Rindu Kejayaan Ubi Kayu

Oleh:
Dedi Asikin

Terasjabar.co – Hari Sabtu kemarin saya hadir pada pertemuan presidium pembentukan Kabupaten Tasikmalaya Selatan.

Sebuah rumah makan berkarakter budaya sunda menjadi tempat kami kumpul kumpul. Tak hanya sebatas silaturahmi tapi juga memompa semangat berjuang untuk pembentukan daerah otonomi baru, Kabupaten Tasikmalaya Selatan.

Saya melihat semangat adik adik saya itu masih kuat. Harapannya masih mengembang meski masih ada penghalang yang merintang.

Perintang yang menghalang itu namanya moratorium. Moratorium itu ternyata kebablasan. Tidak sesuai dengan arti sesungguhnya, penundaan sementara.

Saya sudah bicara dan menulis banyak soal moratorium itu. Kali ini saya mau bicara soal lain. Di seberang rumah makan yang jadi tempat kami berkumpul, saya ingat dulu ada sebuah pabrik aci, tempat pengolahan singkong, sampeu atau ubi kayu menjadi aci sampeu atau tapioka.

Dulu itu sampai tahun 1960 an daerah selatan Tasikmalaya terkenal sebagai penghasil singkong atau ubi kayu. Ada puluhan pabrik bersekala besar dan kecil serta pabrik pengolahan rumahan.

Tapioka itu dulu diekspor ke Korea. Tapi sekarang semua tinggal kenangan. Sudah tidak ada satupun pabrik aci itu. Tragisnya sekarang kita justru mengimpor tapioka dari beberapa negara.

Tidak tahu kenapa hari ini saya kok merasakan ada kerinduan pada jaman kejayaan pabrik pabrik itu. Pada kebun dan tanaman singkong alias ubi kayu. Waktu kecil saya sering main main di dekat beberapa pabrik itu. Salah satunya di Cikeruh. Pabrik aci yang paling besar milik ko Engsun.

Di dalam ruang pertemuan saya ada sedikit berbincang dengan seorang rekan aktivis Tasik Selatan. Kepada dia yang bernama Yuyun saya bisikan bisakah kita mengembalikan kejayaan ubi kayu ?

Menurut saya bukan mustahil. Lalu saya ceritakan tahun 2010 disponsori Gubernur Jawa Barat Heryawan, saya pernah pergi ke Lampung.

Di sana itu singkong menjadi primadona yang sedang dikembangkan. Salah satunya oleh pengusaha perminyakan Arifin Panigoro (alm).Ada 120 ribu hektar lahan yang ditanami. Bukan untuk membuat comro atau misro. Ubi kayu itu mau diolah menjadi bio ethanol, bahan bakar nabati, sebagai alternatif mengatasi kesulitan bahan bakar minyak fossil. Pabriknya sedang dibangun dalam klaster kebun itu.

Yang menarik adalah bibit yang digunakan. Bibit unggul singkong raksasa, namanya varitas Darul Hidayah. Disebut begitu kerena varitas itu ditemukan dan dikembangkan di pondok pesantren Darul Hidayah Tulang Bawang kabupaten Lampung Tengah.

Saya juga sempat ke kabupatenTanggerang provinsi Banten. Di sana ada Sukardi yang juga mengembangkan singkong Darul Hidayah. Dia mengaku tiap panen (setahun sekali) dia memperoleh profit Rp. 80 juta dari lahan 60 hektar yang dia kembangkan. Selain itu Sukardi juga menjual bibitnya. Ia menjual dengan harga Rp. 300 sampai Rp. 500 perstek (waktu itu)

Kepada Yuyun saya bisikan coba pikirkan untuk mencoba mengajak masarakat menanam dan mengembangkan kembali ubi kayu itu. Tak hanya dibuat comro misro atau getuk lindri , tapi coba proyeksikan untuk pembuatan bio ethanol. Bahan Bakar Nabati pengganti BBM fossil yang selama ini selalu,jadi masalah.

Menurut informasi pengolahan bio ethanol itu sederhana. Ubi kayu itu dibuat bubur,lalu diberi zat enzim. Jadilah itu barang. Cara ini istilah teknologinya disebut pementasi.

Saya rindu kejayaan kembali ubi kayu,bisik saya sekali lagi pada teman aktivis Tasela itu.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *