Data CIA Berbeda, Adakah Sejarah PKI yang Disembunyikan?

Terasjabar.co – Intelijen CIA memantau perburuan Komunis oleh tentara seminggu setelah G30S/PKI. Data tanggal penangkapan Letkol Untung sama, tapi soal DN Aidit berbeda, mengapa bisa? Ini penjelasannya.

Berbagai buku sejarah mencatat Letkol Untung tertangkap di Tegal pada 11 Oktober 1965, lalu diadili di Jakarta dan dieksekusi mati beberapa waktu kemudian. Sementara DN Aidit seperti misalnya ditulis dalam Sukarno Files oleh Antonie CA Dake disebutkan tertangkap di Solo pada 22 November 1965 dan ditembak mati tanpa diadili.

Uniknya, CIA punya versi berbeda untuk DN Aidit. Hal ini bisa dilihat dari dokumen CIA bertajuk The President’s Daily Brief yang kini bisa diakses publik di situs perpustakaan digital CIA. Seperti dilihat Teras Jabar, Rabu (27/9) “The President’s Daily Brief” adalah laporan intelijen CIA setiap hari termasuk tentang Indonesia kepada Presiden AS.

Dari situ kita bisa membaca, seminggu setelah G30S/PKI, terjadi perburuan Komunis oleh Angkatan Darat melibatkan berbagai ormas. PKI tiarap di mana-mana, unjuk rasa anti-Komunis pecah. CIA menyebut tentara sudah membuat pemerintahan bayangan.

Tokoh-tokoh yang terlibat G30S/PKI pun ditangkapi. Dalam laporan tanggal 12 Oktober 1965, CIA menyebutkan Untung telah tertangkap. Laporan ini atas kejadian sehari sebelumnya, berarti datanya klop. Karena, Untung ditangkap tanggal 11 Oktober 1965.

Yang menarik adalah, ternyata CIA menyebutkan kalau DN Aidit ditangkap tentara dalam laporan tanggal 15 Oktober 1965. Artinya, peristiwa penangkapannya tanggal 14 Oktober 1965. Ini beda jauh dengan berbagai referensi sejarah lain yang menyebutkan Aidit tertangkap pada 22 November 1965 dan langsung ditembak mati.

“Pemimpin utama Komunis Aidit telah (KALIMAT DISENSOR) dilaporkan ditangkap AD. Ada indikasi bahkan elemen pro-Komunis di sekitar Sukarno mencoba menjadikan Aidit sebagai kambing hitam untuk skandal 30 September,” demikian kutipan laporan CIA yang dibaca Teras Jabar.

Apakah intelijen CIA salah data? Reputasi agen rahasianya terkenal bisa memberikan informasi akurat. Atau, ada babak cerita yang kita tidak tahu? Bagian kalimat disensor pun membuat infonya tidak utuh.

Berikut ini adalah laporan CIA dari tanggal 9-15 Oktober 1965 yang diterjemahan dengan format paragraf sesuai aslinya. Tulisan ‘Disensor‘ artinya bagian itu disensor dalam dokumen aslinya:

9 OKTOBER 1965

AD tetap kuat di Jakarta dan dengan segala penampilannya dianggap bisa menekan Komunis.

Kebanyakan Komunis tiarap dan AD menyadari belum menyentuh aparat Komunis yang dipersenjatai. Sweeping senjata api terus dilakukan. Mereka menemukan senjata api dalam beberapa hari terakhir. (KALIMAT DISENSOR).

Sambil ini berlangsung, Sukarno menjaga diri, tanpa ragu menunggu AD yang marah kembali ke jalurnya.

(PARAGRAF DISENSOR)

11 OKTOBER 1965

Kembalinya Sukarno ke Jakarta belum memperlambat gerakan AD melawan Komunis.

(PARAGRAF DISENSOR)

(KALIMAT DISENSOR) sejumlah pengunjuk rasa anti-Komunis (KALIMAT DISENSOR) lanjut menyerang dan membakar kantor, toko buku dan rumah Komunis.

Situasi ini bisa berubah radikal kalau Sukarno memutuskan memulihkan otoritasnya dan memaksa konfrontasi.

(PARAGRAF DISENSOR)

Konfrontasi akhirnya memunculkan nama pengganti Panglima yang terbunuh. Pada jenderal AD dilaporkan sepakat mengusulkan hanya satu nama -Jenderal Suharto- sebagai pilihan mereka. Masih perlu dilihat apakah mereka tetap dengan posisinya atau apakah Sukarno bermanuver untuk menerima seseorang yang cocok dengan kehendaknya.

12 OKTOBER 1965

Penumpasan Komunis berlanjut meski Sukarno mencoba mengalihkan perhatian terhadap musuh neo-kolonialisme.

Di Jakarta, pengunjuk rasa menyerang markas front Komunis perempuan dan merusak rumah wakil ketua PKI. Lebih penting lagi, Kolonel Untung, pemimpin Gerakan 30 September ditangkap AD (KALIMAT DISENSOR). Dekrit baru telah menutup beberapa institusi ‘pendidikan’ yang didominasi komunis.

Sukarno, masih kuat. Dia berbicara dengan banyak pemimpin politik mengatakan ini propaganda Barat melawan Komunis. (KALIMAT DISENSOR)

13 OKTOBER 1965

(PARAGRAF DISENSOR)

Sukarno melanjutkan rencana membuat Konferensi Anti Pangkalan Militer Asing hari Sabtu. Dia akan berpidato di sana.

Unjuk rasa kelompok Muslim terjadi di Jakarta hari ini. Kali ini melawan markas pemuda Komunis. Ada perusakan sebelum aksi dibubarkan tentara penjaga istana Presiden Sukarno.

14 OKTOBER 1965

Sekarang ada 2 pemerintahan di Indonesia. Satu dipimpin Sukarno dan satu lagi dipimpin para Jenderal.

Para jenderal tidak mengendalikan Sukarno dan sebaliknya. Faktanya, dua elemen ini hadir saling membutuhkan, demi menghindari perang saudara. AD melihat nama Sukarno berguna untuk melakukan aksi di belakang. Sukarno tidak bisa mengabaikan para jenderal sampai dia bisa membangkitkan Komunis dan kembali ke permainan lamanya mengadu satu sama lain.

Hari ini para jenderal unggul ketika Sukarno mengumumkan penunjukan Jenderal Suharto sebagai Panglima AD. Para jenderal bersikukuh soal ini. Untuk bagian ini, Sukarno lagi-lagi mengatakan bahwa dia dan hanya dia yang akan mencari solusi politik. Para jenderal enggan mengikuti cara dia.

Untuk Komunis, mereka percaya konferensi melawan pangkalan militer di Jakarta hari Sabtu bisa jadi kesempatan untuk menyelamatkan posisi mereka. Setidaknya, membri Sukarno dasar untuk mengembalikan garis kebijakan domestik dan luar negerinya.

Para jenderal enggan mengganggu kebijakan luar negeri Sukarno, (KALIMAT DISENSOR).

15 OKTOBER 1965

AD terus melawan Komunis Indonesia.

Jenderal Sukendro, satu-satunya yang selamat dari brain trust (read:kelompok pemikir) AD setelah pembunuhan 30 September, mengatakan kepada pejabat Amerika kemarin bahwa dia pikir situasi cukup baik. Dia mengakui, pertanyaan besar apakah AD bisa memberantas Komunis dengan Sukarno yang merasa keberatan.

Sukendro bicara soal situasi di Jawa Tengah dimana unit AD bingung dengan babak awal upaya kudeta dan di sana Komunis tetap kuat.

Pemimpin utama Komunis Aidit telah (KALIMAT DISENSOR) dilaporkan ditangkap AD. Ada indikasi bahkan elemen pro-Komunis di sekitar Sukarno mencoba menjadikan Aidit sebagai kambing hitam untuk skandal 30 September.

Aksi rusuh terjadi kemarin dan berganti sasaran dengan merusak universitas di Jakarta yang dikelola oleh warga Tionghoa. Meskipun universitas ini pro-Beijing, dari serangan ini bisa dianggap sama kalau kelompok anti-China adalah juga kelompok anti-Komunis. Kedubes Komunis China rumornya jadi target rusuh, lantas dijaga AD. Komandan AD di Jakarta meminta pelaku rusuh berhenti merusak.

 

Adakah catatan sejarah yang disembunyikan, atau data CIA dengan reputasi agen mumpuni itu salah? (red)

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *