Program Sosiologi Raksa Desa: Tim Peneliti Lakukan Identifikasi Masalah dan Pemetaan Sosial Partisipatif Guna Meningkatkan Ketangguhan Warga Terhadap Risiko Longsor di Desa Sawahdadap
Terasjabar.co – Tim peneliti dari Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, melaksanakan kegiatan survei awal pada 6–7 Agustus 2015 di Desa Sawahdadap, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang yang merupakan salah satu kawasan dengan tingkat kerawanan longsor yang cukup tinggi.
Survei ini merupakan langkah awal dari perumusan “Program Sosiologi Raksa Desa”, sebuah inisiatif pemberdayaan partisipatif yang bertujuan meningkatkan ketangguhan warga terhadap risiko bencana longsor.
Tujuan utama kegiatan survey awal ini adalah untuk mengidentifikasi masalah serta melakukan pemetaan sosial partisipatif guna merancang strategi mitigasi bencana berbasis komunitas.
Tim peneliti yang hadir di lapangan terdiri atas Dr. Kustana, M.Si., CSP., selaku Ketua Program Studi Sosiologi, H. Irwandi, S.Sos., SE., M.Ag., dan paelani Setia, M.Ag. dosen Program Studi Sosiologi, FISIP UIN Bandung.

Dalam pelaksanaannya, survei ini menggunakan berbagai pendekatan kualitatif seperti diskusi warga, wawancara mendalam, dan observasi partisipatif. Melalui pendekatan ini, tim menggali dinamika sosial dan pengalaman kolektif masyarakat dalam menghadapi dan merespons ancaman bencana longsor.
Salah satu narasumber kunci dalam kegiatan ini adalah Kepala Desa Sawahdadap, Suganda, yang memberikan informasi penting seputar sejarah kejadian longsor, dampaknya terhadap warga, serta langkah-langkah mitigasi yang telah dilakukan di tingkat desa.

Kustana menjelaskan bahwa program ini diharapkan dapat menghasilkan model penanganan bencana yang tidak semata-mata teknokratik, melainkan berakar pada kekuatan sosial masyarakat itu sendiri.
“Kami ingin merumuskan strategi Raksa Desa yang berbasis partisipasi aktif warga. Warga harus menjadi aktor utama dalam upaya pengurangan risiko bencana,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Irwandi menambahkan bahwa temuan awal menunjukkan pentingnya penguatan modal sosial dan kelembagaan lokal untuk membangun ketahanan jangka panjang di tingkat komunitas.
“Kami melihat adanya kesadaran kolektif yang cukup kuat. Namun, kesadaran ini belum terlembaga dalam sistem perencanaan desa secara formal,” ungkapnya.
Kegiatan ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan program sosiologi terapan yang tidak hanya fokus pada kajian akademik, tetapi juga responsif terhadap isu-isu aktual seperti kebencanaan dan pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas.






Leave a Reply