Menerawang Budaya Folklore Masyarakat Jawa Barat Melalui Video Clip Tongtolang Sambasunda

Warisan budaya dibagi menjadi dua yaitu tangible dan Intengible. Warisan budaya yang tangible adalah yang dapat disentuh, berupa benda kongkret, yang pada umumnya berupa benda yang merupakan hasil buatan manusia, dan dibuat untuk memenuhi kebutuhan tertentu.

Warisan budaya intangible adalah yang tak benda, yang memerlukan upaya pelestarian meliputi ; sastra, musik, tari, permainan dan olahraga tradisional, teater, tata upacara, teknologi dan ilmu pengetahuan (Sedyawati, 2006: 160-163). Lagu Tongtolang adalah salah satu warisan budaya intangible karena berupa warisan budaya tutur dan merupakan syair permainan anak-anak Jawa Barat.

Hingga saat ini pencipta lagu tongtolang belum diketahui (anonim), karena lagu tongtolang lahir dari kalangan masyarakat ploretariat (masyarakat bawah). Pada umumnya, kesenian yang lahir dari kalangan masyarakat bawah, tidak diketahui identitas penciptanya. Biasanya diciptakan secara spontan untuk merefleksikan keadaan saat itu. Lagu tongtolang merupakan warisan budaya folklore masyarakat Jawa Barat yang sarat dengan nilai, norma, adat istiadat dan simbolik.

Kuntowijoyo membagi lingkungan manusia kedalam tiga lingkungan ; 1) Lingkungan material, 2) Lingkungan sosial, dan 3) Lingkungan. Berkaitan dengan dunia pertunjukan sebagai jagat kecil (front stage), maka representasi dari jagat itu adalah lingkungan simbolik yang diartikan sebagai lingkungan dimana segala sesuatu yang meliputi makna dan komunikasi, seperti kata, bahasa, mite, nyanyian, seni, upacara, tingkah laku, benda-benda, konsep-konsep dan sebagainya (Kuntowijoyo, 1987 : 66).

Simbol menjadi sesuatu yang penting bagi manusia, oleh karena itu hanya manusialah yang dapat membentuk simbol sebagai simbol makhluk yang berkebudayaan (Jaeni, 2007 : 24). Cassirer dalam An Essay on Man, menyebutkan bahwa simbol dibentuk oleh manusia yang berkebudayaan dalam bentuk agama, filsafat, kesenian, ilmu, sejarah, mite, dan bahasa ( Cassirer, 1956).

Sejalan dengan itu dalam kajian makna simbol, Langer membagi simbol seni dengan dua kategori, Art symbol dan Symbol in Art (Langer, 124-139). Dari kedua kategori simbol seni itu maka penerapannya dalam kesenian dibagi menjadi dua pemaknaan yakni simbol diskursif dan simbol presentasional. Simbol diskursif adalah simbol yang pemahaman maknanya dalam seni pertunjukan dibangun oleh berbagai simbol yang teratur dan diikat oleh struktur, sedangkan simbol presentasional adalah simbol yang pemahaman maknanya dalam seni pertunjukan dapat berdiri sendiri. (Sachari, 2002 : 18-19).

Berkaitan dengan hal tersebut, mencoba menemukan simbol diskursif dan simbol presentasional dalam sebuah video clip yang berjudul “TONGTOLANG” aransemen group musik Sambasunda.

Susanne Langer menolak teori Plato yang mengatakan seni adalah tiruan (mimesis) dari alam. Baginya, karya seni merupakan suatu bentuk ciptaan yang berbeda dari realitas kehidupan sehari-hari, namun mirip (semblance). Perbedaan yang mengandung kemiripan berasal dari kreativitas seniman. Sejalan dengan itu dalam kajian makna simbol, Langer membagi simbol seni dengan dua kategori, Art symbol dan Symbol in Art (Langer, 124-139).

Dari kedua kategori simbol seni itu maka penerapannya dalam seni pertunjukan dibagi menjadi dua pemaknaan yakni simbol diskursif dan simbol presentasional. Simbol diskursif adalah simbol yang pemahaman maknanya dalam seni pertunjukan dibangun oleh berbagai simbol yang teratur dan diikat oleh struktur, sedangkan simbol presentasional adalah simbol yang pemahaman maknanya dalam seni pertunjukan dapat berdiri sendiri (Sachari, 2002 : 18-19).

Simbol diskursif adalah berbagai simbol yang teratur dan diikat oleh struktur seperti musik, syair, dan visual dalam video clip tongtolang, sedangkan simbol presentasional adalah simbol yang pemahaman maknanya dalam seni pertunjukan dapat berdiri sendiri atau terdiri dari syair, musik, dan visual yang memiliki arti tetap untuk digabung berdasarkan aturan tertentu dan juga tidak dapat diuraikan. Unit yang dimaksud adalah keseluruhan elemen dalam video clip Tongtolang Sambasunda.

Kreativitas merupakan imaji seniman dari hal-hal yang tidak imajiner (material). Maka, karya seni berbeda dengan realitas, karena melibatkan imajinasi seniman. Sekalipun pada karya yang tidak mengandung unsur peniruan terdapat imaji murni. Proses simbolisasi dari imajinasi seniman inilah terjadi proses abstraksi (ada proses pemisahan diri dari keberadaannya yang aktual dan memiliki konteks berbeda), sehingga karya seni disebut sebagai simbol ( Langer dalam Ritter Willy dkk, 2013:6).

Semua bentuk dalam seni merupakan bentuk yang diabstraksikan untuk membuatnya lebih tampak secara keseluruhan, dan dilepaskan dari penggunaan sehari-hari, untuk diletakkan sebagai penggunaan baru sebagai simbol yang bersifat ekspresif bagi perasaan manusia. Dalam karya yang mengandung makna simbolik perasaan yang dieskpresikan dalam seni bukanlah perasaan yang asli, melainkan gagasan terhadap perasaan asli tersebut. Oleh karena itu disebut simbolik ( Langer dalam Ritter Willy dkk, 2013:6).

Ciri khas karya seni bagi Susanne Langer adalah adanya virtualitas, karya seni hanya digunakan untuk penglihatan. Susanne Langer menjelaskannya dengan contoh pengunaan cermin : dapat melihat diri  maupun ruang yang di tempati di cermin, namun tidak dapat menyentuhnya. Hal demikian disebut virtualitas, atau ilusi. Karya seni adalah imaji karena ditangkap melalui imajinasi.

Karya seni adalah obyek virtual karena hadir untuk indera penglihatan. Karya seni adalah ilusi, karena meskipun indera penglihatan menangkap bentuknya, tetapi tidak menyentuh wujudnya. Bentuk virtual karya seni merupakan bentuk yang hidup (living form). Disebut bentuk yang hidup karena mengekspresikan kehidupan, pertumbuhan, gerak, dan sebagainya. Seni sebagai bentuk yang hidup dapat ditemukan dalam segala jenis kesenian. Contohnya video clip Tongtolang Sambasunda yang menunjukkan perasaan hidup menjadi bentuk cerita berasarkan syair, ekspresi musik dan visual yang terlihat. Menurut Susanne, seni juga seperti ilmu pengetahuan. Seni membawa isi dunia emosi, namun tidak hanya memberikan kesenangan bagi pengamatnya. Melainkan menanamkan pemahaman (konsepsi keindahan) bagi pengamat ( Ritter Willy dkk, 2013:6). Hal tersebut terbangun dalam simbol diskursif dan presentasional dalam video clip Tongtolang Sambasunda.

Simbol diskursif dalam video clip Tongtolang Sambasunda meliputi musik, syair, dan visual. Karena setiap unsur-unsur tersebut memiliki pola, struktur, dan makna sebagai media ekspresi kreator. Diciptakan melalui kreativitas dan imajinasi seorang kreator. Berikut adalah analisis symbol diskursif :

(*) Sebenarnya nama Sambasunda diambil dari akronim ‘Samba’ dan ‘Sunda’. Samba dalam ruang lingkup budaya Cirebon mempunyai pengertian remaja yang sedang menuju masa ‘puber’. Sedangkan nama ‘Sunda’ diambil dari nama ‘wilayah etnis’ yang terdapat di pulau Jawa, tepatnya di wilayah Jawa Barat. Jadi hakikat Sambasunda diartikan sebagai generasi muda yang penuh semangat moril dalam mengembangkan nilai luhur seni budaya Indonesia (Wawancara 24 Maret 2018).

Diagram Analisis Simbol Diskursif

Musik adalah suatu hasil karya seni berupa bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur pokok musik, yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk atau struktur lagu, serta ekspresi sebagai suatu kesatuan  ( Jamalus, 1988: 1).

Menurut Langer bahwa semua bentuk dalam seni merupakan bentuk yang diabstraksikan untuk membuatnya lebih tampak secara keseluruhan, dan dilepaskan dari penggunaan sehari-hari, untuk diletakkan sebagai penggunaan baru sebagai simbol yang bersifat ekspresif  bagi perasaan manusia.

Dalam karya yang mengandung makna simbolik perasaan yang dieskpresikan dalam seni bukanlah perasaan yang asli, melainkan gagasan terhadap perasaan asli tersebut. Video sebagai media audio visual yang menampilkan gerak, semakin lama semakin populer dalam masyarakat kita. Pesan yang disajikan dapat bersifat fakta (kejadian/ peristiwa penting, berita), maupun fiktif (seperti misalnya cerita), bisa bersifat informatif, edukatif maupun intruksional. Teknik komunikasi baru ini semakin sempurna dengan menggabungkan semua bentuk informasi, teks, audio visual, dan komunikasi internet (Fasya, 2006:257).

Sehingga video clip merupakan sarana komunikasi interaksional simbolik dalam bentuk audio visual yang sangat tepat digunakan sebagai media penyebaran informasi.

Musik Tongtolang Sambasunda merupakan jenis musik yang bergenre reagge. Tetapi disajikan dengan bentuk kolaborasi musik modern dan tradisional. Musik Reggae, jenis musik ini sangat terkenal di kalangan anak muda. Musik Reggae adalah jenis musik yang berkarakter slow, sehingga membuat para pendengarnya akan berjoget irama Reggae. Musik Reggae berasal dari negara Jamaica. Berikut adalah contoh ritmik reggae:

Gambar Ritmik musik reggae
(Partitur: Dokumentasi Anggit Surya Jatnika, 2018)

Keterangan:

Tanda X : merupakan tanda dimana alat instrument dibunyikan.

(*) Bob Marley adalah bintang musik “dunia ketiga” yang berhasil memperkenalkan Reggae lebih universal.

Irama Reggae yang digunakan oleh group musik sambasunda merupakan kolaborasi antara berbagai jenis musik sehingga menciptakan harmonisasi musik yang baru dan indah. Karena di bangun dengan berbagai unsur jenis alat musik, diantaranya:

Jenis alat musik

Alat musik Keterangan

Idiophone

 

Gambar Angklung Arumba
(Foto: Dokumentasi Anggit, 2018)
Alat musik jenis ini menggunakan getaran pada badan alat musik itu sendiri sebagai sumber bunyi. Dalam musik Tongtolang Sambasunda yang termasuk kedalam idiophone adalah angklung dan arumba.

 

Membranophone  

Gambar Kendang
(Foto: Dokumentasi Anggit, 2018)

 

 

Gambar Jimbe
(Foto: Dokumentasi Anggit, 2018)

 

Membranophone adalah jenis alat musik yang  sumber bunyinya berupa membran. Alat musik jenis ini menggunakan lapisan tipis yang dibentangkan secara kuat di salah satu sisinya. Membran ini kemudian digetarkan untuk menghasilkan bunyi, umumnya dengan cara dipukul. Dalam musik Tongtolang Sambasunda yang termasuk kedalam membranophone adalah jimbe dan kendang.

 

Aerophone

 

 

 

Gambar Bansing
(Foto: Dokumentasi Anggit, 2018)

 

Aerophone adalah jenis alat musik lainnya yang menggunakan sumber bunyi berupa udara. Alat musik jenis ini memiliki bagian yang berisi udara. Getaran udara di dalam alat musik inilah yang menimbulkan bunyi. Alat musik jenis ini biasa dimainkan dengan cara ditiup atau dipompa. Dalam musik Tongtolang Sambasunda yang termasuk kedalam aerophone adalah bansing.

 

Elektrophone  

Gambar Elektrik Bass Gitar
(Foto: Dokumentasi Anggit, 2018)

 

Sesuai namanya, alat musik ini menggunakan komponen elektrik sebagai sumber bunyinya, baik sebagai pengendali getaran dan bunyi yang dihasilkan secara keseluruhan maupun hanya sebagai penguat bunyinya saja. Dalam musik Tongtolang Sambasunda yang termasuk kedalam elektrophone adalah bass guitar elektrik.

 

Chordophone

 

 

Gambar Gitar accaustik
(Foto: Dokumentasi Anggit, 2018)

 

 

Gambar Biola
(Foto: Dokumentasi Anggit, 2018)

 

Alat musik jenis ini menggunakan dawai yang dibentangkan secara kuat antara dua titik tertentu. Dawai tersebut kemudian digetarkan untuk menghasilkan suara. Umumnya, alat musik jenis ini memiliki rongga resonansi di bawah dawai-dawainya. Rongga ini berguna untuk memperkuat bunyi yang dihasilkannya. Dalam musik Tongtolang Sambasunda yang termasuk kedalam Chordophone adalah biola dan gitar accoustik.

Dengan menggabungkan seluruh jenis musik tersebut sehingga tercipta harmonisasi musik reagge yang ditunjang dengan scale diatonik, ritmik jimbe dan kendang serta ayunan bass elektrik dan block chord guitar merupakan simbol dari situasi kegembiraan anak-anak dalam bermain (kaulinan barudak) karena lagu Tongtolang merupakan lagu yang berasal dari kawih kaulinan barudak. Kemudian diaransemen oleh grop musik Sambasunda untuk mengangkat simbol budaya folklore  dalam lagu tersebut ke dalam imajinasi kreator hingga menghasilkan instrument musik kolaborasi yang bergenre reggae.

Hal ini selaras dengan pendapat kreator yaitu Ismet Ruchimat bahwa mengaransemen kawih kaulinan barudak Tongtolang Nangka sebagai upaya mencoba kembali mereposisi dengan melihat potensi yang cukup terbuka terutama dari sisi musikalnya, serta hal lain yang bernuansa lebih kekinian. Proses kreatif yang dilakukan dalam mengaransir kawih tongtolang cukup banyak. Dari sisi vocalnya dicoba dielaborasi dengan menggunakan solo vocal bahkan pada saat tertentu mencoba menyisipkan unsur backing vocal group sebagai upaya untuk menghadirkan estetika yang lain, agar sublimasinya juga dapat terlihat.

Hal ini pun tidak terlepas dari kepekaannya ketika melihat potensi individual dari pendukung yang kebetulan seorang Aziz mumpuni untuk melantunkan versi lagu Reggae. Lagu Tongtolang tidak dibawakan sebagaimana aslinya, namun dilakukan perubahan dengan menggunakan sistem voicing chord, menggunakan banyak nada sisipan, serta mengetengahkan beat-beatnya yang lebih bernuansa kekinian khusunya musik Reggae. Adapun alat musik yang digunakan meliputi; angklung, arumba, bass gitar, biola, bansing, jimbe, dan kendang (Wawancara 11 September 2017).

Dengan demikian menjadikan lagu Tongtolang sebagai sarana ekspresi kegembiraan anak-anak bermain dengan teman sebayanya atau bahkan kegembiraan sang “Bapa” yang menikah lagi dengan gadis muda. Hal ini sangat positif karena mengangkat kembali budaya folklore melalui aransement musik kolaborasi yang notabene sangat jarang disentuh oleh nuansa progresif chord dan menggunakan teknik voicing. Hingga tetap membawa nilai dan norma budaya folklore yang terdapat dalam syair lagu Tongtolang melalui gagasan kreatornya.

Analisis kontekstual adalah analisis wacana dengan bertumpu pada teks yang dikaji berdasarkan konteks eksternal yang melingkupinya, baik konteks situasi maupun konteks kultural.

Berikut adalah analisis wacana menurut Langer:

Gambar Notasi Tongtolang Nangka
( Foto: Koleksi dari https://www.google.co.id/search?q=notasi+tongtolang+nangka&dcr=)

Tongtolang nangka adalah nangka yang masih sangat muda, biasanya ukurannya sebesar ibu jari. Dalam syair lagu Tongtolang dapat diinterpretasikan oleh penulis bahwa Tongtolang Nangka adalah gadis yang sangat muda.

Dalam video clip Tongtolang Sambasunda, lagu tidak dibawakan secara utuh, tetapi sebagian menggunakan syair cingciripit. Simbol diskursif dari kawih Tongtolang ini berupa kritik sosial, yang disampaikan dalam bentuk sindiran seorang anak kepada bapaknya. Kemudian nikah lagi dengan istri yang masih sangat muda tanpa meminta ijin dari istri yang pertama (Ibunya). Karena pencipta kawih Tongtola

ng (anonim) menciptakan kawih yang bermuatan kritik sosial, artinya mengajak seluruh masyarakat agar bersama-sama bergotong royong agar mengembalikan khasanah seorang “Bapa” sebagai pemimpin rumah tangga yang baik dan agar perbuatan tidak terpuji seperti yang dicontohkan “Bapa” dalam kawih lagu tongtolang nangka tidak diikuti oleh para anak sebagai generasi penerus dan sebagai calon pemimpin atau membangun rumah tangga kelak.

Hal ini sepadan dengan pendapat Langer bahwa kata-kata simbol kita yang paling akrab dan berguna – biasanya digunakan tidak dari isolasinya, tetapi dalam konsep yang rumit tentang pernyataan peristiwa, lebih dari hal-hal yang spesifik, dan menunjukkan pada fakta-fakta, atau kemungkinannya, maupun juga kemustahilannya: dalam unit yang lebih besar adalah deskripsi serta pernyataan maupun bentuk lain dari wacana (Langer, 2006:143).

Selaras dengan pernyataan Langer tersebut, bahwa syair dalam lagu Tongtolang ini diinterpretasikan dengan hal yang berbeda lewat visualisasinya.

Berkaitan dengan visualisasi sebagai ungkapan seorang seniman dalam mengekspresikan lagu Tongtolang Nangka, penulis membedakannya menjadi dua episode dengan menggunakan analisis visual. Pertama gambaran suasana pedesaan dari keceriaan anak-anak yang sedang bermain, demikian pula kehidupan keluarga yang sedang melakukan rutinitas kegiatannya sebagai masyarakat pedesaan.

Hal tersebut seolah-olah memberi penekanan pada popularitas lagu Tongtolang Nangka telah demikian akrab dengan masyarakat pedesaan. Pada episode ini semua tokoh yang disebutkan dalam lagu Tongtolang Nangka yaitu bapa, ema, dan anak digambarkan sebagai masyarakat pedesaan. Dengan demikian dapat dianalogikan bahwa kawih kaulinan barudak tongtolang nangka merupakan kawih yang diciptakan oleh masyarakat kalangan bawah atau ploretariat menurut Lenin.

Gambar 1 – Menceritakan rutinitas masyarakat di pedesaan (mencuci pakaian) pada menit 00:00:26.
Gambar 2 – Menceritakan kegiatan bermain anak-anak di pedesaan (mencuci pakaian) pada menit 00:00:56.

Dari gambar 1 dan 2, terlihat bahwa aktivitas warga sedang melakukan kegiatan rutinitas sehari-hari yaitu mencuci pakaian di pinggir sungai dan biasanya dilanjutkan dengan mandi di pinggir sungai terlihat dari pakaian samping yang dikenakan para gadis desa dalam video clip Tongtolang tersebut. Terlihat pula ada seorang anak yang sedang bermain air atau berenang di sungai tersebut, seperti anak desa pada umumnya di jaman dahulu.

Dari gambar 2 terlihat bahwa ada seorang anak yang sedang menjahili sebayanya. Bisa saja yang dijahili tersebut adalah temannya atau bahkan saudara kandungnya. Karena dalam video clip tersebut terlihat seorang wanita yang sedang menegur perbuatan anak yang jahil tersebut. Mungkin wanita itu adalah ibu dari anak yang jahil atau bahkan ibu tersebut merupakan orang tua dari anak yang dijahili.

Di dalam adegan ini kreator ingin mengkomunikasikan rutinitas sehari-hari warga pedesaan melalui komunikasi visual. “Komunikasi visual adalah komunikasi yang menggunakan bahasa visual, dimana unsur dasar bahasa visual (yang menjadi kekuatan utama dalam penyampaian pesan) adalah segala sesuatu yang dapat dilihat dan dapat dipakai untuk menyampaikan arti, makna, atau pesan”. (Kusrianto, 2007:10).

Gambar 3 – Menceritakan rutinitas seorang ibu yang sedang menegur anaknya yang nakal pada menit 00:01:07.
Gambar 4 – Menceritakan rutinitas warga yang berada
di pekarangan rumah pada menit 00:01:48.

Pada gambar 3 terlihat ibu sedang mengejar-ngejar anak yang jahil tersebut untuk memberikan teguran kepadanya agar tidak mengulangi perbuatannya.

Kemudian pada gambar 4 terlihat dua orang laki-laki sedang berdiri di halaman rumah. Yang sedang memegang kertas adalah dawala dan yang satu lagi sedang menunjuk semar adalah gareng atau anak bungsu dari semar yang terlihat marah dan menunjuk ke arah semar atau ayahnya yang baru saja menegurnya ketika gareng sedang berada di atas atap rumah. Sambil marah terhadap ayahnya divisualisasikan dengan gambar semar dan uang koin, mungkin gareng menganalogikan ayahnya adalah celengan semar dalam meluapkan emosinya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam adegan 1, 2, 3 , dan 4 menjelaskan rutinitas kegiatan masyarakat di desa yang menganalogikan bahwa kawih kaulinan barudak Tongtolang merupakan kawih yang berasal dari desa sehingga digambarkan dalam adegan tersebut.

Tetapi terdapat pesan moral yang disampaikan seperti pada lagu tongtolang, namun pesan moral di episode pertama ini adalah ketika anak sudah melenceng dari norma dan tatakrama, maka orang tua harus menegurnya agar tidak mengulangi perbuatan tersebut. Sebuah simbol seni tidak menandai sesuatu, namun hanya mengartikulasikan dan menyajikan kandungan emosi; karena itu impresi tertentu yang selalu mengejar perasaan tersebut, berada dalam bentuknya yang menyatu dan indah (Langer, 2006:147).

Gambar 5 – Menceritakan rombongan Rama besarta
Sinta (gadis muda) melewati pedesaan pada menit ke 00:02:14.

Pada gambar 5 terlihat bahwa rombongan pria dan gadis yang mengendarai kuda melewati pedesaan. Divisualisasikan terlihat ada dua orang gadis desa yang sedang menumbuk padi di salah satu saung. Gadis yang mengenakan kuda tersebut adalah tokoh Sinta, yang nantinya menjadi istri muda dari Bapa (Rahwana).

Rombongan kuda tersebut merupakan transisi dari episode pertama ke episode kedua yang berbeda latar dan tokoh. “Transisi adalah jenis pengulangan yang disertai perubahan-perubahan dekat secara teratur, runtut, terus menerus, seperti sebuah aliran yang mengalir” (Sanyoto, 2009:182).

Adapun dalam episode kedua menampilkan suasana kerajaan yang dalam hal ini mengumpamakan tokoh bapa sebagai Rahwana yang ingin memiliki istri keduanya dengan cara paksa yaitu dengan menculik Dewi Sinta.

Gambar 6 – Menceritakan Rahwana (sosok Bapa) akan menjumpai anak dan istrinya pada menit ke 00:02:34.
Gambar 7 – Menceritakan keadaan emak dan anak-anaknya pada menit ke 00:02:38.

Sosok manusia memang memberikan kekuatan daya tarik sebagai simbolisasi. Hal ini dikarenakan “manusia memiliki banyak bahasa visual dari fisiknya sehingga bahasa tubuh manusia menjadikannya begitu ekspresif” (Vihma, 2009:38).

Terlihat seorang Bapa (Rahwana) yang mengunjungi rumahnya. Kemudian melihat isteri dan anak-anaknya. Namun dalam adegan ini terlihat imajinasi kreator bahwa tokoh Bapa di sini adalah seorang raja yang sudah berkeluarga kemudian memiliki keturunan yang banyak. Divisualisasikan pada adegan 6 dan 7. Hal ini sesuai dengan pernyataan Langer bahwa karya seni bukan merupakan mimesis, tetapi merupakan hasil imajinasi kreativitas kreatornya.

Gambar 8 – Menceritakan ekspresi Rahwana (sosok Bapa)
Yang melihat istri dan anak-anaknya pada menit ke 00:02:40.
Gambar 9 – Menceritakan Rahwana (sosok Bapa)menculik Sinta (gadis muda) di hutan pada menit ke 00:03:57

Karena birahi seorang raja tidak terbendung, akhirnya menculik gadis muda yang sedang dalam perjalanan tersebut digambarkan dalam adegan 9 yang kemudian untuk dijadikan isteri mudanya.

Gambar 10 – Menceritakan Rahwana (sosok Bapa) membawa sinta
(gadis muda) ke kahyangan untuk dinikahi pada menit ke 00:04:16.

Warna langit biru menjadi simbol dari kebenaran, kebaikan, keteguhan, dan kejujuran yang dicari raja. “Karena dihubungkan dengan langit, yakni tempat tinggi para dewa, surga, kahyangan, biru melambangkan keagungan, keyakinan, keteguhan iman..” (Sanyoto, 2009:49).

Bapa yang digambarkan dalam karakter Rahwana telah mencapai titik kesempurnaan hidupnya, yaitu berhasil memperjuangkan cintanya dengan berbagai cara termasuk menculik Shinta (gadis muda) yang menjadi isteri keduanya hingga melakukan perlawanan terhadap burung Jatayu yang akan menyelamatkan Shinta. Hal ini sepadan dengan pendapat Jakob Sumardjo bahwa manusia jatuh ke atas, yakni menentang atau menyangkal kebenaran yang selama ini dianutnya, dan mulailah ia berjuang untuk menemukan “jalan ke atas”itu. Ketika ia jatuh, sebenarnya ia sedang naik, Paradoks (Jakob Sumardjo dalam Yudiaryani, 2017:3-4).

Terlepas dari rasa keberatan keluarga baik itu dari anak dan isterinya,  Bapa telah jatuh ke dalam dunia poligami, tetapi sekaligus dia naik ke atas memperjuangkan dan mendapatkan dambaan hati barunya.  Dalam keseluruhan adegan video clip Tongtolang tersebut disajikan dengan beberapa adengan humor, yang menyimbolkan keceriaan anak-anak dalam memainkan kawih kaulinan barudak, keceriaan suasana hati Bapa yang mendapatkan isteri muda dan menceritakan kronologi semua pemain dalam syair lagu Tongtolang dalam analogi animasi cerita Ramayana.

            Simbol presentasional adalah simbol yang pemahaman maknanya dalam seni pertunjukan dapat berdiri sendiri. (Sachari, 2002 : 18-19). Simbol presentasional dalam video clip tongtolang sambasunda merupakan seluruh rangkaian simbol diskursif dalam video clip tongtolang Sambasunda, seperti tabel berikut:

Diagram Analisis Simbol Presentasional

Karena makna simbol presentasional tidak dapat berdiri sendiri dan merupakan keseluruhan unit  dalam video clip Tongtolang Sambasunda, maka seluruh rangkaian simbol diskursif baik itu syair, musik, dan visual hingga membentuk suatu cerita yang bermuatan nilai-nilai budaya folklore melalui imajinasi Ismet Ruchimat. Nilai merupakan persoalan mendasar yang berkaitan dengan etika (kebaikan), kebenaran (logika), dan estetika (keindahan), disamping keadilan, kebahagiaan, dan kesenangan. Hal ini akan menyangkut subjektivitas dan objektivitas, budaya kontekstual dan esensi universal (Sumardjo, 2000: 142).

Kemudian di dukung dengan kreativitas musik kolaborasi Sambasunda yang bergenre reggae, sehingga menyempurnakan penyampaian pesan kepada masyarakat. Kreativitas berkaitan dengan karya-karya tak hanya dalam seni melainkan sampai dengan seluruh ‘karya-karya’ kehidupan sehari-hari. Karya yang paling sederhana sekalipun memerlukan kreativitas (Trenggana, 2005: 277).

Dari video clip Tongtolang tersebut muncul imajinasi kreator yang menceritakan bahwa sosok Bapa dalam video clip tersebut adalah seorang raja (Rahwana). Hal ini tentu paradoks dengan cerita dari isi syair lagu Tongtolang. Dalam syair lagu Tongtolang bahwa sosok Bapa adalah dari kalangan ploretariat yang hidup dalam keadaan sengsara.

Dengan demikian dapat diidentifikasi bahwa Ismet Ruchimat ingin mengkomunikasikan budaya folklore kepada publik melalui karya imajinasinya, bahwa kejadian seperti yang di gambarkan dalam syair lagu Tongtolang bukan hanya terjadi pada kalangan masyarakat bawah (ploretariat) tetapi dapat terjadi di kalangan atas (Borjue) yang di gambarkan Raja dalam video clip Tongtolang Sambasunda. Sehingga keseluruhan elemen yang ada dalam video clip Tongtolang Sambasunda adalah hasil dari kreativitas dan imajinasi yang menggambarkan fenomena poligami di masyarakat, kemudian divisualisasikan dengan tokoh Rahwana (Bapa) yang paradoks.

Hal ini sepadan dengan pendapat Jakob Sumardjo bahwa manusia jatuh ke atas, yakni menentang atau menyangkal kebenaran yang selama ini dianutnya, dan mulailah ia berjuang untuk menemukan “jalan ke atas”itu. Ketika ia jatuh, sebenarnya ia sedang naik, Paradoks (Jakob Sumardjo dalam Yudiaryani, 2017:3-4).

Video clip Tongtolang Sambasunda, menceritakan suasana anak-anak yang bermain di pedesaan  atau bahkan menceritakan ‘Bapa’ yang menikah lagi dengan gadis muda. Kemudian syair lagu Tongtolang dalam video clip Sambasunda merupakan paradoks, karena ‘Bapa’ digambarkan dalam sosok raja (Borjue) sedangkan ‘Bapa’ dalam syair lagu aslinya merupakan masyarakat ploretariat.

Visual video clip Tongtolang Sambasunda di gambarkan dalam dua episode.  Episode pertama divisualisasikan dalam situasi pedesaan yang memperlihatkan anak-anak sedang bermain dan rutinitas warga pedesaan, karena lagu tongtolang merupakan lagu kaulinan barudak yang berasal dari pedesaan (ploretariat). Episode kedua divisualisasikan dalam kerajaan yang menggambarkan peristiwa poligami yang dilakukan oleh raja (Rahwana). Hal ini tentu paradoks dengan makna syair lagu Tongtolang.

Video clip Tongtolang Sambasunda jika dilihat secara keseluruhan merupakan karya imajinatif yang paradoks dengan makna lagu Tongtolang. Dibangun melalui ekspresi bahagia musik reggae, syair yang menceritakan poligami, dan visualisasinya yang menceritakan peristiwa poligami dalam suatu kerajaan. ‘Bapa’ dalam video clip Tongtolang Sambasunda adalah tokoh paradoks. Karena dia jatuh ke dalam dunia poligami dan melawan segala sesuatu yang menghalangi niatnya hingga dia berhasil mendapatkan gadis muda pujaannya.

 

Daftar Pustaka

  • Jalamus. 1988    Panduan  Pengajaran  buku  Pengajaran  musik  melalui  pengalaman musik. Proyek pengembangan Lembaga Pendidikan. Jakarta
  • Langer, Susanne K. Philosopy in A New Key Feeling and Form Problem of Art, New York : Charles Scribnerr’s
  • Kuntowijoyo. 1987    Budaya dan Masyarakat, Yogyakarta : Tiara Wacana
  • Kusrianto, Adi. 2007    Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: Penerbit Andi.
  • Ritter Willy, dkk. 2013    Estetika Abad ke-20 Susanne K Langer, Universitas Media Nusantara
  • Sanyoto, Sadjiman Ebdi. 2010   Nirmana: Elemen-elemen Seni Rupa dan Desain. Yogyakarta: Jalasutra.
  • Sudjana, Nana. 1978    Media Pengajaran. Surabaya: Pustaka Dua.
  • Sumardjo, Yakob. 2000   Filsafat Seni. Bandung: Penerbit ITB.
  • Sumarlam, dkk. 2003   Teori dan Praktik Analisis Wacana.   Surakarta : Pustaka Cakra.
  • Teuku, Kemal Fasya. 2006    Kata & Luka Kebudayaan: Isu-isu Gerakan Kebudayaan & Pengetahuan Kontemporer. 
  • Trenggana, Ida Manu. 2005    Seni Pertunjukan Indonesia: Menimbang Pendekatan Etnik Nusantara. Tesis tidak diterbitkan. Surakarta : Sekolah Tinggi Seni Indonesia.
  • Vihma, Susann. & Vakeva, Seppo. 2009    Semiotika Visual dan Semantika Produk. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.
  • Yudiariyani. 2017    Karya Cipta Seni Pertunjukan. Yogyakarta: JB PUBLISHER

DAFTAR NARASUMBER

  • Nama               : Dr. Ismet Rochimat, S. Kar., M.Hum.
  • Umur               : 49 tahun
  • Pekerjaan         : PNS (Dosen ISBI Bandung)
  • Alamat             : Jl. Pangampaan No. 37A Kec. Lengkong, Kota Bandung Barat, Jawa Barat

(*)Artikel ini ditulis oleh Anggit Surya Jatnika.

 

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *