kilem (Sunda Kulon). Daerah yang diberikannya gelar pada beliau disebut Kampung Gelar. Namun pusat pemerintahan yang baru tidak pernah ditempati Dalem Tarikolot karena beliau tutup usia sebelum pindah pusat pemerintahan.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 − two =