Meninjau Musibah Banjir di Indonesia Dengan Perspektif Pancasila

Oleh:
Devina Putri Nurapni
(Mahasiswa Program Studi Sosiologi, FISIP, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Terasjabar.co – Musim hujan seharusnya membawa berkah bagi makhluk yang ada di muka Bumi ini, tapi kali ini di Indonesia justru membawa kecemasan. Banjir tak lagi dianggap sebagai peristiwa tahunan, melainkan bencana yang semakin sering, semakin parah dan meninggalkan luka sosial, ekonomi, serta moral. Dalam situasi seperti ini, pancasila seharusnya bisa menjadi petunjuk arah, bukan hanya slogan saat upacara dilaksanakan tapi nilai hidup yang menuntun bangsa menghadapi krisis.

Lantas banjir di Indonesia terjadi begitu saja karena alam atau justru ulah manusianya itu sendiri? mari kita lihat data yang disajikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data menunjukkan, bencana banjir memasuki level serius. BNPB mencatat sepanjang Januari-Juni 2025 saja, terjadi lebih dari 1.600 kejadian bencana alam, dan 1.048 diantaranya adalah banjir. Banjir mendominasi bencana hidrometeorologi yang mencapai 99,35% dari total kejadian bencana nasional tahun 2023 (BNPB, 2025).

BPS daerah juga mencatat kerusakan lingkungan yang makin meluas. Misalnya di Indragiri Hilir, Riau, banjir awal 2024 merendam wilayah luas dan berdampak pada 6.020 jiwa serta merusak 771 unit rumah warga (BPS Riau, 2024). Kerusakan fisik dan sosial seperti ini menegaskan bahwa banjir bukan sekedar fenomena alam, ada faktor dari campur tangan manusia, tata ruang, dan pengelolaan lingkungan yang tidak dijaga.

Contoh nyata terbaru, yaitu tragedi banjir di Sumatera. Beberapa minggu terakhir, Sumatera mengalami salah satu bencana yaitu, banjir dan longsor terbesar dalam tahun ini. Data resmi per 2-5 Desember 2025 menunjukkan, 836 jiwa meninggal dunia, ratusan orang yang hilang (500 jiwa dalam beberapa laporan), lebih dari 3,2 juta jiwa terdampak, ribuan rumah, fasilitas umum, jembatan, dan akses jalan rusak berat, wilayah yang terdampak meliputi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat (BNPB, 2025). Curah hujan yang ekstrim, meluapnya sungai, kerusakan hutan, dan buruknya tata ruang memperburuk kondisi. Banyak daerah yang dulunya aman kini ikut tenggelam, mempertegas bahwa sistem perlindungan lingkungan kita rapuh dan tidak siap menghadapi cuaca ekstrim yang sering terjadi.

Lalu Apa Kaitannya Dengan Pancasila?

Ketuhanan Yang Maha Esa: Alam adalah titipan. Ketika sungai tercemar, pohon-pohon di Hutan ditebang secara berlebihan, dan drainase (saluran air) dibiarkan tersumbat, kita sedang melanggar amanah yang seharusnya dijaga. Banjir menjadi refleksi bahwa kita gagal mensyukuri dan merawat alam.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Korban banjir terbesar biasanya adalah kelompok rentan: masyarakat miskin, warga yang tinggal di pinggir sungai, dan permukiman padat. Banjir Sumatera 2025 menunjukkan betapa banyak nyawa hilang bukan karena hujan, tapi karena izin pertambangan baik legal maupun ilegal, dan peralihan fungsi hutan yang hasilnya tidak merata untuk masyarakat.

Persatuan Indonesia: Gotong royong adalah inti solusi. Setiap bencana selalu memperlihatkan bagaimana masyarakat saling menolong lebih cepat dibandingkan birokrasi. Tapi gotong royong saja tidak cukup, ia harus menjadi budaya proaktif, bukan hanya saat bencana datang saja.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan: Tata ruang, izin pembangunan, alih fungsi lahan, penebangan hutan, pertambangan. Semuanya harus melalui musyawarah dan keputusan bijak. Ketika hal tadi hanya untuk mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek tanpa adanya konsultasi publik, bencana menjadi konsekuensi.

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Banjir adalah cermin dari ketidakadilan. Mereka Yang paling miskin justru menanggung dampak terparah. Penanganan yang lambat, akses bantuan yang tidak merata, serta perlindungan sosial yang minim adalah bentuk ketidakadilan yang bertentangan dengan sila kelima.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, banjir Sumatera yang terjadi saat ini membawa pesan keras kalau Negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Angka korban yang mencapai ratusan jiwa adalah peringatan bahwa kita gagal menjaga tanah yang kita pijak. Jika Pancasila benar-benar menjadi dasar negara, maka ia seharusnya menjadi dasar kita memperbaiki cara hidup, cara membangun, dan cara merawat alam.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × 2 =