Bukan Lagi Soal Sersan Rasa Kopral Atau Islam Phobia

Oleh:
Dedi Asikin

Terasjabar.co – Saya pernah menulis tentang Islam yang mayoritas tapi ibarat sersan rasa kopral. Pernah juga membuat judul Islam phobia.  Yang dicurigai dan ditakuti. Lalu distigma sebagai instoleran dan terorisme. Kiyaipun dikriminalisasi, dicari, ditangkapi dan dimasukin dibui.

Kali ini dalam kerangka tahun baru Islam 1 Muharam 1444 saya ingin mengunggah tentang kenapa Islam menjadi mayoritas di Indonesia. Menurut data World Population Review tahun 2020 pemeluk Islam di nusantara ini ada 231,7 juta setara dengan 87,1%. Lebih besar dari Pakistan yang 212,6 juta atau India 200 juta atau Banglades yang 157,3 juta.

Pertanyaan yang timbul kenapa dan bagaimana Islam bisa masuk ke tanah air dengan kesan luar biasa?

Sejarawan Inggris Dr. Carrol Kresten mengungkap Islam mulai menyebar di Asia Tenggara (termasuk Indonesai) sekitar abad ke-13. Menyebar dengan cara damai, nyaris tidak ada darah yang tumpah.

Berbeda dengan Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan. Kesana itu Islam masuk dengan kekuatan senjata. Pasukan Islam abad ke 8 mulai merambah wilayah wilayah itu dengan tentara. Komandannya tentara muda bernama Mohammad bin Qasim.

Di Asia Tenggara Islami masuk secara getok tular oleh pedagang pedagang Arab dari Yaman melalui Gujarat di India. Saudagar-saudagar yang mencari rempah rempah dan mutiara sekalian juga membisikkan agama baru yang mereka telah anut bernama Islam.  Penyebarnya bernama Muhammad bin Abdullah dari suku Quraish di Arab Saudi.

Ternyata sentuhan manis itu bagai gayung bersambut. Mulailah orang orang Indonesia yang berada di jalur peradangan itu memeluk agama Islam beralih kepercayaan dari Hindu dan Budha.

Islam awalnya masuk dari barat ke timur sesuai dengan alur perdagangan. Mulai dari Sumatra (Aceh), pesisir utara pulau jawa dan terus ke Nusa Tenggara.

Belakangan siar Islam dikembangkan oleh para pendakwah yang sudah mempelajari islam secara mendalam.  Diantara mereka itu yang kesohor ada Walisongo. Selain itu Islam China juga ikut membantu. Tersebut nama Laksamana Ceng Ho yang ikut membantu penyiaran Islam di nusantara. Siar Islam itu dipercepat juga oleh para raja yang sudah memeluk Islam.

Menurut Dr. Carrol ditemukan arkeologi dasar berupa batu nisan dengan nama Arab, Malik al Salih. Diyakini dia itu seorang sultan yang sudah muslim.  Dengan pengaruh kekuasaannya rakyat di kesultanan itu mengikuti jejaknya.

Tentang kesan mudahnya Islam masuk nusantara bahkan tanpa pertumpahan darah, peneliti Asia Tenggara Nawab Osman menyebut beberapa faktor:

  1. Masuk Islam sangat mudah. Hanya dengan melapalkan dua kalimat syahadat jadi muslimlah dia.
  2. Islam tidak mengenal kasta. Semua orang setara. Yang membedakan hanya tingkat ketakwaan.
  3. Pola hidup sederhana, hari raya diperingati secara sederhana termasuk tahun baru Islam 1 Muharam. Mudah dan murah.
  4. Islam mengenal rasa solidaritas dan sosial yang tinggi antara lain dengan ibadah zakat dan shodaqoh. Yang punya memberi yang tak punya.
  5. Sentuhan tidak vulgar dan tidak memaksa, menghargai adat dan tradisi setempat.

Apapun itu semua yang pasti Islam di Indonesia dipeluk oleh mayoritas penduduknya 87,1%. Keniscayaannya mereka para pemeluk Islam hidup damai dan sejahtera. Tidak ada lagi stigma instoleran dan terorisme, Islam phobia.  Tidak ada lagi istilah sersan rasa kopral and so on.

Selamat tahun baru islam 1 Muharam 1444 hijriyah.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *