Ridwan Kamil: Jabar Potensi Lahan Subur Ekonomi Kreatif

Terasjabar.co – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berkomitmen untuk mengembangkan industri ekonomi kreatif dengan menandatangani (MoU) bersama Badan Ekonomi kreatif (Bekraf) disela-sela Konferensi Dunia Ekonomi Kreatif di Nusa Dua, Bali.

“Kami juga telah mengeluarkan Perda Jabar Nomor 15 Tahun 2017 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Perda Provinsi Jabar Nomor 10 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Kekayaan Intelektual. Satu-satunya Pemda yang ada Perda Ekonomi kreatif adalah Jawa Barat,” katanya saat berbicara dalam forum WCCE (World Conference on Creative Economy) di Bali, Rabu (7/11/2018).

Menurut gubernur yang akrab disapa Kang Emil itu, Jabar memiliki potensi besar untuk menjadi lahan subur bagi berkembangnya ekonomi kreatif. Banyak tumbuh usaha ekonomi kreatif.

Berdasarkan data Bekraf, ekonomi kreatif di Jawa Barat memiliki kontribusi terhadap GDP sebesar 6,62 persen dan nomor dua terbesar setelah Sumatera Utara 6,65 persen.

Sementara itu, ekonomi kreatif di Jabar memiliki kontribusi sebesar 11,81 persen, berada di urutan ketiga setelah Yogyakarta 16,12 persen dan Bali 12,57 persen.

Untuk merangsang dan lahirnya ide kreatif dari warga Jabar, Emil mengatakan telah membuat akun Facebook yang mana warga bisa menuliskan ide gagasannya dan memasang foto serta gambarnya.

“Siapa saja warga Jabar bisa menyalurkan ide kreatifnya untuk memperbaiki lingkungan desa atau kota sehingga kami tidak kekeringan ide dan gagasan kreatif untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup,” kata Kang Emil.

Pada dasarnya, orang Bandung, ibukota Jabar ini, walau tanpa bantuan pemerintah, sudah kreatif. Hasil survei menunjukkan orang Bandung itu kreatif karena rajin ngumpul, nongkrong, ngobrol. Akhirnya kecocokan yang bersifat hobi, ada yang bersifat ekonomi.

Bandung merupakan kota dengan penduduk 2,4 juta jiwa. Sebanyak 60 persen adalah anak-anak muda, masih berusia di bawah 40 tahun.

“Ekonomi yang paling kuat untuk kita adalah ekonomi kreatif. Ekonomi yang berbasis gagasan, imajinasi. Ada desain, kuliner, film, radio, ICT (Information and Communication Technologies atau teknologi informasi dan komunikasi), fashion, kriya,” tambah dia.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *