Cetak Biru Tanggap Bencana Jawa Barat Selesai Juli 2019
Terasjabar.co – Rancangan pembentukan budaya tanggap bencana Jawa Barat atau West Java Resillience Culture Blue Print ditargetkan selesai Juli 2019.
Buku cetak biru pedoman tanggap bencana akan dipublikasikan dan diterapkan kepada semua lapisan masyarakat Jabar.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jabar, Supriyatno, mengatakan pembentukan cetak biru ini melibatkan semua unsur masyarakat, terutama pemerintahan, akademisi, sampai pengusaha.
Melalui cetak biru ini, katanya, berbagai lapisan masyarakat Jabar akan mendapat pengarahan dan edukasi mengenai apa yang harus diperbuat jika bencana terjadi dan upaya untuk meminimalisasi risiko bencana.
“Cetak biru budaya tangguh bencana Jabar ini masih penyusunan, sudah 70 persen prosesnya,” kata Supriyatno di Kantor BPBD Jabar, Kamis (30/5/2019).
Supriyatno mengatakan pihaknya tidak mendapat kesulitan dalam memperoleh berbagai data mengenai kebencanaan di Jabar.
Mulai peta kawasan banjir, longsor, vulkanologi, geologi, sampai data kependudukan. Berbagai instansi terkait, katanya, kompak dalam memberikan data.
Permasalahannya, katanya, tinggal dalam sinkronisasi proses pembuatan cetak biru ini. Melibatkan berbagai pihak, katanya, bukan berarti mudah dalam menyelaraskan pemikiran berbagai pihak ini dalam sebuah tujuan.
“Ini, kan, banyak pihak yang terlibat, sangat susah membuat mereka nyambung. Banyak sekali diskusi yang dilalui. Kadang satu instansi saja beda pendapat,” katanya.
Mau tidak mau, katanya, berbagai pemikiran tersebut harus segera disatukan demi rampungnya cetak biru tersebut sesuai target.
Jangan sampai, katanya, masyarakat menunggu lama akibat perdebatan yang tak kunjung usai di kalangan akademisi atau para ahli ini.
“Tinggal dua bab lagi dan semua disinkronkan. Sebenarnya selama ini pun kami sudah membentuk desa tangguh bencana dan satuan pendidikan aman bencana. Melalui blue print ini, sosialisasi bencana akan lebih luas lagi,” katanya.
Pihaknya berupaya mengedukasi masyarakat untuk bisa merawat alam, kembali ke local wisdom. Masyarakat Sunda, ujarnya, punya beberapa ungkapan luar biasa, seperti lereng harus ditanami bambu, membangun kolam harus di legok. Local wisdom itu yang sedang dihidupkan kembali di tengah masyarakat.
“Keselamatan orang dalam bencana yang disebabkan kemampuan dan pengetahuan dirinya sendiri terhadap bencana hanya 34 persen, kemudian pengetahuan keluarga kepada bencana berpengaruh 32 persen. Sembilan puluh persen lebih bisa selamat manakala sekelompok masyarakat miliki kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan bencana,” katanya.
Berdasarkan penelitian ahli, katanya, di Jepang saat gempa di Kobe terjadi sampai 6,9 Skala Richter, hanya 200 orang jadi korban. Tapi di tempat lain, seperti di Chili, dengan skala yang sama korban gempa bisa mencapai 3.000 orang. Ini yang membedakan pengetahuan warga tentang bencana.
“Sesuai arahan Gubernur Jabar, Pak Ridwan Kamil, kami masih merancang blue print, cetak biru West Java Resillience Culture Blue Print. Supaya bagaimana masyarakat Jabar jadi tangguh ketika menghadapi bencana. Penanganan bencana itu sekarang sudah bergeser, yang tadinya responsif jadi pencegahan. Jadi kami tanggap darurat dan tanggap bencana. Kami juga bergerak ke pencegahan dan kesiagaan, gimana supaya tidak terjadi bencana. Dan saat bencana tidak bisa ditolak, kami siapkan,” ujarnya.





Leave a Reply