Hampir 200 Ribu Warga Jawa Barat Kekurangan Air Bersih

Terasjabar.co – Sebanyak 198.795 kepala keluarga di Jawa Barat terdampak kekurangan air bersih pada musim kemarau 2019. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat jumlah bantuan air bersih yang disalurkan mencapai 5.196.600 liter.

Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jabar, Budi Budiman Wahyu, menilai dampak kekeringan pada musim kemarau kali ini belum parah.

“Kalau dipersentasekan dari jumlah desa dan kecamatan di Jawa Barat, saya rasa tidak terlalu parah,” katanya, Jumat (6/9/2019).

Budi memperkirakan, jumlah wilayah yang terdampak kekeringan mencapai 10 persen di seluruh Jawa Barat. Ia menyebutkan jumlah desa yang terdampak hanya 457 desa dari 215 kecamatan yang tersebar di 22 daerah se-Jawa Barat.

Kondisi kekurangan air bersih diakui cukup merata di seluruh wilayah provinsi tersebut. Akan tetapi, ia memastikan dampaknya sampai saat ini masih terkendali.

Alhamdulillah sampai saat ini oleh (pemerintah) kabupaten/kota masih bisa dikendalikan,” katanya.

Selain itu, kemarau kali ini juga menyebabkan kekeringan lahan pertanian hingga 20.621,57 hektar di seluruh Jawa Barat. Bahkan, memicu kebakaran di lahan kosong, perkerbunan dan hutan.

“Kalau kebakaran lahan dan hutan, ada potensi sebagian karena musim kemarau,” kata Budi.

Kebakaran tersebut juga dipengaruhi faktor kelalaian manusia salah satunya puntung rokok yang dibuang sembarangan.

Sementara itu, BPBD Jabar merilis sebanyak 117 bencana terjadi di wilayah Jawa Barat sepanjang Agustus 2019. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat hanya 53 kejadian pada Juli 2019.

Data yang sama menyebutkan bencana yang mendominasi pada musim kemarau ialah kebakaran lahan dan hutan. Kebakaran tersebut mencapai 55 kali selama Agustus 2019 atau meningkat dari Juli 2019 sebanyak 18 kebakaran.

Kebakaran lahan kosong diakui lebih banyak dibandingkan kebakaran hutan. Ia mencatat kejadian tersebut hanya dilaporkan satu kali di wilayah Taman Nasional Gunung Ciremai.

“Namun, penanganannya memang cukup lama,” ujar Budi.

Potensi kebakaran lahan dan hutan masih tinggi pada musim kemarau yang diperkirakan lebih lama. Menurut pantauan sensor Badan Metereologi Klimatologi Geofisika Stasiun Kertajati, terdapat 10 titik panas pada Jumat, (6/9/2019).

Titik panas tersebut antara lain, di wilayah Kabupaten Bogor, Cianjur, Cirebon, Garut, Karawang, Kuningan, dan Majalengka masing-masing satu titik. Sedangkan titik panas terbanyak terpantau di Kabupaten Sukabumi sebanyak tiga titik di dua kecamatan.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *