A. H. WIGNYADISASTRA: Pendiri Madrassatoel Ibtidayyah dan Tragedi Afdeling B
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Pusat Studi Sunda-PSS Bandung)
Terasjabar.co – Tak banyak mengetahui, bahwa Bandung adalah juga kota awal pergerakan Islam di abad XX, pasca berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI) di Laweyan (1905) dan SI (11 September 1912) di Surabaya. Di Bandung, ada tokoh-tokoh Sarekat Islam Bandung generasi awal, yaitu Suwandi Suryadiningrat, Abdoel Moeis, dan Daeng Kanduruan Ardiwinata, serta Haji Hasan Mustapa selaku Penasehat SI Bandung.
Salah seorang tokoh SI Bandung, yang kurang dikenalkan adalah A. H. Wignyadisastra. Beliau sebagai menak Sunda banyak berpengaruh pada perkembangan SI Bandung. Namun, tak banyak informasi tentang Wignyadisastra, dalam buku Riwayat Sarekat Islam Bandung 1912-1916, karya Hafidz Azhar yang terbit pada terbit 2021.
Berdasarkan buku Ajip Rosidi yang berjudul Apa Siapa Orang Sunda (2003:257), ternyata tokoh SI Bandung ini memiliki anak bungsu yang menjadi guru besar Ekonomi di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, namanya Prof. Dr. Hj. Neneng Mulyamah Wingnyadisastra yang lahir pada 16 Maret 1924.
Ia adalah pemimpin redaksi surat kabar Kaoem Muda milik SI. Dalam Kaoem Moeda edisi 20 Maret 1915 bahwa A. H. Wignyadisastra dan kawan-kawan akan mendirikan sekolah partikelir, bernama Madrassatoel Ibtidayah.
Sekolah tersebut bagi anak-anak miskin dan anak-anak anggota Sarekat Islam. Madrassatoel Ibtidayah sendiri diambil dari bahasa Arab yang berarti sekolah permulaan, setara dengan sekolah dasar yang berasaskan agama Islam.
Rencananya, Madrassatoel Ibtidayah akan dibuka pada 1 April 1915, dengan bertempat di sebuah rumah di Jalan Andir yang masih didiami oleh seorang polisi bernama Braun. A. H. Wignyadisastra sebagai kepala sekolah sekaligus sebagai tenaga pengajar. Abdoel Moeis sebagai guru membaca, menulis, dan berhitung. Achmad sebagai guru agama Islam. P. M. Lambach sebagai pengajar bahasa Belanda.
Pengurus Madrassatoel Ibtidayah baru membuka pendaftaran tanggal 6 April 1915. Pada tanggal 12 April 1915, sekolah permulaan dibuka secara resmi. Sebagai ketua Sarekat Islam Bandung ketika itu, A. H. WIGNYADISASTRA ingin agar terbentuknya Madrassatoel Ibtidayah di Bandung bisa dipersatukan dengan sekolah agama Islam yang terdapat di daerah lain sehingga setiap sekolah berada dalam satu kepengurusan pusat dengan aturan dan dorongan yang jelas.
Pendirian Madrassatoel Ibridayah oleh pengurus Sarekat Islam Bandung memang ditujukan untuk kalangan miskin yang beragama Muslim. Namun, inisiatif ini tidak datang dengan sendirinya.
Gagasan mengenai sekolah agama Islam telah muncul lebih dulu di berbagai daerah. Seperti di Cianjur, Betawi, Jogja, Solo, Pekalongan, dan Surabaya. Di Cianjur, madrasah sejenis telah lama didirikan yaitu Madrasah al I’anah (17 September 1912) oleh Tokoh SI Cianjur, K. H. R. Muhammad Noeh bin Idris, ayahanda K. H. Abdullah bin Noeh.
Surat Wignyadisastra kepada Hazeu: Afdeeling B Bukan Pemberontakan
Dalam kasus SI Afdeeling B, pun A. H. Wignyadisastra pernah mengirim surat kepada Dr. Godard Arend Johannes Hazeu (1870-1929), penasihat urusan bumiputra dan Arab (adviseur voor Inlandse en Arabische Zaken). Isinya tentang peristiwa Afdeling B, yang lebih memberatkan pihak pribumi H. Hasan sebagai pemberontak padahal tidak demikian.
SI Afdeeling B lahir setelah kongres Sarekat Islam (SI) Tasikmalaya yang dipimpin Presiden CSI (Central Sarekat Islam) H. O. S. Tjokroaminoto, di Manonjaya pada tahun 1918. SI Afdeeling B dipimpinan H. Ismail asal Gunung Tanjung. Organisasi ini dibentuk atas sepengetahuan Sosrokardono, sekretaris CSI Surabaya. Tokoh-tokoh SI Afdeling B yang lainnya adalah H. Sulaeman Ciawi, Abdul Jalil, Al hasim, Tabri, H. Adra’i, dan H. Hasan Cimareme.
Pada tanggal 7 Juli 1919, H. Hasan, H. Gojali, dan keluarganya tewas dibunuh tentara kolonial di Cimareme, Leles, Garut. Hal ini disebabkan pemaksaan pihak Hindia Belanda untuk menyerahkan hasil panen petani disana. Milisi SI Afdeeling B yang telah dimobilisasi oleh H. Ismail terlambat mendatangkan bantuan ke Cimareme karena gerakan mereka tercium oleh pemerintah kolonial. Peristiwa ini menyeret seluruh tokoh SI Afdeeling B berikut H. O. S. Tjokroaminoto dan Sosrokardono presiden dan sekertaris CSI diseret ke pengadilan Hindia Belanda.
Namun, bukti hubungan antara Sarekat Islam dan Afdeeling B ditemukan melalui surat dari seorang sekretaris Sarekat Islam Tarogong kepada Hazeu. Dalam surat itu, ia mengakui bahwa ia dipaksa menandatangani surat itu karena ia diancam oleh polisi akan dipenjarakan jika ia tidak menandatanganinya (Koleksi Hazeu H1083, Inv. Nr. 36, Surat Wignyadisastra kepada Hazeu pada 18 Agustus 1919).
“Hajji Hasan hanya berusaha untuk membela tanahnya agar tidak disita oleh Wedono (penguasa lokal di Garut), yang didukung oleh Bupati. Direkomendasikan agar para pejabat pribumi yang terlibat dalam serangan tersebut diberhentikan dan agar para pengawas Eropa mereka, khususnya J. L. Kal, Asisten Residen yang telah memberikan perintah yang menyebabkan kecelakaan pembunuhan penduduk desa, diberhentikan karena perintah mereka yang tidak pantas” (Hazeu Collectie, H1083, Inv. Nr. 36, surat Hazeu kepada Gubernur Jenderal, 29 Agustus 1919)
Selain itu, dalam dokumen arsip Hazeu (tampaknya Hazeu mengumpulkan semua berita ini sendiri), terdapat banyak kliping dari surat kabar seperti De Soerabajaasch Handelsblad, Bataviaasch Nieuwsblad, Neratja, dan lain-lain. Berita tersebut adalah tentang kesaksian dari salah satu keluarga Haji Hasan yang mengatakan bahwa Lurah van Tjikendal (kepala desa) berbohong dengan mengatakan bahwa di dalam rumah Haji Hasan terdapat banyak senjata dan jubah putih-pakaian pakaian untuk para pria yang akan berperang melawan Belanda (Hazeu Collectie H1083, Inv. Nr. 36,Soerabaasch Handelsblad 27 Januari 1920).
Dalam kasus ini, Hazeu dipandang pemerintahan Hindia Belanda lebih berpihak pada para korban di pihak Afdeling SI. Laporan resminya ditolak pihak pejabat atasannya.






Leave a Reply