Toni Setiawan Tolak Rencana Kenaikan PPN Objek Sembako

Terasjabar.co – Pemerintah berencana mengenakan PPN untuk sembako sebagaimana tercantum dalam draft RUU Perubahan Kelima Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).

Dalam pasal 4A, barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak dihapus dalam RUU KUP sebagai barang yang tidak dikenakan PPN. Dengan kata lain, sembako akan dikenakan PPN.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menyiapkan opsi tarif PPN untuk sembako. Salah satunya adalah opsi dikenakan tarif 1 persen untuk sembako kena pajak dengan rincian jenis sembako beras, gabah, daging, jagung, telur, kedelai, gula, sagu, garam, susu, buah-buahan, dan sayur-sayuran.

Anggota Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Demokrat Drs. Toni Setiawan, M.IPol. menilai perencanaan tersebut harus dikaji ulang dan dipertimbangkan kembali dengan melihat berbagai kemungkinan dampak yang terjadi.

“Menurut saya menaikkan PPN untuk komoditas sembako tentu akan berdampak luas,” kata Toni, Jumat (11/6/2021).

Salah satu dampak yang berpengaruh terhadap perekonomian yakni pada stabilitas harga komoditas sembako. Menurutnya, selama ini bahan makanan terutama sembako menjadi komoditas yang sering menyumbang tingkat inflasi.

“Kalau kenaikan PPN itu ditempuh, maka akan terjadi one shot inflation dan efeknya kemana-kemana, bisa ke daya beli, bisa ke penentuan tingkat upah, penentuan berbagai tarif dan bahkan penentuan tingkat bunga perbankan pun ada unsur perhitungan tingkat inflasi,” tuturnya.

Selain itu, kebijakan yang tengah digodok ini dinilainya akan semakin melemahkan kondisi masyarakat miskin. “Saat ini sumbangan garis kemiskinan makanan (GKM) mencapai 73,87 persen terhadap garis kemiskinan di Indonesia, di mana di dalam garis kemiskinan makanan tersebut sebagian besar dipasok dari komoditas sembako. Saya tentu sangat tidak setuju dan menolak rencana kenaikan PPN objek sembako. (Adanya) PPN sembako jelas akan berdampak pada pengeluaran penduduk miskin untuk komoditas makanan,” pungkasnya.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *