Pemberontakan “Tarum” dan Masa Depannya Tarumanegara, Citarum dan Haji Prawatasari
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung
Terasjabar.co – Generasi Milenial terlebih G-Z tak kenal apa itu “tarum”? tetapi, nama “tarumanagara” dan “citarum” agaknya lebih dikenal mereka. Namun, tahukah, bahwa ‘tarum’ ini memiliki jejak sejarah yang berdimensi luas: politik, ekonomi, dan sains teknologi tekstil.
Dalam ingatan kolektif rakyat Tatar Sunda, “tarum” menyimpan sejumlah kenangan, traumatik, konflik, yang berdampak hingga saat ini,seperti persoalan DAS Citarum, dengan yaitu pencemaran berat (sampah domestik & limbah industri), erosi lahan kritis, dan sedimentasi tinggi yang menyebabkan banjir serta penurunan kualitas air. Sedangkan bagi masyarakat Cianjur, yang memeroleh informasi tentang ingatan kolektif sejarah “heroisme” seorang tokohnya: Haji Pratasari yang tidak terlepas dengan “tarum” ini.
Tarum: Dari Tarumanegara ke Citarum
Kata ‘tarum’ terkoneksi dengan nama “Tarumanegara”, kerajaan Hindu tertua di Jawa Bagian Barat pada abad ke-4. Nama kerajaannya menggunakan kata “tarum”. Tanaman ‘tarum’ ini menghasilkan warna yang disebut “Indigo” yang berasal dari kata ‘indikon’ dalam bahasa Yunani yang berarti India.
Ada tujuh warna pelangi yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Indigo adalah warna di antara biru dan ungu atau yang juga sering disebut nila. Mengutip newscientist, sekitar tahun 1665, ilmuwan Isaac Newton menambahkan warna oranye dan indigo dalam warna pelangi yang dihasilkan oleh prisma. Sebelumnya orang hanya mengenal lima warna pelangi, yaitu merah kuning, hijau, biru, dan ungu.
Mengapa? Sebab India sejak dulu adalah penghasil komoditas ‘indigo’ atau pewarna pakaian alam. Tanaman indigo di India, khususnya Indigofera tinctoria, adalah sumber pewarna biru alami kuno yang sangat penting, digunakan sejak 2500 SM untuk tekstil. Tumbuh subur di iklim tropis, tanaman ini (dikenal sebagai nila atau true indigo) diolah dari daun melalui fermentasi dan oksidasi. Budidaya utamanya berada di wilayah seperti India Utara dan Karnataka.
Tatkala, pendatang dari India datang ke kawasan Jawa Bagian barat, lalu berinteraski hingga menguasai kawasan tersebut dan mendirikan Kerajaan Tarumanegara.Pendiri Kerajaan Tarumanegara adalah Maharesi Jayasingawarman asal India. Ia datang ke nusantara karena kekacauan dan penjajahan oleh pasukan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada.

Popularitas ‘tarum’ memberikan indikasi bahwa di wilayah itu penghasil ‘tarum’ yang berlimpah-ruah. Masih perlu penelitian, apakah tanaman ‘tarum’ ini dibawa oleh orang India saat itu atau memang di Tatar Sunda (Jawa Barat) sudah ada tanaman tersebut namun belum dibudayakan atau hanya merupakan tanaman liar saja.
Bukan kebetulan, bahwa Kerajaan Tarumanegara terletak di kawasan sungai besar yang kemudian disebut Citarum. Kerajaan Tarumanegara, kerajaan Hindu tertua kedua di Nusantara (abad ke-4 hingga ke-7 M), berpusat di wilayah barat Pulau Jawa, meliputi wilayah modern Banten, Jakarta, Bekasi, Bogor, hingga Cirebon. Pusat pemerintahannya diyakini berada di sekitar Sungai Citarum, dengan ibu kota di Sundapura (sekitar Bekasi/Bogor sekarang).
Citarum, berasal dari kata ci artinya air, dan ‘tarum’, sejenis tanaman untuk mewarnai kain menjadi indigo (Indigofera tinctoria L.). Tinggi tumbuhan tarum mencapai 1,5 meter, dengan cabang banyak dan bisa muncul di batang bawah. Daunnya seperti membelah, berwarna hijau, terletak di samping kanan dan kiri. Ujung daun meruncing. Bunganya berwarna ungu. Tanaman yang masuk keluarga Fabaceae ini panjang polongnya sekitar 3 cm, dengan biji sekitar 2 mm. Citarum adalah sungai di Jawa Barat yang sebagian bantaran sungainya ditumbuhi tarum.
‘Tarum” dan Pemberontakan Haji Prawatasari
Seratus tahun sebelum Perang Jawa, Raden Alit alias Haji Prawatasari pernah mengobarkan perlawanan terhadap VOC di barat Jawa. Salah-satu alasannya adalah pemaksaan dan ketidakadilan atas penanaman tanaman ‘tarum’ sebagai upeti kepada VOC yang merugikan dan menyengsarakan rakyat-petani. Dalam buku Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa; Sistem Priangan Dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870, Breman menyebut Haji Prawatasari sebagai “ulama fanatik” yang mengobarkan perlawanan terhadap “orang asing tak beragama”.
Sejak 1691, Cianjur resmi menjadi bagian dari kekuasaan Belanda (yang diwakili oleh VOC). Kedatangan utusan VOC yang bernama Kapten Winckler segera diikuti pengakuan VOC terhadap dalem Cianjur Aria Wiratanu II sebagai regent (bupati) Cianjur (Reiza D.Dienaputra dalam Cianjur: Antara Priangan dan Buitenzorg).Hal berkonsekuensi kewajiban menyerahkan beberapa produk-nya, yaitu tanaman wajib yakni nila (tarum) kepada VOC.
Dalam perkembangannya, antara tahun 1703-1707 terjadi protes dan perlawanan para petani melakukan pembakaran lahan kebun tarum secara massif. Terjadilan berbagai bentrokan kecil dengan pasukan kompeni, awal Maret 1704; Penyerangan pada titik-titik vital militer VOC di Bogor, Tangerang dan beberapa kawasan Priangan Timur seperti Galuh, Imbanagara, Kawasen dan daerah muara Sungai Citanduy. Namun, pada 1706, sepasukan serdadu VOC pimpinan Kapiten Zacharias Bintang (1660—1730) berhasil memukul mundur pasukan kecil Prawatasari dari Kertanegara. Begitu mundur dari Kertanegara, Prawatasari dan pasukannya menyingkir ke Bagelen, suatu wilayah yang terletak di Purworejo. Di sinilah kemudian pada 1707 pasukan menak dari Cianjur itu dihabisi oleh kompeni.
Tarum di Era Tanaman Paksa
Penanaman ‘tarum’ terus menerus dipaksakan kepada para petani pribumi, bukan saja di Cianjur,bahkan meluas ke kawasan lainnya pasca Perang Diponegoro (1825-1830). Perang Jawa itu banyak menelan biaya dan tidak lancarnya pemasukan pajak tanah.Kesulitan keuangan ini bertambah parah dengan terjadinya pemisahaan Belgia (1830). Untuk mengatasi kesulitan keuangan ini dan supaya Kerajaan Belanda tidak jatuh bangkrut, J. van den Bosch mengusulkan untuk melaksanakan cultuurstelset (Sistem Tanam Paksa) di Hindia Belanda (Gonggrijp, 1949:116-119).
Menurut Sistem Tanam Paksa, pungutan dari rakyat tidak lagi berupa uang seperti masa pemerintahan Rafles, tetapi berupa hasil tanaman yang dapat diekspor. Jenis tanaman ekspor utama yang wajib ditanam rakyat adalah kopi,tebu, dan indigo. Ketiga komoditas tersebut merupakan komoditas yang penting di Eropa pada masa itu (Gonggrijp, 1949:115-166; Fasseur, 1992:27). Industri tarum ini berlangsung hingga 1918-1925, pemerintahan Kolonial Belanda mengekspor indigo atau tarum tersebut.
Masa Depan Tarum Areuy: Komoditas Ramah Lingkugan
Dalam praktik tradisional, masyarakat adat seperti di Baduy, Jawa Barat, dan Samosir, Sumatera Utara, masih menggunakan pewarna tarum untuk mewarnai kain tenun dan pakaian adat. Pewarna alami ini menjadi bagian penting dari pelestarian budaya sekaligus langkah menuju produksi tekstil berkelanjutan.
Dengan meningkatnya permintaan akan produk ramah lingkungan, ‘tarum’ kembali mendapatkan tempat di industri tekstil modern. Dari sisi ekonomi, pewarna alami dari ‘tarum’ menarik perhatian pasar ekspor, terutama di Eropa dan Jepang yang sangat memperhatikan aspek keberlanjutan produk. Produk tekstil yang diberi label ‘natural dyed’ memiliki nilai jual lebih tinggi dan menjadi daya tarik tersendiri.
Pemerhati Tarum dari Varman Institute (VI), lembaga pusat kajian Sunda dan House of Varman (HoV), Gelar Taufik Kusumawardhana (2020) menjelaskan tentang penelitian terhadap tarum akar atau Tarum Areuy sebutan orang Sunda dianggap lebih domestik dan potensial. Di Jawa Barat, perintisan baru dimulai sejak akhir tahun 2011 dengan fokus kerja pada tarum akar sebagai simbol konservasi lingkungan dan pemulihan sungai Citarum.






Leave a Reply