HIDUP TANPA IJAZAH DAN IJAZAH PALSU: Ngahiap jeung Ngalap Ajip
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik/Pusat Studi Sunda)
Terasjabar.co – Dalam setahun terakhir, isu tentang “Ijazah Asli atau Palsu?” telah memberikan ruang multi dimensi diskursus cara membaca ‘ijazah’ bukan sekedar data administrasi akademik,tetapi sudah merambah ke ranah politik praktis dan hukum. Mengapa? Bukan karena ijazah-nya, tetapi siapa yang memiliki ijazah itu, yaitu seorang JOKO WIDODO.
Namun, tulisan ini bukan tentang hal itu dan bukan tentang dia. Ini tentang seseorang yang layak diteladani meskipun tanpa ijazah.Jika saja Pa Ajip Rosidi mengetahui tentang polemik ijazah ini. Bagaimana sikap dan pandanganya?
Dalam sepekan ini, Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung menggelar agenda NGALAP AJIP, 28- 31 Januari 2026 dengan berbagai kegiatan. Empat puluh tahun yang lalu, sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (IKIP Bdg) ’86, saya tentu mengenal sosok beliau sebagai sastrawan Angkatan ’66, meskipun dari buku-buku karyanya maupun buku karya sastrawan lainnya.
Saat kuliah dulu itu , ternyata terbit buku tentang “Ajip Rosidi Satengah Abad” (Pustaka Karsa Sunda,Bandung, 1988). Buku berbahasa Sunda ini atas inisiatif tiga tokoh sastrawan-budayawan: H. Endang Saifudin Anshari, Edi S. Ekadjati, dan Abdullah Mustapa. Dari ketiga orang ini, hanya tinggal seorang yang Allah beri usia panjang dan Kesehatan yaitu Pa Abdullah Mustappa. Masih ingat pertemuan saya dengan beliau pada Milad-nya ke-80 (2025) yang dirayakan secara sederhana di Ruang Diskusi PSS Jl Garut No. 2.

Pertama kali bertemu Pa Ajip, pada tahun 2018 di Kantor PSS Jl. Garut No. 2. Masih ingat, saya menanyakan tentang sosok misterius Rd. Adeng S. Kusumawidjaja (ASK) yang terkenal dengan pamphlet Front Pemuda Sunda (17/8/1956). Istrinya, yang dikenalkan sebagai bidan Ebah, asal Majalaya adalah adik kandung nenek penulis (Mimi Suhamemi-Rd. Haris Hamijaya, asal Banjar). Sayang, tak banyak informasi yang saya peroleh tentang ASK, selain kata Pa Ajip sendiri, ia adalah sosok yang mahiwal dan misterius. Pasca peristiwa itu tidak banyak jejak kisah tentang kiprahnya.
Perjalanan hidup saya, setelah bertemu sekali-kalinya dengan Pa Ajip Rosidi karena beliau lebih dahulu wafat (2020), rupanya membawa berkah tersendiri. Saya diminta oleh salah seorang senior PII, (Kang RTH) yang sudah kenal sejak kami kuliah dulu. Beliau salah-satu kepercayaan Pa Ajip Rosidi (sejak 2000-mendirikan Kiblat dan melanjutkan Dunia Pustaka Jaya) yang juga mengidentifikasi dirinya sebagai pengikuti aliran Ajiprosidi-an, yang hidup mulia dan berkarya tanpa ijazah untuk aktif membantunya di PSS (2025). Saya menempati ruangan tempat yang semasa hidup pa Ajip beraktivitas di PSS. Saya menjadi doktor (mondok di kantor).
Kredo Hidup Tanpa Ijazah
Hidup tanpa Ijazah, seperti kredo dalam kehidupan Ajip Rosidi. Tetapi, tentu sejatinya bukan keinginannya sendiri, tetapi karena faktor kondisional saat itu. Sementara adiknya, Pak Ayatrohaedi (Mang Ayat) adalah professor doktor dosen Arkeologi UI.
Jejak kehidupannya, seolah-olah menjadi pembuktian hidup pernyataan Rocky Gerung, “Ijazah itu tanda pernah sekolah bukan tanda pernah berpikir. Bahkan, tumpukan ijazah hanyalah menjadi bukti status sosial bukan status akal”.
Pak Ajip (1938-2020) hanya berpendidikan SMA, itu pun tidak tamat. Jadi ia tidak punya ijazah SMA. Pencapaian monumental Ajip Rosidi itu disiarkan dengan lugas dan blak-blakan dalam otobiografinya yang sangat tebal 1.330 halaman dengan tajuk “Hidup Tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan” (Pustaka Jaya, 2008).
Banyak intelektual-akademisi pituin Sunda berijazah doktor, tetapi mengapa di Tatar Sunda selalu krisis pemikir dan pemimpin? Rupanya Ajip Rosidi memiliki jawaban yang sangat menguatkan seperti ditulis dalam “Hidup Tanpa Ijazah” di halaman 1.205.
“…orang Sunda itu paling lama dijajah. Sebelum dijajah Belanda dan Jepang, terlebih dahulu dijajah Jawa Mataram yang feodalis. Jadi mentalitas orang Sunda umumnya adalah mentalitas orang jajahan yang biasa mengabdi. Tidak bisa mandiri karena terbiasa menerima perintah”.
Tahun 2008, saya membaca buku judulnya adalah “Hidup Tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan”, sebuah otobiografi Ajip Rosidi, sastrawan dan budayawan Indonesia. Buku ini ditulis dalam waktu kurang dari setahun, ditulis atas anjuran teman-teman Ajip dan mengejar waktu agar telah terbit saat Ajip berusia 70 tahun pada 31 Januari 2008.
Buku ini ditulis oleh Ajip sendiri. Walaupun buku ini mulai ditulis tahun 2006, Ajip dapat merekam dengan cukup detail peristiwa-puluhan tahun sebelumnya sejak Ajip anak-anak, remaja, pemuda, dewasa muda, dewasa, sampai usianya sekarang (70 tahun). Pasti Ajip biasa menulis jurnal kegiatan harian sehingga ia bisa menuliskan kembali peristiwa sehari-hari puluhan tahun ke belakang.
Mengapa Ajip memberi judul buku ini “Hidup Tanpa Ijazah”? Karena Ajip tak punya ijazah apa-apa, ijazah SMA pun tidak, sebab ia keluar sebelum ujian akhir SMA (Taman Madya). Ajip tidak pernah kuliah, bukan sarjana, tentu bukan master, apalagi doktor. Ia hanya seorang otodidaktis (pelaku otodidak)tulen. Tetapi, lihat karya, sepak terjang, dan pengakuannya. Itu semua melebihi pencapaian rata-rata sarjana, master, doktor, dan profesor pada umumnya.
Gara-gara Jual-beli Soal Ujian (1956)
Tujuh puluh tahun (70) yang lalu (1956-2026), borok pendidikan Indonesia rupanya sudah mencuat. Fakta ini menjadi alasan mengapa Ajip Rosidi tidak mau mengikuti ujian nasional saat itu. Tahun 1956, sebagai siswa SMA Taman Siswa Jakarta, dia dengan sengaja keluar dari sekolahnya seminggu sebelum ujian akhir dimulai.Ini bentuk protes yang ekstrem dan radikal. Bahkan, untuk ukuran zaman saat ini.
Dan, keluarlah Ajip dari sekolah alias drop out, dia menulis surat kepada gurunya di atas kartu pos, “saya tidak jadi ikut ujian nasional karena sayaakan membuktikan bahwa saya dapat hidup tanpa ijazah” Luar biasa keputusan anak remaja ini, keputusan sendiri, tanpa memberi tahu orang tuanya di Jatiwangi.
Saat Ajip mau menempuh ujian nasional, ramai terjadi kebocoran soal-soalujian, orang tak segan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk membeli soal ujian, guru-guru pun bisa disogok. Di koran-koran timbul polemiktentang manfaat ujian. Dipertanyakan tentang keabsahan ujian untuk menilaiprestasi murid yang sebenarnya.
Ajip muda (16 tahun) berkesimpulan : orang tidak segan melakukan perbuatan hina, membeli soal ujian atau menyogok guru,demi lulus ujian. Untuk apa lulus ujian ? Untuk dapat ijazah. Untuk apa ijazah ? Untuk melamar kerja. Untuk apa kerja? Untuk dapat hidup. Kalau begitu, hidup berarti bergantung kepada secarik kertas bernama ijazah! Ajip terkejut sendiri dengan kesimpulannya. Ia saat itu telah empat tahun berkarya (Ajip mulai mengirimkan tulisan-tulisan cerita dan puisi dan dimuat dikoran-koran dan majalah-majalah sejak tahun 1952 saat umurnya masih 14 tahun) dan telah merasa bisa hidup cukup mandiri dengan honorariumnya. Ajip bertanya, apakah seorang pengarang membutuhkan ijazah untuk bisa hidup? Tidak.
“Ajip akan diterjang kegelisahan yang luar biasa saat ia mandeg membaca dan gagap menulis” . Demikian akhir tulisan Maman S. Mahayana dalam Panji Mas, Februari 2003)






Leave a Reply