Lawan Stigma, BNN Jabar Tegaskan Rehabilitasi Pecandu Narkoba Wajib dan Gratis

Terasjabar.co – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Barat berharap semakin banyak masyarakat mengikutsertakan keluarga mereka yang merupakan pecandu narkoba untuk ikut program rehabilitasi.

Selain karena wajib dilakukan, rehabilitasi juga dijalani tanpa mengeluarkan biaya, alias gratis. Namun selama ini, program rehabilitasi pecandu narkoba justru masih terkendala stigma dari masyarakat itu sendiri.

Kepala BNN Provinsi Jawa Barat, Brigjen Pol Sufyan Syarif memaparkan, dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009, diterangkan secara jelas bahwa pecandu narkotika dan korban penyalagunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan sosial.

Di undang-undang yang sama, dijelaskan pula bahwa terdapat dua kementerian yang memperoleh mandat dalam kebijakan rehabilitasi. Keduanya adalah Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial. Di luar dua kementerian tersebut, BNN berfungsi melakukan penguatan kemampuan, pengawasan, dan pembinaan terhadap lembaga rehabilitasi.

Lembaga rehabilitasi ini, tutur Sufyan Syarif, bisa merupakan milik pemerintah, namun bisa juga didirikan sendiri oleh masyarakat. Pengguna narkoba bisa mengakses layanan rehabilitasi secara gratis melalui klinik pratama milik BNN, Puskesmas, rumah sakit, maupun lembaga sosial milik masyarakat yang telah bekerja sama dengan Kemensos dan BNN.

“Cara mengakses layanan secara gratis ini dapat dilakukan dengan langsung menghubungi BNN terdekat,” sebut Sufyan Syarif melalui rilis yang diterima Pikiran Rakyat, Jumat 19 Oktober 2018.

Sufyan menambahkan, selama ini, upaya rehabilitasi pengguna narkoba kerap terkendala sejumlah faktor. Salah satu yang paling utama adalah stigma.

Sampai saat ini, masih banyak keluarga pecandu narkoba yang enggan membawa kerabatnya ke lembaga rehabilitasi. Mereka merasa malu dan takut dengan status anggota keluarganya sebagai penyalahguna maupun pecandu narkoba.

“Ini menyulitkan terapi rehabilitasi, padahal mereka (pecandu) membutuhkan,” tutur dia.

Selain keluarga, dukungan moral bagi korban penyalahgunaan narkoba juga mesti datang dari lingkungan sekitar. Baik itu sekolah, tempat kerja, maupun masyarakat tempat tinggal.

“Tempat kerja juga masih menstigma pegawainya yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba, sehingga tidak memberikan kesempatan pada pegawai itu untuk direhabilitasi. Padahal dengan memberi dukungan seperti cuti dan fasilitasi pendampingan ke lembaga rehabilitasi, dapat membantu penyalahguna narkoba untuk mendapatkan terapi sesuai kebutuhan,” kata dia.

Diberitakan sebelumnya, BNN Jawa Barat memperkirakan, dari sekitar 48 juta penduduk Jawa Barat, 20 juta di antaranya rawan terpapar narkoba. Itu karena 20 juta penduduk tersebut merupakan warga yang berada dalam usia produktif.

Seperti diketahui, kalangan usia produktif merupakan sasaran utama para pengedar dan bandar narkoba. Selain angka kerawanan yang tergolong besar dibandingkan dengan provinsi lain, lokasi Jawa Barat yang merupakan penyangga daerah ibu kota negara juga menjadi tantangan lainnya.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *