Parameter Mewujudkan Peradaban Islam

Oleh:
Lilis Suryani
(Guru dan Pegiat Literasi)

Terasjabar.co – Masjid yang digadang-gadang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat, yaitu Masjid Raya Al Jabbar telah rampung. Bahkan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil sendiri telah meresmikan penggunaan Masjid Raya Al Jabbar di Cimincrang, Gedebage, Kota Bandung, pada Jumat (30/12/2022) lalu.

Dalam sembutannya Ridwan Kamil menyebut bahwa masjid ini menjadi cikal bakal perkembangan peradaban Islam di Jabar.

“Mari kita syukuri perjalanan peradaban Islam di Jawa Barat menjadi salah satu bagian yang luar biasa dari sejak masjid kubah yang hanya dinaungi daun-daun pelepah kurma, dengan tiang kurma yang sangat sederhana di zaman Rasul. Sampai ke hari ini masyarakat muslim Jawa Barat bisa menghadirkan, memuliakan semulia-mulianya nama Allah dalam bentuk tempat beribadah yang insya Allah makmur,” ungkap Kang Emil.

Benar, jika saat ini kita patut bersyukur atas karunia Sang Maha Pencipta bahwa umat Islam di negeri ini bisa beribadah dengan bebas, bahkan leluasa untuk mendirikan Masjid yang begitu besar dan megah.

Namun terkait pengguanaan istilah ‘peradaban islam’, maka harus dipahami terlebih dahulu maksud kata ‘peradaban Islam’ itu sendiri.

Menurut Prof. Dr. Fahmi Amhar, Profesor Riset Sistem Informasi Spasial, Alumnus Vienna University of Technology, Austria, di dalam salah satu tulisannya menyebutkan bahwa peradaban biasanya diukur dari tiga parameter.

Pertama, setinggi apa peradaban itu meningkatkan kualitas kehidupan, baik dari sisi perlindungan (keamanan, keadilan), kesejahteraan (sandang, pangan, papan, kesehatan), maupun kecerdasan (pendidikan).

Kedua, seluas apa peradaban itu memberi pengaruh positif kepada warga-warga lain di luar komunitasnya.

Ketiga, selama apa peradaban itu bertahan terhadap dinamika zaman, atau bahkan mengendalikan perubahan zaman.

Dalam Islam, parameter ini bisa diperluas lagi sesuai maqâshid syarî’ah.  Peradaban diukur dari kemampuan sebuah masyarakat menjaga/membela agama (hifzh-ud-dîn), menjaga jiwa (hifzh-an-nafs), menjaga akal sehat (hifzh-al-‘aql), menjaga kehalalan dan keberkahan harta (hifzh-al-mâl), menjaga keturunan (hifzh-an-nasb), menjaga keamanan (hifzh-al-amn), menjaga kehormatan/kemuliaan (hifzh-al-‘izzah), dan menjaga keberlanjutan kedaulatan negara (hifzh-ad-dawlah).

Dengan demikian, jika dikaitkan dengan pembangunan mesjid maka kehadiran masjid megah harus disyukuri dengan bentuk memahami betul fungsi mesjid dalam Islam yakni sebagai tempat belajar agama islam bahkan sebagai tempat pengaturan urusan masyarakat dengan Islam.

Sebagaimana peradaban Islam yang dahulu pernah eksis dan ada pada posisi puncak kejayaannya. Dari tiga parameter yang universal, peradaban Islam yang dahulu dipimpin para khalifah jelas menunjukkan:

Pertama, peradaban Islam dalam bingkai sebuah negara melindungi seluruh warganya, baik Muslim maupun bukan.  Negara juga melindungi Muslim di luar negeri.  Negara bahkan melindungi ahlul dzimmah (non-Muslim), termasuk yang meminta perlindungan (al-musta’min) atau yang ada perjanjian (al-mu’âhad). Ini agar mereka semua bisa terakses oleh dakwah.

Negara dalam bingkai syariat Islam benar-benar dapat meningkatkan taraf hidup warganya.  Kualitas kota-kota besar maupun kecil pada saat itu menjadi mercusuar bagi dunia. Negara juga berhasil meningkatkan literasi serta memajukan sains dan teknologi melebihi yang tercapai peradaban maju di manapun saat itu.

Kedua, negara berkontribusi positif yang signifikan di kancah dunia. Negara menjadi penengah dalam berbagai konflik yang terjadi antara sesama negeri non-Islam.  Negara dalam bingkai syariat Islam membantu negeri non-Islam yang terkena bencana.  Wilayah negara juga menjadi suaka warga negeri non-Islam yang terusir atau tidak sejahtera di negerinya.

Ketiga, negara membuktikan dirinya bertahan terhadap dinamika zaman selama 1300 tahun. Meski kondisi internalnya mengalami pasang-surut, dia tetap diperhitungkan dalam sejarah dunia hingga awal abad-20.  Ini tidak mungkin bila sejarahnya terus bersimbah-darah. Negara yang menjadi poros peradanan Islam bukan negara gagal yang berusia pendek atau di bawah kendali negara lain.

Dengan demikian dapat dipastikan, peradaban negeri Islam itu, pada sebagian besar kurunnya adalah peradaban emas. Tentu, umat Islam dan manusia pada umumnya merindukan peradaban luhur yang memanusiakan manusia hadir kembali di muka bumi, itulah peradaban Islam. Maka patut kita amin-kan pernyataan Gubernur Jawa Barat, bahwa Jawa Barat akan menjadi cikal bakal peradaban Islam.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *