Seribu Malam Tanpa Polisi
Oleh:
Dedi Asikin
Terasjabar.co – Kata Menko Polhukam Mahfud MD “lebih baik 60 tahun’kita punya polisi brengsek, dari pada satu malam tanpa polisi”.
Ucapan cak Mahfudz itu analog dengan sedikit plesetan dari pendapat atau fatwa Ibnu Taimiyah, ulama besar dan pemikir ulung (lahir di Turki 1256 wafat di Suriah 1328 M).
Aslinya beliau (Ibnul Taimiyah) mengatakan “lebih baik 60 tahun dipimpin pemerintah dzalim sari pada semalam tidak ada pemerintahan”.
Tapi ucapan Mahfud di counter oleh Rahma Sarita. Kata mantan presenter sebuah televisi itu sebenarnya kita sudah ribuan malam tidak punya polisi.
Rahma tentu ingin mewakili keluhan masyarakat luas. Masyarakat yang merasakan tidak mendapatkan pelayanan ketika mereka berhadapan dengan kejahatan, ketika melapor mereka tidak mendapatkan pelayanan. Atau masyarakat yang melapor kehilangan duit malah dipintai duit. Atau mereka berhadapan dengan konglomerat yang mau menguasai lahan mereka, polisi malah memihak pengusaha. Tentu demi mendapatkan duit dari pengusaha itu.
Kejadian kejadian seperti itu yang sering terdengar dimana-mana bagi Rahma sama saja kita tidak punya polisi. Itu merupakan perbandingan antara kepuasan dan kekecewaan masyarakat terhadap kinerja salah satu penegak hukum kita yang bernama polisi. Jumlahnya cukup banyak, ada 426 ribu anggota.
Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja mereka kini sedang anjlok. Pasca terjadi peristiwa pembunuhan anggota polisi brigadir Yosua oleh Irjen Polisi Ferdi Sambo tingkat kepuasan itu terjungkal ke angka 28 % dari 78% sebelumnya.
Angka itu kemudian merangkak naik setelah FS dkk ditetapkan sebagai tersangka. Tapi belum kembali ke angka semula.
Survei beberapa lembaga survei menunjukkan dalam bulan Agustus 22 baru mencapai 54,5%. Paling rendah dibawah Kejaksaan Agung dan KPK.
Menurut mantan Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) M. Naseer, tingkat kepuasan itu memang turun naik tergantung situasi yang terjadi dan bagaimana polisi menangani situasi itu.
Naseer menyampaikan hal hal yang tidak disukai rakyat dan menyebabkan tingkat kepercayaan turun antara lain:
- Sering bertindak anarkis
- Menindas masyarakat sipil,
- Tidak adil tergantung nilai uang,
- Bikin aturan untuk dilanggar sendiri,
- Sering gagal menyelesaikan kasus besar,
- Pungli dan UUD
Masih kata dia ada beberapa musabab terjadi kondisi demikian misalnya management internal kurang baik, ada ketidak adilan dalam pembinaan dan pengembangan karir. Tergantung deukeut dan duit.
Perjalanan karier Ferdy Sambo mungkin salah satu contoh. FS itu tahun 2016 masih AKBP dan Wakil Direktur Tindak Pidana Umum dibawah Kombes Krisna Murtie. Sekarang dia sudah Irjen bintang dua menyalip Krisna yang masih Brigjen bintang satu. Konon untuk jabatan setingkat Kapolda,kepala divisi dan jabatan strategis lain harus setor 2,5 miliar. Wallahu alam.
Selain itu kata Naseer kompolnas juga tahu masuk polisi itu tidak mudah kalau tidak ada uang. Kondisi itu yang ikut memacu rusaknya moral polisi. Mereka harus mengganti uang yang digunakan bayar pintu tol itu.
Terjadi juga ketidak adilan anggaran. Anggaran itu seperti Piramida,bengkak diatas, kerempeng kebawah. Banyak keluhan dari para Kapolsek. Kapolsek itu ujung tombak. Seharusnya mereka diberi anggaran yang cukup. Akibatnya kerena anggaran cekak, ya mereka cari tambahan kesana kemari.
Menarik untuk disimak, pengakuan AKBP Dhalizon. Mantan Kapolres Ogan Komering Ilir itu dicokok dan KPK. Ia diduga menerima gratifikasi dari seorang pengusaha perkebunan terkait upaya penghentian perkara yang dihadapi. Untuk itu ia menerima Rp. 10 milyar. Didepan sidang ia mengaku selama menjadi Kapolres wajib setor ke atas Rp. 500 juta sebulan.
Sejak lama kata Naseer, terlihat indikasi yang terang benderang adanya mafia internal. Sudah pernah terungkap wacana rekening gendut para pejabat di Polri. Misalnya Irjen Joko Susilo dan calon Kapolri yang gagal Budi Gunawan.
Kasus Ferdi Sambo barangkali bukti kekinian semakin menggilanya mafia internal disana. Maka itu adalah tepat dan malah sebuah keniscayaan, adanya desakan agar terbongkarnya kasus FS menjadi momen Polri membenahi diri secara totalitas dan komprehensif.
Desakan itu datang banyak pihak. Dalihnya sama kerena kecintaan kepada Polri. Antara lain dari mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji. Tak ketinggalan juga dari Komisi III DPR. Kalau tidak, polri pasti akan ditinggalkan publik, kata Susno Duadji.
Jangan sampai masyarakat lebih memilih tanpa polisi dari pada ada polisi tapi tak terasa adanya. Ya kan, ya kan?.





Leave a Reply