Ganjar, Cucu Mantu Kyai Hisyam

Terasjabar.co – Dulu saat zaman penjajahan, ada sosok ulama terkenal asal Purbalingga bernama Kyai Hisyam Abdul Karim. Orang lebih mengenalnya dengan sebutan Mbah Hisyam Kalijaran. Semasa hidupnya, Mbah Hisyam dikenal sebagai kyai jadug, memiliki ilmu kanuragan dan kesaktian tinggi yang membuatnya ditakuti.

Selain dikenal sebagai ulama yang alim, Mbah Hisyam juga dikenal sebagai sosok pejuang kemerdekaan. Selama hidupnya, ia menjadikan pondok pesantrennya sebagai tempat kaderisasi para pejuang. Ribuan santri yang belajar ngaji di sana, ia ajari beragam keterampilan perang. Hasilnya, santri-santri itu mahir dalam urusan peperangan, dan ikut berjuang merebut kemerdekaan.

Mbah Hisyam mungkin kini telah tiada. Tapi semangat perjuangannya akan tetap hidup di kalangan santri dan keluarganya. Selain anak cucunya yang mengelola pondok pesantren sebagai tempat pendidikan, ada satu keturunannya yang berjuang lewat politik kenegaraan.

Dialah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah.

Lho, apa hubungan Mbah Hisyam dengan Ganjar? Bukankah Ganjar anak seorang polisi?Mungkin banyak orang bertanya terkait hal ini.

Ternyata, hubungan Ganjar dengan Mbah Hisyam sangat erat sekali. Ganjar adalah bagian dari keluarga Mbah Hisyam, karena menikah dengan cucunya bernama Siti Atikoh Supriyanti. Secara tak langsung, Ganjar adalah cucu mantu dari Mbah Hisyam sendiri.

Itulah kenapa Ganjar sangat beda dengan elit politik di negeri ini. Mungkin selama ini, orang menilai Ganjar adalah sosok nasionalis sejati. Selain backgroundnya sebagai aktivis GMNI, Ganjar juga berkiprah di dunia politik bersama PDIP. Partai berlambang banteng yang memegang teguh prinsip-prinsip nasionalisme hingga kini. Tapi coba lihat sepak terjangnya sampai kini. Ganjar bukan hanya nasionalis, tapi juga seorang pemimpin agamis.

Selama jadi Gubernur Jateng, Ganjar tak hanya fokus pada urusan negara. Banyak program kerja ia susun untuk memajukan sektor agama. Pemberian insentif pada guru ngaji, bantuan pengembangan lembaga keagamaan, beasiswa santri, koperasi pesantren dan optimalisasi badan amil zakat nasional (Baznas) adalah contoh kecil keberpihakan Ganjar pada isu agama.

Tak hanya itu, Ganjar konsen betul pada soal intoleransi. Dibanding pemimpin lain, Ganjar paling tegas kalau soal ini. Ia tak segan memecat bawahannya, yang terafiliasi dengan ormas-ormas yang tak beridiologi pancasila. Entah HTI, FPI, JI dan lainnya. Ganjar tak gentar, meski selalu diincar. Pokoknya kalau anti Pancasila, akan disikat sampai ke akar-akarnya.

Pun demikian dengan persoalan korupsi. Ganjar selalu berada di garda terdepan untuk memberantas praktik-praktik culas ini. Beberapa bawahannya ia pecat, karena terbukti merampok duit rakyat. Perda antikorupsi dan pendidikan antikorupsi dibuat. Untuk membentengi negara dari keserakahan orang-orang jahat.

Jika Mbah Hisyam dulu berjuang merebut kemerdekaan, Ganjar kini berjuang mempertahankan kemerdekaan. Meski tak berhadapan di medan pertempuran, namun perjuangan Ganjar tak kalah berat karena melawan bangsanya sendiri.

Tujuan keduanya sama, menjadikan bangsa ini merdeka. Jika Mbah Hisyam berjuang agar merdeka dari penjajahan, Ganjar berjuang agar bangsanya merdeka dari ancaman perpecahan karena intoleransi dan merdeka dari kesengsaraan akibat korupsi.

Sampai kapanpun Ganjar akan tetap jadi patriot NKRI. Bukan hanya karena ia dididik sebagai nasionalis di GMNI dan juga PDIP, tapi karena dia meneruskan perjuangan Mbah Hisyam demi ibu pertiwi.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *