Kebangkitan Bangsa: Euforia Historis Menuju Redefinisi Peradaban Baru

Oleh:
Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN SGD Bandung)

Terasjabar.co – Setiap tanggal 20 Mei, gema kebangsaan bergema di berbagai penjuru negeri. Sekolah-sekolah menggelar upacara, lembaga negara menyampaikan pesan kebangsaan, dan media massa menayangkan kilas balik sejarah berdirinya Boedi Oetomo tahun 1908 sebagai simbol lahirnya kesadaran nasional. Namun, di balik peringatan ini, muncul pertanyaan penting: apakah “kebangkitan bangsa” yang kita rayakan ini benar-benar hadir dalam kenyataan, atau hanya menjadi ritual simbolik yang kehilangan makna?

Apakah kita sedang bangkit, atau hanya merasa bangkit?

Lebih dari satu abad setelah kebangkitan nasional pertama, kita hidup dalam dunia yang sangat berbeda. Ini bukan hanya era digital, tetapi era transisi peradaban, di mana cara kita berpikir, hidup, dan berinteraksi telah berubah secara radikal. Maka, kebangkitan bangsa hari ini tidak cukup jika hanya dimaknai secara historis. Ia harus diredefinisi ulang sebagai kebangkitan nilai, akal sehat, dan kesadaran peradaban.

Babak Baru Dunia, Babak Baru Indonesia

Kita hidup di zaman penuh paradoks. Di satu sisi, kemajuan teknologi telah membawa efisiensi dan keterhubungan global. Namun di sisi lain, krisis identitas, ketimpangan sosial, dan ancaman ekologis justru semakin nyata. Dunia sedang mengalami pergeseran sumbu peradaban: dari kekuatan militer ke kekuatan pengetahuan, dari penguasaan fisik ke dominasi data, dari kekayaan sumber daya ke supremasi nilai-nilai.

Indonesia sebagai negara besar dengan keberagaman budaya, spiritualitas, dan potensi demografi yang luar biasa, seharusnya tidak hanya ikut arus, tetapi juga memberi warna. Tapi pertanyaannya: apakah kita sedang membangun arah peradaban kita sendiri, atau sekadar mengekor pada arus global tanpa jati diri?

Jika kebangkitan nasional hanya kita maknai sebagai “bebas dari penjajahan” atau “mengejar kemajuan ekonomi”, maka kita kehilangan konteks zaman. Kita membutuhkan redefinisi makna kebangkitan.

Dari Nasionalisme Seremonial ke Etika Peradaban

Bangkit bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tapi tentang menyiapkan masa depan. Jika dulu kita bangkit dari penjajahan fisik, maka hari ini kita harus bangkit dari:

  1. Penjajahan mental, di mana banyak anak muda kehilangan arah di tengah derasnya informasi.
  2. Penjajahan struktural, di mana korupsi, ketimpangan, dan birokrasi yang tidak melayani masih membelenggu keseharian rakyat.
  3. Penjajahan nilai, ketika pragmatisme dan konsumerisme menggerus idealisme dan akhlak publik.

Oleh karena itu, kebangkitan bangsa harus dipahami sebagai kebangkitan peradaban—yakni kebangkitan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknologi, tetapi juga menata ulang cara hidup kita sebagai manusia dan warga bangsa.

Pilar-Pilar Kebangkitan Baru

Redefinisi kebangkitan bangsa harus dibangun setidaknya  di atas empat pilar utama:

  1. Kebangkitan Kesadaran Nilai, bahwa kita butuh transformasi dari bangsa yang sekadar “besar” menjadi bangsa yang “bernilai”. Gotong royong, toleransi, keadilan sosial, dan penghormatan pada kebenaran harus menjadi roh dalam pendidikan, kebijakan publik, dan ruang sosial.
  2. Kebangkitan Etika Politik dan Kepemimpinan, Dimana kita perlu meninggalkan model politik yang hanya mengandalkan popularitas, dan beralih ke kepemimpinan yang visioner, etis, dan berani memperjuangkan yang benar meski tidak populer. Kebangkitan sejati tidak lahir dari kekuasaan, tapi dari teladan.
  3. Kebangkitan Kemandirian Ekonomi Berbasis Rakyat, Dimana ekonomi bangsa harus dibangun bukan di atas utang dan konsumsi, tetapi atas dasar produksi, inovasi, dan pemberdayaan rakyat. UMKM, koperasi, petani, dan komunitas lokal bukan pelengkap, tapi fondasi ekonomi nasional.
  4. Kebangkitan Literasi dan Pemikiran Kritis, bahwa bangsa yang bangkit adalah bangsa yang membaca, berpikir, dan berdialog. Pendidikan tidak cukup mengajarkan fakta, tapi harus membentuk karakter dan kemampuan berpikir jernih di tengah banjir hoaks dan disinformasi.

Kebangkitan yang Menjawab Zaman

Saat ini dunia sedang mencari arah. Negara-negara maju pun sedang mengalami krisis makna. Mereka memiliki teknologi, tapi kehilangan makna kemanusiaan. Di sinilah Indonesia bisa mengambil peran—bukan sebagai kekuatan ekonomi dunia semata, tetapi sebagai kekuatan nilai dan inspirasi kemanusiaan. Tentu dengan warisan budaya yang menekankan keseimbangan, keberagaman, dan spiritualitas, Indonesia punya modal untuk menjadi moral voice dalam dunia yang semakin materialistik. Namun ini hanya bisa terjadi jika kita memulai kebangkitan dari dalam—dari kesadaran setiap warga negara, dari keluarga, sekolah, kampus, pesantren, hingga kantor-kantor pemerintahan.

Penutup: Membangun Peradaban Indonesia dengan nilai dan makna

“Kebangkitan sejati bukan sekadar bangkit dari tidur sejarah, tetapi berani menata mimpi peradaban.” Bangkit bukan berarti hanya menoleh ke belakang, tapi membangun visi ke depan. Kita tidak cukup hanya bangga sebagai bangsa besar, tapi harus menjadi bangsa yang membesarkan nilai. Inilah saatnya kita berhenti meniru, dan mulai merumuskan. Bukan hanya menjadi pasar dari globalisasi, tapi penentu arah dari peradaban.

20 Mei bukan hanya hari kebangkitan nasional, tetapi harus menjadi hari perenungan kebangsaan: siapa kita hari ini?  dan siapa yang ingin kita jadikan bangsa ini esok hari? dan apa kontribusi kita bagi peradaban bangsa ini ? apa nilai kita untuk bangsa ?

Mari kita jadikan kebangkitan bangsa bukan sebagai seremoni tahunan, tetapi sebagai gerakan kolektif dan konsisten untuk mewujudkan peradaban yang manusiawi, adil, bernilai dan bermakna untuk Indonesia, dan untuk dunia

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight − three =