Konsep Pembangunan Dalam Islam

Oleh:
Putri Efhira Farhatunnisa
(Pegiat Literasi di Majalengka)

Terasjabar.co – Pemerintah berencana menghidupkan kembali Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati dengan mempromosikanya melalui sebuah acara bertajuk ‘Kertajati Menyapa 2022’. Acara ini digelar dari tanggal 30 November hingga 4 Desember 2022 lalu di Trans Studio Mall Bandung.

Kertajati Menyapa merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar bersama PT Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) dan Samsara Dharsana. Acara ini mengajak kerjasama dari berbagai pihak untuk mewujudkan Aerocity Kertajati sebagai gerbang pariwisata (fokusjabar.id 30/11/2022).

BIJB Kertajati yang bertempat di Kabupaten Majalengka ini memang diharapkan agar menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya yaitu Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan). Terlebih didukung oleh potensi besar Sumber Daya Alam (SDA).

Aerocity Kertajati yang didukung potensi ini diharapkan menjadi pusat kegiatan ekonomi. Terutama dalam bidang industri, perdagangan, juga pariwisata. Serta menjadi jembatan konektivitas antar wilayah, baik dalam maupun luar negeri. Ajakan kerjasama yang disebut, dalam kata lain pengenalan potensi Aerocity ditujukan untuk menarik perhatian para investor.

Adanya BIJB Kertajati, siapakah yang diuntungkan?

Sekilas mungkin memang terlihat menguntungkan berbagai pihak khususnya masyarakat sekitar, namun dalam sistem kapitalisme ini tidak sesederhana itu. Rakyat dalam kapitalisme hanya dipandang sebagai ‘mesin uang’, bukannya menguntungkan tapi malah buntung.

Jika kita melihat ke belakang, pembangunan bandara ini diwarnai dengan polemik pembebasan lahan. Di mana banyak sekali warga yang kehilangan lahannya terutama persawahan, sedangkan itu merupakan sumber mata pencaharian mereka. Untuk sekadar menjadi buruh pabrik pun tak bisa karena rendahnya tingkat pendidikan. Dan ternyata lahan masyarakat dibeli dengan harga yang tak sesuai pasaran.

Belum lagi pebisnis lokal yang ilmu bisnisnya sedikit akan kalah saing dengan pebisnis kelas kakap. Iming-iming akan membuka lapangan pekerjaan baru untuk menyejahterakan rakyat pun nyatanya sekadar ilusi semata. Karena dalam sistem kapitalisme, biaya produksi (termasuk upah) akan ditekan sekecil mungkin dengan keuntungan sebesar-besarnya.

Oleh karena itu tak heran ketika banyak buruh yg menuntut kenaikan gaji. Maka alih-alih menyejahterakan rakyat, pembangunan infrastruktur ini malah kian mencekik rakyat. Dan yang paling diuntungkan dari proyek besar ini tentu adalah para investor, mereka mempunyai ‘lahan’ uang baru.

Pembangunan sarana transportasi yang dibebankan pada investor akan membuat pemerintah tak memegang kendali atas tarif transportasi tersebut. Dengan skema bagi hasil ala kapitalisme, tentu yang mendapat keuntungan paling besar adalah siapa yang paling besar menggelontorkan dana. Akibatnya negara tak dapat memberikan tarif terbaik dan terjangkau untuk kemudahan masyarakat.

Lebih dari itu, para wisatawan dan investor akan membawa budaya yang merusak keluarga dan generasi. Apalagi bandara berskala internasional yang bukan tak mungkin akan terjadi penyebaran gaya hidup maupun pemikiran asing seperti liberalisme dan hedonisme oleh wisatawan asing.

Inilah yang paling berbahaya, saat generasi mulai jauh dari Islam, diperparah adanya gesekan aktivitas dengan aktivis pemikiran asing tersebut. Pandangan takjub terhadap orang asing yang mengisi sebagian besar kaum muslim saat ini, juga tentu akan membuat generasi meniru apa yang dilakukan oleh mereka.

Konsep Pembangunan Dalam Islam

Infrastruktur sejatinya dibangun untuk memudahkan akivitas dan kesejahteraan masyarakat, dilihat pula sisi urgensitas atau darurat tidaknya infrastruktur tersebut. Sehingga tidak asal bangun dengan menghabiskan banyak dana namun bukan yang dibutuhkan rakyat. Keuangan negara akan digunakan untuk kebutuhan umat, jadi saat infrastruktur belum dibutuhkan maka ia tidak akan dibangun.

Berbeda dengan sistem saat ini, terdapat infrastruktur ‘pesanan’ korporat untuk memudahkan distribusi produk mereka. Maka dari itu pembangunan infrastruktur tak lagi melihat sisi urgensitasnya, hanya memikirkan keuntungannya saja. Dan seringkali keuntungan itu pun tidak dinikmati rakyat, namun hanya segelintir orang yang bersangkutan.

Dalam Islam, biaya pembangunan infrastruktur transportasi tidak berasal dari investasi namun dibiayai secara mandiri oleh negara, hingga anggaran untuk operasional nantinya. Karena dengan adanya tangan investor disana, akan memungkinkan adanya penyetiran kebijakan dan negara tidak berdaulat secara penuh untuk kebutuhan rakyat.

Negara Islam bisa membiayai proyek secara mandiri karena adanya sistem pembatasan kepemilikan, di mana SDA tidak diizinkan untuk dimiliki oleh pribadi. Dari SDA ini lah negara Islam mampu membiayai berbagai kebutuhan masyarakat, tidak mengandalkan investor atau hutang.

Adapun pariwisata dalam Islam adalah ladang dakwah serta propaganda, kita yang mewarnai wisatawan bukan malah terbawa arus budaya mereka. Jadi saat para wisatawan menikmati pesona alam yang Allah ciptakan, disuguhkan pula ajaran Islam yang dipaparkan oleh pemandu wisata.

Hanya Islam lah yang mampu mengatur infrastruktur dan sektor pariwisata dengan baik, pembangunan sesuai kebutuhan dan wisata berkualitas untuk mengenalkan agama Allah pada dunia. Dan mendudukan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas.

Wallahua’lam bishshawab.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *