Berkaca Dari Kasus BIJB, Zulkifly Chaniago: Pembangunan Harus Diperhitungkan Secara Matang, Mulai Dari Perencanaan Hingga Pendukungnya
Terasjabar.co – Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) atau Bandara Kertajati diketahui mulai beroperasi sejak 2018. Namun keberadaannya terkesan jauh dari ramainya penumpang pesawat, seperti halnya di Bandara Internasional Cengkareng. Terlebih lagi bandara ini hanya melayani satu rute penerbangan, dari 11 rute yang tersedia.
Menurut Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Zulkifly Chaniago, BE., pembangunan BIJB tidak hanya diharapkan untuk memudahkan transportasi masyarakat, namun harapan besar lainnya juga diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang baik di Kabupaten Majalengka, maupun Provinsi Jawa Barat secara keseluruhan.
“Tapi sayang, sekarang BIJB sepertinya akan berubah fungsi menjadi bengkel pesawat. Mengingat sepinya, bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada masyarakat yang menggunakan jasa transportasi pesawat ke BIJB. Hanya ada sekali penerbangan, selama BIJB beroperasi,” ungkapnya.
Berkaca dari kondisi BIJB saat ini kata Anggota Fraksi Partai Demokrat ini, setiap perencanaan pembangunan harus diperhitungkan secara matang.
“Mulai dari perencanaan pembangunan proyek utama sampai dengan proyek pendukungnya, agar tidak terjadi lagi seperti BIJB ini”, pungkasnya.
Seperti yang kita ketahui, BIJB yang berlokasi di Kabupaten Majalengka-Jawa Barat, akan dialihfungsikan sebagai lokasi Maintenance, Repair, Overhaul (MRO) atau bengkel pesawat.
Rencana ini diungkapkan langsung oleh Presiden Joko Widodo saat Rapat Terbatas, akhir Maret lalu, di Istana Negara. Mengingat minimnya masyarakat yang memakai jasa transportasi pesawat di BIJB.
Meskipun telah dibangun dengan dana triliunan, namun BIJB diketahui sepi penumpang. Hal ini disinyalir sebagai salah satu alasan alih fungsi Bandara Kertajati sebagai bengkel pesawat.






Leave a Reply