Amerika Abaikan Hak Muslim Palestina

Terasjabar.co – Keputusan Amerika Serikat (AS) yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel disebut sebagai pengabaian hak-hak Palestina dan Muslim. Hal tersebut diungkapkan oleh Imam Masjid Al-Aqsa, Syekh Ismael Nawahda.

“Seratus tahun telah berlalu sejak deklarasi Balfour, di mana tanah (Palestina) diberikan kepada mereka yang tidak memilikinya kepada mereka yang tidak layak mendapatkannya,” kata Imam Nawahda pada awal pidatonya, dikutip laman Anadolu Agency, Jumat (15/12).

Deklarasi Balfour merupakan sebuah pernyataan publik yang ditandatangani oleh menteri luar negeri Inggris James Arthur Balfour pada 2 November 1917. Dalam surat tersebut, Balfour mengungkapkan, pemerintah Inggris bersimpati dan memandang positif aspirasi Zionis untuk mendirikan tanah air bagi bangsa Yahudi di Palestina. Kala itu Palestina merupakan wilayah kekuasan Kekaisaran Ottoman yang dikalahkan Inggris dalam Perang Dunia I.

Sejak deklarasi tersebut diumumkan, gelombang migrasi Yahudi ke Palestina meningkat. Hal ini didorong pula oleh gerakan anti-Semit yang sedang terjadi di Eropa. Proses ini menjadi cikal bakal lahirnya negara Israel. Setelah menyinggung deklarasi Balfour, Imam Nawahda kemudian menyinggung tentang 50 tahun pendudukan Israel dan keputusan AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

“Sekarang, pada peringatan 50 tahun pendudukan Yerusalem (oleh Israel), pemerintah AS telah mengakui tanah suci ini sebagai ibu kota Israel yang secara terang-terangan mengabaikan hak-hak Palestina dan Muslim,” ujarnya.

Ia menegaskan Yerusalem akan selalu menjadi milik Muslim dan Arab.

“Dan kami berharap negara-negara yang telah bereaksi (secara negatif) terhadap keputusan AS, akan mengambil langkah konkret untuk membalikkannya,” kata Imam Nawahda. (red)

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *