Menjadi Perempuan Merdeka

Terasjabar.co – Perempuan, siapa perempuan? Pengertian perempuan dalam KBBI, adalah orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui. Pengertian tersebut merupakan peran perempuan dalam arti yang kecil, sebenarnya banyak sekali pengertian-pengertian perempuan yang jauh lebih luas dan lebih terperinci. Tetapi, benarkah dari pengertian tersebut merupakan acuan bahwa perempuan itu lemah? Apakah perempuan itu tidak berharga? Apakah perempuan tidak memiliki arti penting dalam keberlangsungan kehidupannya?

Penulis pernah mewawancarai salah satu dosen dari perguruan tinggi di Kota Bandung, bahwasanya peran perempuan itu sangatlah kuat. Dengan kedua tangannya, perempuan bisa menguasai peran keluarga bahkan dunia. Secara tidak sadar, ketika kita berada dalam permasalahan keluarga maka ibulah yang menjadi tolak ukur penyelesaian masalah tersebut. Penyebutan kota pemimpin provinsipun dinamakan “Ibu Kota” mengapa bukan “Bapak Kota?”, penarasian negara tercintapun dinamakan “Ibu Pertiwi” bukan “Bapak Pertiwi”. Hal tersebut secara tidak langsung menyebutkan bahwa peran perempuan dalam dunia ini sangatlah kuat.

Dalam Al- Quran surat Al-Ahqaf ayat 15 pun disebutkan bahwa perempuan itu adalah makhluk Tuhan yang sangat istimewa: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya yang mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa perempuanpun sangat dihormati dan diwajibkan agar kita tidak boleh menyakitinya. Maka apa hubungannya dengan Kartini? Seperti yang kita ketahui, Raden Adjeng Kartini atau yang biasa kita ketahui yaitu Kartini, adalah seorang pahlawan nasional yang menjungjungtinggi harkat dan martabat perempuan di masa kolonial. Kontribusinya yang dinilai sangat mampu memotivasi perempuan-perempuan agar menjadi indivudu yang kuat dalam segi kemampuan dan juga keilmuan, menjadikannya seorang inspirator dalam kondisi perempuan dari masa ke masa bahkan sampai hari ini.

Diskriminasi perempuan zaman kolonial dapat kita ketahui dari berbagai cerita turun temurun keluarga, bahkan tidak sedikit dari cerita tersebut kemudian dibukukan menjadi sebuah buku sejarah atau bahkan di adaptasi menjadi sebuah novel.

Banyak sekali peran Kartini pada masa kolonial, hal tersebut bisa kalian baca dalam salah satu karyanya yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Namun apakah kejayaan perempuan zaman Kartini bisa diimplementasikan pada perempuan masa kini? Jawabannya, iya. Perbedaanya terletak pada kondisi, situasi, dan juga tantangan zaman. Tentunya bisa terbilang zaman sekarang merupakan zaman yang lebih berat dibanding zaman Kartini. Mengapa bisa terjadi hal seperti itu?. Tantangan pada zaman Kartini berupa adanya ketidaksetaraan pendidikan yang mengakibatkan kesengsaraan bagi perempuan pada saat itu. Kebodohan perempuan yang menyebabkan perempuan dijadikan budak dari masa ke masa oleh penjajah, bahkan oleh keluarganya sendiri.

Adat istiadat di waktu itu tiada membolehkan perempuan berpelajaran dan tidak boleh bekerja di luar rumah, menduduki jabatan di dalam masyarakat. Perempuan itu haruslah takluk semata-mata, tiada boleh mempunyai kemauan. Perempuan itu hendaklah bersedia-sedia untuk dikawinkan dengan pilihan orang tuanya. Perkawinan, cuma itulah cita-cita yang boleh diangan-angan oleh anak gadis. Cuman itulah pelabuhan yang boleh ditujunya. “Selama ini hanya satu jalan terbuka bagi gadis Bumiputra akan menempuh hidup, ialah “kawin”. (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 23 Agustus 1900). Dapatlah kita mengerti bahwa kaum laki-laki lebih mudah menaklukkannya lagi. Cobalah misalkan kapal yang cuma satu saja pelabuhan yang boleh ditujunya. Bukankah orang yang mempunyai pelabuhan itu dengan mudah saja dapat berlaku lalim kepadanya?.

Perempuan itu cuma wajib mengurus rumah tangga dan mendidik anak- anaknya. Anak gadis itu dididik supaya menjadi budak orang laki-laki. Pengajaran dan kecerdasan dijauhkan daripadanya. Kebebasan tiada padanya. Jika sudah berumur dua belas tahun ditutup di dalam rumah. Dengan ringkas, banyak kewajibannya tetapi haknya tidak suatu juga.

Jelaslah posisi perempuan pada saat itu sangatlah tidak mengenakkan, tekanan demi tekanan terus dirasakan oleh perempuan, bahkan mungkin melalui kekerasan. Melalui pergerakan perempuan yang diprakarsai oleh Kartini (di Jawa), Dewi Sartika dan Emma Poeradiredja (di Parahyangan), dan pahlawan-pahlawan wanita lainnya di Indonesia. Pada akhirnya menghasilkan buah yang sangat manis, yaitu bisa mendapatkan pendidikan yang memadai bahkan setara dengan kaum laki-laki.

Kebebasan perempuan di masa kini terjadi tidak hanya pada bidang pendidikan, namun banyak hal lainnya yang bisa dilakukan perempuan seperti halnya di dunia politik, ekonomi, bahkan dunia dakwah. Seperti halnya Ibu Megawati Soekarnoputri,yang merupakan presiden ke-4 dan juga presiden perempuan pertama di Indonesia. Sekaligus membuktikan bahwa seorang perempuan juga bisa menjadi seorang pemimpin negara.

Perempuan juga diberi kebebasan secara penuh dalam menentukan pasangan hidupnya, bahkan walinya dilarang menikahkannya secara paksa, maka sebuah pernikahan seorang gadis tidak akan terlaksana apabila belum mendapatkan izin dan persetujuannya.

Menjadi “Perempuan Merdeka” merupakan kata lain dari feminisme, yang saat ini digaungkan dan agungkan oleh para perempuan yang menginginkan kesetaraan gender. Hal-hal di atas merupakan sebagian kecil kebebasan-kebebasan yang dapat dirasakan oleh perempuan. Kembali lagi kepada tantangan perempuan masa kini, pada realitanya perempuan sudah diberikan kebebasan untuk melakukan segala hal yang ia inginkan. Tetapi rupanya adat istiadat yang terjadi di masa Kartini terulang kembali, tidak sedikit pula orangtua yang masih berpikiran kolot seperti itu dengan alasan “Perempuan tidak usah sekolah tinggi, ujung-ujungnya juga balik lagi ke dapur dan kasur. Buang-buang uang saja.

Perspektif orangtua seperti inilah yang membuat harkat-martabat seorang gadis kembali lagi pada masa kolonial. Dan hal ini pula yang menjadikan perempuan-perempuan masa kini menjadi seorang gadis potensial yang kurang berwawasan, dan tentunya perspektif diatas sangat perlu dihapuskan dan juga diluruskan. Arti penting sebuah pendidikan untuk perempuan sepertinya harus kembali digaungkan oleh pemerintah, sebagai bentuk mencerdaskan perempuan- perempuan masa kini.

Pendidikan diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang semua potensinya dalam arti perangkat pembawaannya yang baik dengan lengkap. Pada tingkat dan skala macro, pendidikan merupakan gejala sosiaal yang mengandalkan interaksi manusia sebagai seksama (subjek) yang masing-masing bernilai setara. Tidak ada perbedaan hakiki dalam nilai orang perorang karena interaksi antar pribadi (interpersonal) itu merupakan perluasan dari interkasi internal dari seseorang dengan dirinya sebagai orang lain.

Hal lain yang patut disayangkan adalah banyaknya kasus-kasus pelecehan dan juga kekerasan seksual yang terjadi dikalangan dunia pendidikan. Ancaman-ancaman berkedok bentuk hormat terhadap guru, menjadi topeng bagi penjahat-penjahat untuk memuaskan nafsu buruknya terhadap murid terutama pada murid perempuan. Tentunya hal tersebut wajib diberikan evaluasi terhadap pengawas di dunia pendidikan untuk memberikan kenyamanan bagi para siswi untuk menuntut ilmu pengetahuan.

Lantas bagaimana caranya untuk menjadi “Perempuan Merdeka”? Menjadi perempuan merdeka bukanlah suatu hal yang sulit, meskipun pada realitanya banyak sekali tantangan yang harus kita lalui. Melalui pendidikan, merupakan salah satu cara untuk menjadi seseorang yang merdeka dari penindasan. Konteks penindasan sendiri menurut penulis terbagi menjadi dua, yaitu :

  1. Penindasan Intelektual; penindasan dalam artian minim ilmu pengetahuan yang mengakibatkan pembodohan, penindasan intelektual ini bisa dibilang sangat Terutama di dunia modern seperti ini, banyak sekali informasi-informasi yang dipalsukan seperti berita-berita hoax yang bisa menimbulkan kesalahfahaman antar individu maupun kelompok. Jika kita mendapatkan ilmu pengetahuan yang mumpuni, hal-hal seperti itu bisa dapat teratasi sehingga bisa meminimalisir kesalahfahaman.
  2. Penindasan Sosial: penindasan dalam artian perundungan yang mengakibatkan pengucilan sosial, ketidakmampuan mengatasi permasalahan sosial yang disebabkan oleh tidak adanya.

Kedua penindasan tersebut dapat diatasi jika kita memiliki kemampuan berpikir dan juga memiliki wawasan ilmu pengetahuan yang luas. Meskipun perempuan lemah dalam fisik, perempuan adalah makhluk yang paling kuat dalam mengingat dan mengatasi permasalahan (berpikir).

Peran Kartini pada masa kolonial, dapat dikatakan sangat memberikan pengaruh terhadap masyarakat terutama perempuan pada saat itu. Hal tersebut bisa kalian baca dalam salah satu karyanya yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kebodohan dan lemahnya posisi perempuan pada masa itu merupakan penyebab perempuan dijadikan budak dari masa ke masa oleh penjajah, bahkan oleh keluarganya sendiri.

Hal yang dapat diharapkan perempuan pada masa itu adalah perkawinan, hanya itulah cita-cita yang boleh diangan-angan oleh seorang anak gadis. Padahal kenyataannya mereka dijodohkan dengan orang yang belum tentu baik untuk kehidupannya. Namun melalui pergerakan perempuan yang diprakarsai oleh Kartini, Dewi Sartika dan Emma Poeradiredja, dan pahlawan-pahlawan wanita lainnya di Indonesia. Pada akhirnya menghasilkan sebuah titik terang yang membuat perempuan-perempuan bisa mendapatkan pendidikan dan juga keinginannya. Kebebasan perempuan di masa kini terjadi tidak hanya pada bidang pendidikan, namun banyak hal lainnya yang bisa dilakukan perempuan seperti halnya di dunia politik, ekonomi, bahkan dunia dakwah. Seperti halnya Ibu Megawati Soekarnoputri, yang menjadi presiden ke-4 dan juga presiden perempuan pertama di Indonesia.

Menjadi “Perempuan Merdeka” merupakan kata lain dari feminisme, yang saat ini digaungkan dan agungkan oleh para perempuan yang menginginkan kesetaraan gender. Tetapi rupanya adat istiadat yang terjadi di masa Kartini terulang kembali, tidak sedikit pula orangtua yang masih berpikiran kolot seperti itu dengan alasan “Perempuan tidak usah sekolah tinggi, ujung-ujungnya juga balik lagi ke dapur dan kasur”.

Perspektif orangtua seperti inilah yang membuat harkat-martabat seorang gadis kembali lagi pada masa kolonial. Dan hal ini pula yang menjadikan perempuan-perempuan masa kini menjadi seorang gadis yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tentunya perspektif diatas sangat perlu dihapuskan dan juga diluruskan. Pendidikan terhadap diperlukan agar dapat menjadi manusia yang dapat mengembangkan semua potensinya dalam arti perangkat pembawaannya yang baik dengan lengkap.

Menjadi perempuan merdeka bukanlah suatu hal yang sulit, meskipun pada realitanya banyak sekali tantangan yang harus kita lalui. Melalui pendidikan, merupakan salah satu cara untuk menjadi seseorang yang merdeka dari penindasan. Jika kita mendapatkan ilmu pengetahuan yang mumpuni, hal-hal seperti itu bisa dapat teratasi sehingga bisa meminimalisir kesalahfahaman. Meskipun perempuan lemah dalam fisik, perempuan adalah makhluk yang paling kuat dalam mengingat dan mengatasi permasalahan. (Rindi Rohaeni)

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *