Warisan Hikmah Sunda-Bugis: D. K. Ardiwinata Penulis Buku Tata Basa Sunda dan Ketua Paguyuban Sunda

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Pusat Studi Sunda-Bandung)

Terasjabar.co – Bukan suatu kebetulan bahwa dalam 3-4 bulan terakhir ini, penulis telah menyelesaikan buku biografi politik tokoh Bugis yang menduduki jabatan level nasional sebagai senator dari Sulawesi Selatan. Namanya, TAMSIL LINRUNG asal Mandele,Pangkep/Pangkajene, Sulawesi Selatan. Judul bukunya, WARISAN HIKMAH TAMSIL LINRUNG: Islam untuk Kemanusiaan, Keadaban, dan Kenegaraan. Membaca hubungan antara etnis Sunda-Bugis menemukan sosok luar manusia Sunda-Bugis yang karyanya tetap abadi hingga saat ini. Antara lain, Paguyuban Pasundan, Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, dan sekolah-sekolah Pasundan di Jawa Barat.

Tak banyak yang mengenali sosok D. K. ARDIWINATA di Tatar Sunda (lahir di Desa Kajaksan Bandung, 1866, wafat di Manonjaya, Tasikmalaya, 12-1-1947. Dan akan terheran-heran berdecak kagum jika disebutkan bahwa ditangannya buku berjudul “Elmuning Bahasa Sunda” “Ilmu Bahasa Sunda” dua jilid (1916/1917) adalah buku tata bahasa Sunda pertama ditulisnya menjadi buku pelajaran di sekolah rakyat. Selain itu. besar pula jasanya dalam membuat pembakuan ejaan bahasa Sunda. Pafanggeran Nuliskeun Basa Sunda ku Aksara Walanda ‘Pedoman Menuliskan Bahasa Sunda dengan Aksara Latin’ (1912) yang disusunnya bersama Moehamad Rais, M. Partadiredja. M. Amongpradja. H. S. H. de Bie. dan C. M. Pleyte. Lebih dari itu, ia adalah salah seorang pendiri dan ketua pertama Paguyuban Pasundan yang diprakarsai antara lain Djoengjoenan Setiakoesoemah dan Koesoemah Soedjana. Rapat pertama diadakan tanggal 22 September 1914 di rumah D. K. Ardiwinata, dianggap sebagai tanggal lahir Paguyuban Pasundan.

Ardiwinata terlahir dari seorang ayah berdarah Bugis dan ibu berdarah Sunda. Menurut Tini Kartini dalam Daeng Kanduruan Ardiwinata: Sastrawan Sunda (1979:1), jiwa pejuangnya diwariskan dari garis keturunan ayah. Gelar Daeng menjadi ciri penanda orang Bugis-Makasar. Sedangkan ‘Kanduruan’ gelar kehormatan yang diberikan kepada guru yang banyak jasanya oleh pemeriitahana Hindia Belanda yang diterimanya tahun 1912. Adapun Sedangkan ‘Ardiwinata’ adalah nama Sunda menak Bandung dari garis ibunya.

Kakeknya Karaeng Yukte Desialu adalah Raja Lombo dari Makassar yang dibuang ke Bandung oleh pemerintah Belanda karena memberontak. Ia dibuang bersama putranya, Baso Daeng alias Daeng Sulaeman, dan kakaknya, Karaeng Balasuka. Di Bandung, Baso Daeng Pasau mempersunting gadis Priangan bernama Nyi Mas Rumi, dan dari perkawinan itu lahir Daeng Kanduruan Ardiwinata.

Ketika Ardiwinata berusia tiga tahun, kakek dan ayahnya mendapat pengampunan dan diperkenankan kembali ke Makassar. Oleh karena keluarganya tidak mengizinkan Nyi Mas Rumi mengikuti suaminya ke Makassar, maka ibu dan anak itu ditinggalkan di Bandung. Sepeninggal ayahnya, ia dibesarkan oleh kakak ibunya yang bernama Nyi Ma’ Haji Mariam, istri R. Moh. Gapur, kalipah asesor Bandung (Rosidi, 1969:42). Dalam kurun waktu 30 tahun (1886-1911; 1917-1921) ia adalah sebagai guru teladan, kreatif dan kemudian sebagai redaktur Balai Pustaka selama 6 tahun (1916-1922).

Pelopor Roman Basa Sunda “Baruang ka nu Ngorora”

D. K. Ardiwinata juga adalah pelopor roman modern pertama dalam basa Sunda. Judulnya Baruang ka nu Ngorora. Roman ini pertamakali penulis dengar ceritanya saat di SD oleh ibu penulis, Nyi Mas Salsiah binti Rd. M. Soleh Natawijaya seorang guru di Cianjur.

Dalam cerita tersebut, Aom Usman menginginkan Nyi Rapiah, gadis cantik yang telah menjadi istri Ujang Kusen. Dengan lancang, sebagai bangsawan yang sedang berkuasa ketika itu secara terang-terangan ia memperlihatkan hasratnya di depan hidung Ujang Kusen sehingga Ujang Kusen marah dan merasa terhina. Tetapi hanya sampai merasa tersinggung saja, Ujang Kusen tidak berdaya untuk bcrtindak atau mendakwakan kelakuan Aom Usman yang keterlaluan itu. Tetapi apakah jadinya setelah Nyi Rapiah lari dari suaminya. mengikuti kehendak Aom Usman dan kemudian menjadi istrinya secara sembunyi-sembunyi karena orang tua Aom Usman yang bangsawan itu pasti tidak merestui perkawinan tersebut? Ujang Kusen pada akhir cerita mengalaml hukuman dibuang ke Surabaya sedang Nyi Rapiah sendiri semula percaya akan memperoleh kebahagiaan di samping Aom Usman harus menelan kepahitan karena dimadu dan diperlakukan tidak adil sebab Nyi Rapiah bukanlah istri dari keturunan orang priyayi,walaupun ia istri pertama.

Baruang ka nu Ngorora” menurut Utuy T. Sontani dilihat dari bentuknya dapat dikatakan sebagai roman pertama dalam sastra Sunda. Selain itu. sebagai sebuah roman sosial baru merupakan cerita yang tak akan membosankan dibaca orang sebab telah berhasil menggambarkan keadaan masyarakat Sunda pada suatu peri ode masa tertentu. ketika rakyat jeJata tak berdaya menghadapi kekuasaan kaum feodal. Menurut Ajip Rosidi, “Baruang ka nu Ngarora” bukan saja secara struktural telah memenuhi syaratsyarat roman modern (dengan adanya sebuah tema dan alur), tetapi juga secara estetis dalam roman tersebut terdapat gambaran watak-watak manusia, gambaran suasana dan keadaan kehidupan yang merupakan ketunggalan sebagai refleksi dari kehidupan nyata (Majalah Sunda, No. 36-37, Tahun 1, 1965).

Aktif di Central Sarekat Islam (CSI)

Keberhasilan National Congres (NATICO) I yang diadakan Sarekat Islam di Bandung, 17-24 Juni 1916 tidak terlepas dari dukungan dana DK Ardiwinata. Sebagai bendahara Central Sarekat Islam (CSI), D. K. Ardiwinata berdiri dalam barisan tokoh-tokoh saat itu, H. O. S. Tjokroaminoto, Abdoel Moeis, Raden Hasan Djajadiningrat, adik dari Hussein Djajadiningrat, Raden Wignjodarmodjo dari Surabaya, dan A. H. Wignjadisastra sebagai Presiden Sarekat Islam Bandung.

Bahkan ia menyampaikan empat hal penting yang berkaitan dengan tujuan organisasi. Pertama, memberi bantuan kepada orang yang lebih tua. Kedua, mempromosikan kemajuan spiritual para anggota. Ketiga, mendorong kemajuan ekonomi. Dan keempat, menyebarkan agama Islam.

Demikianlah , DK Ardiwinata telah menjadi simpul mati hubungan batin antara Sunda-Bugis lewat karya-karyanya yang tetap hidup hingga hari ini sebagai bagian dari warisan hikmahnya.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × four =