Ini Kisah Bermulanya Puasa Arafah dan Keistimewaannya

Terasjabar.co – Umat Islam pada Selasa (21/8/2018) besok, atau tepat pada 9 Dzulhijah 1439 Hijriah  dianjurkan melaksanakan puasa arafah. Puasa Arafah merupakan puasa yang disunahkan oleh Rasulullah SAW.

Belum banyak orang yang tahu kisah bermulanya puasa arafah, sebelum melaksanakan puasa sunah arafah ada baiknya mengetahui kisah yang melatarbelakanginya.

Sejarah singkatnya, puasa sunah ini merupakan puasa yang dilaksanakan karena terdapat asal-usul kisah sejarah dibaliknya.

Sofwan Amini, Staf Syariah Kemenag Kota Bandung menjelaskan, kisah puasa arafah bermula dari sejarah Nabi Ibrahim AS.

“Nama puasa arafah bermula dari kisah Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT bermimpi menyembelih Ismail,” ujar Sofwan kepada Tribun Jabar saat ditemui di Kantor Kemenag, Kota Bandung, Senin (20/8/2018).

Pada zaman Nabi Ibrahim AS, tepat pada 8 Dzulhijjah beliau mendapati mimpi yang sangat mengejutkan. Mimpi itu memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anak kesayangannya, Nabi Ismail AS.

Di hari 8 Dzulhijjah tersebut, Nabi Ibrahim benar-benar bimbang setelah mendapati mimpi itu, dan keesokan harinya, barulah tiba sebuah jawaban yang dapat meyakinkan Nabi Ibrahim bahwa mimpi ini memang berasal dari Allah SWT.

Tepat pada 9 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS kembali bermimpi dan kali ini memang benar-benar jelas bahwa perintah ini datang langsung dari Allah.

Demikian berdasarkan hari atau  9 Dzulhijjah tersebut dinamai puasa arafah, yang memiliki arti ‘mengetahui’.

Dan keesokan harinya atau pada 10 Dzulhijjah, barulah penyembelihan tersebut pun dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim AS. Namun atas kehendak Allah SWT, pengorbanan Nabi Ismail AS pun digantikan dengan hewan kurban.

Keutamaan puasa Arafah adalah mendapatkan ampunan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Adapun orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah.

Soal pengampunan dari Allah SWT pada puasa Arafah ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama memaknai penghapusan dosa itu untuk dosa-dosa kecil.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

Sedangkan jika melihat dari penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah, bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar bisa terampuni karena hadits di atas sifatnya umum. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 7: 498-500).

Iamam Syafi’i berpendapat, puasa Arafah adalah hadiah dari Allah bagi umat Muslim yang tidak mengerjakan ibadah Haji.

Maka meski mereka tak bisa mengerjakan ibadah di tanah suci, tetap bisa mendekatkan diri dan meraih pahala besar dari Allah SWT.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *